Skip to main content

Reguk Pahit Kopi

Mungkin sekitar lima tahun ke belakang, kopi menjadi sebuah gaya hidup. Saya tinggal di Bandung dari kecil. Di kisaran rumah yang begitu strategis, pesat sekali pertumbuhan coffee shop di sini. Dari yang rasanya enak hingga yang rasanya biasa saja. Dari dibuat secara manual brew, hingga dibuat oleh mesin. Dari harganya biasa, hingga mahal.

Kalau bicara produsen kopi, di Bandung ada yang namanya Kopi Aroma. Pabrik kopi ini sudah berdiri dari tahun 1930. Kopi Aroma bukanlah coffee shop yang orang-orang bisa minum, duduk-duduk, dan hangout. Tempatnya murni untuk jual beli kopi, orang datang dan pergi dengan cepat. Produknya juga sudah masuk ke pasar swalayan.

Kemarin saya berkesempatan pergi ke Kopi Es Tak Kie yang ada di kawasan Glodok. Informasi tentang tempat ini saya dapatkan dari teman kantor yang liputan ke sana. Yang membuat saya ingin ke sana adalah kopi, Pecinan, dan--kalau kata si pacar-- adalah faktor "sejak". Saya menyukai hal-hal yang vintage karena untuk bisa berdiri hingga sekarang pasti ada alasannya dan ada nilai selain jualan yaitu nilai sejarah.

Tempat yang kecil dan terletak di tengah pasar membuat toko ini begitu tricky.


Tempat ini betul-betul sebuah restoran dimana orang-orang hanya datang untuk makan. Kursi dan meja terbuat dari kayu yang tegap. Semua orang di sini tampak sibuk hilir mudik dan tempat ini selalu penuh. Jangan harapkan sofa atau WiFi. Jangan harapkan juga pelayan yang lamban dan berbasa-basi menawarkan menu. Begitu masuk, saya langsung ditawarkan, "Mau minum apa? Mau makan apa? Ada nasi campur, bakmi, nasi Hainan?"

Saya pergi ke Kopi Es Tak Kie bersama ketiga orang teman saya. Kami memesan es kopi dan es kopi susu. Saya baru sadar ketika Harry, salah seorang teman, bilang kalau rasa kopi tidak berubah encer walaupun es sudah meleleh. Rupanya air kopi itu dibuat dari pagi hari dan sehingga sudah dingin saat belum diberi es. Pantas saja rasanya tidak berubah. Selain itu juga di gelasnya tidak ada bubuk kopi sehingga orang bisa minum sampai habis.





Baru pukul setengah 11, namun makanan sudah habis. Kami memesan mi ayam bakso dan mi ayam pangsit. Saat dicoba, waduh ternyata enak sekali. Tekstur mi-nya tebal namun tidak terasa terigunya. Berbeda dengan mi ayam di depan kantor kami. Cis. Selain itu juga bumbunya enak dan ayamnya juga penuh daging, bukan jeroan atau kulit. Mantap! Sangat memuaskan bagi kami yang sudah menempuh jarak jauh dari Kebon Jeruk.

Kopi Es Tak Kie sudah beroperasi selama itu. Ternyata di Jakarta ada pabrik kopi yang sudah lebih lama lagi beroperasinya yaitu Kopi Warung Tinggi. Sebelum nasionalisasi, pabrik ini bernama Tek Soen Hoo yang dibangun dari tahun 1878. Lama banget kan?

Saya pergi ke Kopi Warung Tinggi yang ada di mall Grand Indonesia. Sebelumnya saya hanya tahu kopi ini ada di Jalan Tangki Sekolah. Tapi untung karena ada tugas liputan, saya bisa mencicipi Kopi Warung Tinggi. Saya mencoba kopi peranakan yang terdiri dari kopi campuran arabika dan robusta serta kopi susu kental manis. Rasanya enaaak sekali. Begitu tebal namun perpaduan kopi dan susunya pas. Sementara teman fotografer saya mencicipi kopi jantan.

Manual brew Beligum Syphon.
Kue cubit sebagai pasangan sejoli dari kopi peranakan.

Di Jawa, kopi jantan dikenal sebagai kopi lanang. Pada satu buah pohon kopi, terdapat kopi-kopi terbaik yang berada di pucuk pohon. Ibarat seperti teh putih yang terdiri dari pucuk daun teh juga. Bentuk biji kopinya lebih bulat dan lebih kecil daripada biji kopi biasa. Kata kepala barista kopi Warung Tinggi, rasanya kuat dan bisa membangkitkan "stamina" pada pria.

Kopi bisa direbus secara manual dengan berbagai teknik seperti syphon, french press, v60, atau dripper. Untuk keperluan foto, saya minta agar kopi jantan dibuat dengan Beligian siphon. Kepala baristanya bilang kalau aroma kopi bisa lebih keluar dengan teknik ini.

Berbeda dengan coffee shop lainnya yang biasanya menjual kopi berdasarkan lokasinya seperti kopi Aceh Gayo, kopi Toraja, kopi Sidikalang, kopi-kopi Warung Tinggi dicampur dari berbagai tempat, sehingga pengunjung akan mendapatkan kopi arabika atau robusta dari berbagai tempat dalam satu teguk.

Hal terhebat dari kopi Warung Tinggi ini adalah ceritanya. Kopi Warung Tinggi dikelola oleh lima generasi dan pabrik mereka sempat tutup karena ada peristiwa tahun 1998. Selain banyak yang dijarah, para pengelola juga hijrah ke Singapura. Namun ketika situasi telah aman, mereka balik lagi dan terus mengembangkan kopi. Tentunya perlu sebuah niat dan usaha untuk bisa melanggengkan sebuah bisnis turun temurun, kan?

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…