Jelajah Malam Kota Tua

Semenjak diri memutuskan untuk pindah ke Jakarta, saya mencari komunitas yang mirip dengan komunitas sejarah yang saya ikuti di Bandung. Ternyata ada, namanya Komunitas Historia Indonesia (KHI). Tapi sudah tiga tahun tinggal di sini, saya belum pernah mengikuti komunitas tersebut--entah karena tidak update Twitter-nya atau bertepatan dengan jadwal pulang ke Bandung.

Minggu (22/3) lalu, KHI mengadakan acara ulang tahun. Malam harinya juga ada acara jalan-jalan keliling kota tua. Wah, saya pikir ini kesempatan saya untuk kenal KHI. Barangkali cocok, tahu orang-orangnya, dan tahu informasinya. Singkat cerita, saya daftar dan datang. Awalnya canggung karena saya berada di tengah orang-orang yang merayakan ulang tahun komunitas, sementara saya newbie dan belum ada sense of belonging. Canggung terus dari jam 5 sore hingga 8 malam. Berharap cepat berakhir.

Hujan mulai turun deras. Saya takut kalau kegiatan jalan malam dibatalkan. Untungnya tetap berjalan. Jalan-jalan dipandu oleh founder KHI, namanya Asep Kambali. Ia cukup terkenal dan sudah masuk beragam media karena kiprahnya di komunitas sejarah. Walau tidak bawa jaket, untung saya bawa payung. Oke, saya mau tahu bagaimana management komunitas ini saat di jalan.

Rupanya Kang Asep (dipanggil 'kang' karena dia orang Cianjur) memandu sendirian. Berbeda dengan komunitas sejarah di Bandung yang pasti ada beberapa pemandu. Iya, saya jadi semacam otomatis membandingkan kedua komunitas ini. Tidak apa-apa ya, sebagai pertimbangan. :)

Kang Asep memulai perjalanan dengan bercerita tentang Museum Mandiri. Ini adalah pertama kalinya saya berada di museum malam-malam. Cukup mengerikan juga karena Museum Mandiri ini gelap di saat siang, jadi semakin gelap dan tua di kala malam. By the way, Museum Mandiri ini dibangun tahun 1929.

Museum Bank Mandiri kala malam.

Kemudian kami berjalan ke basement Halte Transjakarta Kota. Kami berada di kedalaman 10-15 meeter dari atas tanah lapangan stasiun Beos. Kata Kang Asep, di sini dulunya ada trem yang jalurnya dari Jatinegara sampai Pasar Ikan. Tremnya ada dua yaitu trem listrik sebagai angkutan khusus dan trem uap sebagai angkutan umum. Biasanya trem memiliki dua gerbong untuk memisahkan orang Eropa dan pribumi. Trem dihilangkan tahun 1962 karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi Jakarta. Jadi, generasi sekarang sama sekali tidak dapat sisa peninggalan trem.

Kang Asep dan peserta.
Basement TransJakarta.
Tadi saya bercerita tentang stasiun Beos. Nah, stasiun Beos ini dikenal sebagai stasiun kereta Kota. kenapa jadi Beos? Dulunya stasiun ini bernama Bos, kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Arsiteknya orang Belanda kelahiran Tulungagung bernama Heisel (kayaknya ini salah pengejaan). Jurusan keretanya ke arah Jawa. Dibangun tahun 1925, stasiun kereta ini paling top pada zamannya. Seperti stasiun kereta di Priok, rel kereta di sini ada ujungnya alias mentok.


Biasanya orang-orang Eropa bersandar di Tanjung Priok. Mereka naik kereta ke stasiun ini kemudian melanjutkan perjalanan ke Buitenzorg alias Bogor. Jalur kereta Batavia Buitenzorg juga ada. Letaknya di belakang Museum Sejarah Jakarta yang dibangun tahun 1925. Dan FYI, Stasiun Beos bukanlah stasiun pertama di Hindia Belanda. Stasiun kereta pertama ada di Semarang, yang kantornya di Lawang Sewu.

Stasiun memiliki pilar-pilar yang terbuat dari besi sehingga tidak mudah ambruk saat gempa.
Tidak jauh dari stasiun Beos, terdapat gedung BNI. Kang Asep bercerita bahwa dulunya terdapat kanal yang dibangun oleh arsitek kota Batavia bernama Simon. Karena Jakarta berada 2,5 meter di bawah permukaan laut, ia membangun kanal agar tidak banjir. Daendels juga pernah mengeruk kanal ini karena banyak endapan sehingga menjadi sebuah "mal area" dan jadi sarang nyamuk "malaria". Good info, right? Saya jadi membayangkan kalau Batavia (atau Hindia Belanda) adalah tempat yang mengerikan dan berbahaya. Selain penuh hutan tropis dengan penyakit yang berbahaya, masyarakatnya juga primitif. Bahkan kanibal. *mulai ngarang.

Di situ pernah ada kanal yang diberi nama Tiger Kanaal.
Kami berjalan ke tempat yang diketahui oleh semua orang yaitu Museum Sejarah Jakarta.
Gedung ini dibangun tahun 1707. Dulunya tempat pengadilan. Para hakim duduk di lantai dua dan bia dilihat dari jendela.  Rupanya Museum Sejarah Jakarta yang kini berwarna putih dan megah ini pernah dicat warna kelabu oleh pemerintah Jepang. Begitu juga Museum Bank Mandiri. Mereka melakukan ini agar gedung tidak terlihat dari angkasa dan dibom oleh musuh.

Di depan museum ini ada lapangan luas yang dipenuhi pedagang, alayers (uh I'm sorry but it is true), dan terkadang kotor. Dulu juga di sini penuh oleh warga, tapi bukan untuk dagang atau hangout. Mereka datang jika mendengar pengumuman dari pemerintah Hinda Belanda atau melihat orang yang dieksekusi. Para serdadu mengumpulkan warga dengan memukul tambur sambil keliling kampung seperti Kampung Bandar, Kampung Pokojan, atau Kampung Tionghoa. Rupanya Batavia ini disangga oleh kampung-kampung teresbut untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan seperti sayur mayur.

Gedung peradilan. Lantai dua tempat para hakim.
Bahkan non peserta juga antusias cari tahu. Atau penasaran?
Kuda dan manusia sama saja. Semua minum dari sini.
Di depan gedung. terdapat sebuah pancuran air yang digunakan untuk minum kuda dan manusia. Di sini, Kang Asep cerita kalau orang Belanda juga suka minum air tanpa dimasak, mungkin karena kebisaan di sana. Tapi kan air di sini berbeda. Barangkali lebih kotor. Kemudian orang Belanda belajar dengan orang Tionghoa di Indonesia yang memasak air sebelum diminum. Maka dari itu banyak orang Tionghoa yang sehat. Di sini pula orang Belanda belajar mandi sehari dua kali dan menggunakan gayung.

Oh ya, di lapangan ini juga ada batu-batu yang disusun persegi. Kata Kang Asep, batu ini didatangkan dari Belanda, tepatnya dari depan istana Dam Palace. Selain Batavia, Belanda menaruh batu ini kota-kota yang mereka jajah seperti Cape Town dan Formosa.

Ini dia batu dari Belanda.

Di sisi timur museum terdapat Museum Keramik yang didirikan tahun 1877. Di sisi barat terdapat Museum Wayang yang didirikan tahun  1912. Di sisi utara terdapat kantor pos yang didirikan tahun 1928 dan masih berfungsi sebagai kantor pos sampai sekarang.

Tidak jauh dari situ, terdapat sebuah gedung tua yang besar tapi terbengkalai. Gedungnya berlumut dan mulai ditutupi pohon. Kosong melompong dan tidak ada yang berani masuk. Kang Asep bilang kalau dulunya ini kantor keuangan dan pernah jadi tempat judi terbesar di Jakarta.

Pernah jadi tempat perjudian terbesar di Jakarta. Hidden beauty.
Di bawah jalan tol.
Petualangan menuju klimaksnya saat kami mulai masuk jalan-jalan kecil dan becek karena hujan. Barangkali karena malam, jadinya lebih menantang. Melewati lingkungan yang padat di daerah Penjaringan yang kadang bau tikus dan bau apek, kami sampai di bawah jalan tol Priok - Bandara. Literally! Dulu dari sini hingga Kampung Arab ada RT 0 RW 0. Tapi sekarang sudah ditiadakan.


Double wall
Di tengah kegelapan itu Kang Asep menujukkan benteng kota Batavia yang tingginya 4-5 meter. Kini hanya bentuknya puing-puing yang berlubang. Dari lubang itu, kami dapat melihat terdapat double wall yang terbuat dari batu bata yang berfungsi menahan serangan. Kenapa tidak dibuat dinding yang tebal sekalian? Kang Asep bilang barangkali terkait biaya. Bahkan sisa benteng yang terletak di belakang Museum Bahari dalam kondisinya mengenaskan. Di sana terdapat dua pintu yang menuju ke gudang rempah-rempah.

Kami juga menyisir sungai Ciliwung yang penuh sesak dengan rumah permanen yang sanitasi dan privasi terganggu. Ketika pintu salah satu rumah terbuka, kami langsung bisa melihat kasur. Saya dan teman baru saya berdoa agar suatu saat tidak tinggal di rumah dan lingkungan seperti ini. Teman baru saya bertanya, "Mereka betah ya di sini?" Saya jawab, "Barangkali karena keadaan, mereka harus di sini. Atau justru mereka betah dan bahagia di sini."

Sepulang dari jalan-jalan bareng KHI, saya merasa senang sekali. Pertama, selama ini saya baru tahu sejarah Bandung, kini saya mulai tahu sejarah Batavia. Mengetahui sejarah Batavia membuka cakrawala tentang sejarah Indonesia. Kedua, semakin kagum dengan cerita-cerita di balik kota yang saya tinggali ini. Ketiga, semakin banyak tahu, justru semakin sedih karena semakin banyak jejak sejarah yang tidak dipedulikan oleh orang-orang dan mulai hilang satu persatu.

Ibarat makan, saya merasa kenyang dan ingin lagi. Semoga ada kesempatan.  :)

Comments

mak beL said…
Beberapa kali ke kawasan ini, jepret sana jepret sini, tapi gak tahu sejarahnya. Baca artikel ini jadi tahu :-) Nice information.

Popular Posts