Berteriak dalam Senyap

Mengarungi Timur dari Barat di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Terutama saat jam pulang kantor. Ketidakmudahan serta risiko telat sampai di tempat tujuan tidak menghalangi saya, teman-teman kantor, dan teman penulis, Myra, untuk nonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yaitu Senyap. Dan saya pikir, ini satu-satunya film dimana saya begitu niat untuk melihat sehingga hujan pun diterabas.

Senyap adalah film yang menceritakan kisah tragis pembantaian komunis di Indonesia pada tahun 1965-1966. Tahun lalu, Oppenheimer menggemparkan masyarakat Indonesia dengan film dokumentasi dengan tema yang sama yaitu Jagal (The Act of Killing). Jagal bercerita tentang pembantaian dari sisi pembunuh, sementara Senyap bercerita dari sisi keluarga korban pembantaian.



Bercerita tentang Adi Rukun, seorang adik dari  Ramli--kakaknya yang dibunuh, yang mencari siapa yang bertanggung jawab di balik pembantaian tahun 1965. Meskipun Adi lahir setelah kakaknya dibunuh, Adi dibebankan oleh orang tuanya bahwa ia lahir untuk menggantikan Ramli. Walaupun ia tidak melihat kejadiannya saat Ramli datang ke rumah dengan usus keluar dan punggung berlubang akibat tusukan-tusukan, namun hidup di bawah ketakutan dan penuh pembatasan karena statusnya sebagai "orang-orang yang disingkirkan" itu menghantuinya. Contoh pembatasan itu adalah para penyintas yang mendapatkan cap komunis tidak boleh membeli sepeda motor, mereka hanya boleh mengendarakan sepeda.

Oppenheimer menemukan Adi saat ia membuat film dokumenter The Globalisation Tapes pada tahun 2000 di sebuah perkebunan kelapa sawit. Meski banyak korban pembantaian, Ramli adalah korban yang memiliki beberapa saksi sehingga sering dibicarakan. Oleh karena itu, Oppenheimer memutuskan untuk menggali lebih jauh tentang Ramli karena ini merupakan bukti suram sejarah Indonesia.

Adi menemui beberapa orang yang bertugas sebagai komando tentara sipil yang melakukan pembantaian. Hal yang paling mengerikan adalah orang tersebut kini berada di bangku pemerintahan. Adi juga menemui pamannya sendiri yang pernah bertugas menjaga penjara tahanan komunis. Sang paman secara tidak langsung juga terlibat dalam pembantaian. Orang-orang yang ditemui Adi menyangkal bahwa mereka bertanggung jawab. Jangankan untuk menyesali atau meminta maaf, mereka anggap diri mereka pahlawan!

Sama seperti Jagal, film ini juga diperlihatkan bagaimana para jagal membunuh orang-orang. Selain ditusuk, digorok, dikerat, alat kelamin para komunis atau orang yang dituduh komunis juga dipotong. Pada jagal mereka ulang bagaimana korban harus menungging dan kelamin mereka dipotong dari bokong. Bahkan ada salah satu dari mereka yang meminum darah korban. Sang anak penjagal, dengan bodoh dan polosnya berkata, "Mungkin itu yang membuat bapak sehat hingga sekarang."

Menjijikan. Di mana hati nurani mereka? Tidakkah mereka merasa kasihan saat menyakiti orang lain? Pikiran manusia bisa betul-betul kejam.

Kurang dari satu tahun, pemerintah Indonesia membantai satu juta orang. Pemerintah Orde Baru membantai para anggota serikat buruh, serikat tani, dan orang-orang yang setuju bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia harusnya digunakan untuk keuntungan rakyatnya sendiri, bukan orang asing. Pemerintah juga menumpas para petani miskin yang tidak punya tanah karena mereka yakin bahwa komunisme harus ditumpas hingga akar-akarnya.

Saya pikir, brainwash saat Orde Baru itu benar-benar hebat. Apalagi masyarakat sudah dipapar bahwa komunis adalah hal yang harus disingkirkan itu selama puluhan tahun, melalui semua lini termasuk buku pelajaran. Begitu mengakar sehingga mana yang salah dan mana yang benar sudah tidak bisa dipertanyakan. Seperti yang ditunjukkan dalam adegan keluarga pembantai yang menolak untuk melihat video ayah mereka membuat buku dokumentasi pembantaian. Mereka minta agar hal ini dilupakan bahkan menganggap pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh kru film itu menganggu.

Sementara Adi, dengan siapapun ia berhadapan, hanya mampu bertanya untuk mencari kebenaran dan untuk mengeluarkan para keluarga korban dari kesenyapan. Pria yang berprofesi sebagai tukang kacamata ini tidak menunjukkan emosi marah. Beragam penyangkalan yang ia temukan. Bibirnya terus mengatup, kadang bergetar, matanya berkaca-kaca. Mencoba menahan emosi agar tidak keluar.

No comments: