Skip to main content

Jelajah Bekas Rawa

Semenjak ranah politik kedatangan (mantan) walikota Solo sebagai pendatang baru yang fenomenal, saya mulai tertarik mengamati politik. Tentu sebagai komentator. Komentator sotoy, lebih tepatnya. Kemudian si pendatang baru ini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Meski saya bukan warga Jakarta, saya ikut senang kalau orang yang portofolionya baik bisa memimpin kota yang saya tinggali sekarang. Jadi memiliki harapan.

Di awal-awal jabatannya, salah satu aksi yang mengundang perhatian adalah ia menggusur warga di sekitar Waduk Pluit. Seharusnya waduk ini berfungsi untuk menyimpan air dan bebas dari pemukiman, namun bibir waduk dipenuhi oleh perumahan sehingga waduk ini mengalami pendangkalan. Otomatis jadi meluber dan banjir di saat hujan. Apalagi area tersebut milik negara dan seharusnya tidak boleh dibangun rumah--baik permanen maupun non permanen.

Jokowi, si pendatang baru itu, berdiskusi dalam sebuah acara makan siang dengan warga sekitar agar mereka mau dipindahkan. Akhirnya mereka pun pindah. Kini kisaran waduk dijadikan taman. Karena sejarahnya yang fenomenal itu, saya jadi penasaran dengan taman kota Waduk Pluit ini. Akhirnya kemarin saya berkesempatan ke sana. Senangnyaa.

Pluit adalah daerah yang saya jarang kunjungi, apalagi dengan angkutan umum. Jauh dari peradaban. Hehe. Kalau tidak ada keperluan, ya untuk apa. Namun Sabtu (18/1), saya harus liputan ke Pantai Indah Kapuk (PIK). Oh, kalau itu saya sudah tahu angkutan umumnya. Ternyata angkot yang saya tumpangi mengambil jalur yang berbeda. Di situ saya tidak sengaja menemukan Waduk Pluit.

Tunggu busnya di sini ya!

Mulanya sepulang liputan, saya mau pergi ke daerah Glodok dengan BKTB TransJakarta. Setelah browsing, ternyata bus ini melewati waduk. Sayangnya menunggu BKTB ini sangat lama. Saya menghabiskan waktu satu jam lebih untuk menunggu. Sebenarnya bisa saja menyerah dan tidak jadi pergi ke waduk. Tapi saya sudah kepalang berada di daerah sini. Jadi saya memutuskan untuk bertahan.

Letak Taman Kota Waduk Pluit tidak jauh dari PIK. Begitu sampai, saya merasa senang. Taman ini begitu tertata, banyak pohon tapi belum rindang. Mungkin karena dijaga satpam dan satpol PP. Pada saat saya ke sana pun ada petugas taman yang sedang memperbaiki rumput. Taman kota ini begitu luas. Ada lapangan basket, amphitheater kecil, jembatan kecil, dan area apungan agar pengunjung bisa berdiri di atas air. Tidak jauh dari situ, ada perahu wisata. Namun sepertinya tidak lagi digunakan.


  


Meskipun hari libur, mesin-mesin pengeruk masih bekerja. Saat saya berada di area apung, ada seorang bapak-bapak. "Lagi apa, Pak?" tanya saya sok kenal. Ia menjawab, "Lagi ukur kedalaman air. Ini kan harus terus dikeruk," ujarnya.



Sebagai informasi tambahan, kata Pluit berasal dari bahasa Belanda yaitu fluitschip atau kapal layar panjang berlunas ramping. Mulanya lahan ini berupa rawa-rawa. Menurut Wikipedia, Pemerintah Hindia Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke sehingga daerah ini mendapat nama Pluit.

Sepulangnya, saya memutuskan untuk naik BKTB TransJakarta. Untungnya tidak memakan waktu lama. Kata bapak-bapak, bus ini ngetem selama 30 menit di halte awalnya yaitu Fresh Market PIK. Saya bisa saja naik angkot atau taksi ke Grogol atau TransJakarta dari Pluit. Tapi saya ingin tahu rute bus BKTB ini.

Saya melewati jalan-jalan yang tidak saya kenal sampai bus ini tembus ke Kota Tua. Jakarta ini sangat luas. Bahkan, mungkin, di setiap inchinya ditinggali oleh orang-orang. Di situ saya berpikir, "Ah, gila ya orang Jakarta. Mereka bisa hidup di mana saja. Termasuk di daerah bekas rawa." Rawa dihabisi, dibangun pemukiman, ditinggali, beranakpinak. Semakin padat, semakin banyak. Antara kagum sekaligus.. ah, entahlah.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…