Skip to main content

Synchronizing

+ I want to get married because I want to be with someone I love forever.
- But people can get along together although they are not married.
+ But I want to build a family. I am not looking for an accompany to sleep.

Beberapa bulan belakangan ini, kami seringkali bertengkar. Kebanyakan pertengkaran disebabkan oleh karakter dan jalan berpikir yang benar-benar berbeda. Bagi saya, dia terlalu cuek, santai, dan kadang tidak berperasaan. Dan bagi dia, saya terlalu negatif dan gemar melebih-lebihkan. Bagi saya, beberapa perilakunya itu salah. Bagi dia, tidak ada yang salah. Sampai akhirnya saya sebal dan muak juga sehingga memutuskan untuk meminta jarak. Mungkin orang lain melihat alasan saya itu mengada-ada. Tapi kalau sudah dijalani lama dan masih sulit untuk dikompromikan, saya butuh jeda (meski hanya sebentar).

Menyesuaikan dua orang itu butuh usaha dan waktu. Kalau komunikasi baik-baik tidak cukup, kadang butuh pertengkaran yang mengeluarkan ego dan keinginan masing-masing dengan keras. Yang paling penting adalah keduanya masih memiliki keinginan untuk berusaha menyesuaikan. Jika salah satu sudah menyerah, hubungan akan berakhir. Atau kalau tetap berjalan, mungkin akan banyak adegan "makan ati" sendiri dan pastinya tidak nyaman. Tentu saya tidak mau hubungan yang seperti itu. Lagipula, jika saya berhubungan dengan orang lain, aktivitas sinkronisasi ini pasti akan berlangsung. Kelemahan atau hal-hal yang tidak kita sukai pada orang lain akan selalu ada.

Diri ini juga harus membebalkan diri dari lingkungan sekitar. Mungkin hubungan orang lain terlihat lebih romantis, atau lebih santai, atau segalanya berjalan mudah.. tapi ya sudahlah, masing-masing hubungan dan individu itu berbeda. Dan orang lain adalah penonton yang pintar menilai. Mereka juga pintar mengambil keputusan seperti "cari orang lain saja." Mudah-mudahan saya tidak buta.

Jadi, di tahun ini, mungkin kami akan merayakan usaha-usaha yang pernah dilakukan untuk menjaga hubungan. Itu patut diapresiasi. Selamat tahun ke-2! Mari kita beri hubungan ini sebuah kesempatan lebih lama karena kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan berkembang. Kalaupun kita diam di tempat, semoga kita selalu bahagia.


Comments

Sundea said…
Nggak pengen banyak komentar, ah.

Pengen peluk Nia aja dan ngedoain setulus-tulusnya, taun ini bakal jadi taun yang baik dan happy buat Nia sama Yanto

(((^^))
Nia Janiar said…
Amiinn.. Thanks Deaa.. :)
mak beL said…
Coincidence. Saya jg bru menulis soal 'hubungan'. Tetap berjuang mba! ;-)
Nia Janiar said…
Hehe, thank youu. Tapi aku mau berjuang berdua ah. Kalo sendiri mah gak mauu :D
neni said…
mungkin hubungan orang lain terlihat lebih romantis dan Santai........

hhmmmm mungkin. krn msg2 hubungan punya tantangan sendiri. tentang perbedaan pandangan msg2, emg susah ya mau di cocokin, tapi akan ada masa setelah sekian bnyk pertengkaran itu, sinkronisasi sgt mgkn terjadi saat salah satu cb ngertiin dan ngikutin jalan pikiran yg lain.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…