Questioning God

Dalam beriman kepada Tuhan, sebagian dari kita mengalami jalan yang naik turun. Pertanyaan-pertanyaan kepada sesuatu yang abstrak itu mengemuka dan mengarahkan pada ragu. Jawaban tidak langsung ditemukan dengan mudah. Keraguan bisa saja berubah menjadi keenganan bahkan kemuakkan jika kita bertemu dengan kaum agamawan atau seseorang yang membawa atribut agama namun berperilaku tidak sesuai ajaran. Ilfeel, singkatnya.

Mempertanyakan agama dan Tuhan adalah hal yang tabu di negara yang mayoritas penduduknya beragama ini. Belum apa-apa sudah dicap kafir. Saya pernah dihardik, "Jangan banyak tanya. Ikuti skenario yang sudah ada saja!" oleh senior di kampus yang agamais saat bertanya tentang Tuhan. Kemudian banyak sekali rutinitas keagamaan yang saya ikuti agar bisa lulus mata kuliah dasar. Banyak sekali aturan. Bisakah saya cinta Tuhan apa adanya, tanpa aturan, tanpa batasan?

Keraguan dan kebingungan itu seharusnya berdampingan dengan orang yang membimbing dan terbuka, bukan dengan orang-orang religus yang begitu mudah menghakimi. Juga perkenalan dengan seorang ikhwan yang mencitrakan diri begitu baik tapi ternyata doyan seks dan gemar kirim sms bertendensi seksual. Cis! Jika dalamnya sebusuk ini, bagaimana saya bisa memandang mesra sebuah agama?

Saat kuliah, saya membaca buku Menalar Tuhan (2006) karya Franz Magnis Suseno. Di situ, ia menulis bahwa tidak ada yang salah dari menalar Tuhan. Dengan menalar, kita justru lebih aktif untuk meresapi Tuhan dan ajarannya, ketimbang mereka yang pasif atau menerima begitu saja. Justru jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diri membawa kita pada sebuah kebenaran hakiki.

Ayu Utami adalah salah satu penulis yang mengalami naik turunnya keimanan. Bedanya, ia berbagi dalam karyanya seperti di buku Pengakuan: Eks Parasit Lajang (2013) dan buku Spiritualisme Kritis (2014). Begitu tahu akan ada diskusi tentang spiritualisme kritis di Museum Gajah tanggal 6 November lalu, saya memutuskan untuk datang.

Buku Spiritualisme Kritis bercerita tentang pengalaman-pengalaman sederhananya dalam mengalami hal-hal yang tidak bisa ditalar oleh pikiran. Ia berkata, "Kita terlalu percaya dengan sesuatu yang nalar. Seolah-olah segala sesuatu itu harus dijelaskan dengan nalar, padahal kita tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara nalar."

Jika berbicara tentang spiritual, biasanya orang-orang terbagi dalam dua kubu. Pertama, kubu yang mencari hal-hal spiritual. Kedua, kubu yang menggunakan hal-hal spiritual yang tidak bisa diverifikasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia atau hasrat duniawi seperti orang pergi ke dukun atas nama spiritualitas untuk disayang mertua, disayang atasan, atau mencapai kesuksesan. Bagi Ayu, itu bentuk spritualitas yang tidak bagus karena tidak membebaskan manusia dari hasrat-hasrat duniawi, tapi justru memakai yang spiritual untuk memuaskan dorongan-dorongan duniawi. "Kebutuhan duniawi itu harus dipenuhi dengan cara-cara duniawi yang bisa diukur. Itu lebih bertanggung jawab," tegasnya.

Pada usia 30-40 tahun, Ayu mulai kembali membuka kitab dan membaca kembali dengan lebih kritis. Ia menemukan, selain hal-hal buruk seperti represi terhadap perempuan, agama juga memiliki hal-hal yang baik. Ia menjelaskan, "Di zaman-zaman tertentu, agama memelihara kesenian dan pikiran, filsafat, solidaritas, dan bela rasa. Kalau bicara pengetahuan, itu hanya berlaku untuk orang pintar. Kalau orang yang tidak pintar atau IQ-nya di bawah, bagaimana? Biasanya itu dilayani oleh agama, institusi-institusi sosial. Saya membaca kembali lebih kritis, dan di situlah titik saya merumuskan spritualisme kritis."

Terdapat kesejajaran antara spiritualitas dengan kreativitas. Keduanya tidak memakai paradigma berpikir yang sangat legalistis atau hukum. Dunia kreatif itu tidak bersifat perintah dan larangan. "Kalau bicara kreativitas itu kita tidak bicara hukum, batasan, dan larangan. Begitupun dengan spiritualitas. Kita tidak bicara batasan-batasan atau aturan-aturan," papar Ayu.

Misalnya, manusia terkadang melihat doa sebagai kewajiban menyembah Tuhan. Pandangan tersebut bisa menjadi batasan atau definisi. Bahkan seolah-olah tidak ada definisi lain di luar itu. Padahal doa bisa jadi media komunikasi rohani. Ayu menuturkan, "Doa bisa dilakukan oleh orang yang tidak beriman. Pada periode saya, saya tetap berdoa, meskipun saya tidak percaya saya berdoa dengan siapa. Kalau ada anak muda seperti saya dulu yang tidak percaya Tuhan, biasanya mereka tidak percaya Tuhan sebagaimana yang dikatakan oleh agamawan atau guru-guru agama yang dia kenal. Jadi orang semacam ini tetap punya potensi, dia masih terbuka untuk sesuatu yang tidak tahu."

Mari melihat analoginya dengan orang yang melakukan meditasi. Pada saat meditasi, manusia berkonsentrasi, dengan atau tanpa menggunakan objek. Sesungguhnya mereka diajak untuk masuk ke dalam dirinya sendiri. "Ajakan saya, untuk melihat dalam spiritualitas atau kreativitas, jangan pakai pendekatan definisi atau batas. Batasan akan ada sendirinya karena keterbatasan kita. Tapi, pendekatan pertama kita bukan itu," katanya.

Mempertanyakan Tuhan bukanlah hal yang ringan. Di luar agama yang kita anut, mempertanyakan sesuatu yang kita percaya itu menyakitkan. Perlu digarisbawahi, untuk menjadi seorang skeptis sejati juga tidak masuk akal. Ayu memaparkan, "Kalau kamu belajar linguistik, kamu tahu bahwa kata 'botol' dengan benda botol itu tidak ada hubungannya. Kamu bisa menamakannya dengan nama lain, asal ada kesepakatan. Kamu harus percaya bahwa botol itu ya botol. Jadi percaya saja. Antara kata dan konsepnya itu tidak ada penjelasan naturalnya. Karena itu, jika seorang skeptis tidak mau percaya apapun, artinya dia tidak bisa percaya satu katapun."

Intinya, berdasarkan pengalamannya, Ayu ingin mengajak bahwa jika ingin "melawan" agama atau Tuhan, jangan lawan dengan kebencian. Tapi lawan dengan dengan pertanyaan. Karena kita ingin mencari, bukan untuk menutup diri.

Comments

Gilang said…
Tulisannya menarik teh. Saya sendiri senang berdiskusi soal spiritualitas justru dengan kawan-kawan yang mengaku agnostik atau atheis. Karena prespektif mereka terkadang di luar persepsi kita di keseharian walaupun saat berdiskusi yg atheis seolah-olah masi saja percaya Tuhan itu ada tapi tidak perlu dipuja dalam satu institusi agama (malah jd cenderung ke agnostik ya?) kadang memang tidak pernah ada simpulan akhir dalam diskusi kami. Soal kesepakatan nama benda, saya pernah diskusi panjang dengan seorang astronom, seru juga. Saya malah belum pernah baca satupun karya Ayu mungkin suatu hari saya coba baca.
Nia Janiar said…
Iya, kadang pembicaraan kayak gini gak perlu simpulan yang sepertinya memaksakan untuk diterima oleh semua orang. Pengalaman kayak gini bener-bener subjektif. Dan kadang kita kagum dengan jalan pikiran seseorang--tapi bukan berarti setuju.

Popular Posts