Surat Untuk Anak

Kepada Yang Tersayang,
Anak
di manapun kamu berada.

Anak, saya menulis surat ini untuk kamu meski saya belum hamil. Bukan karena tidak dikasih hamil oleh Tuhan, tapi karena belum menikah saja. Di lingkungan saya, hamil sebelum nikah nista hukumnya. Akan dianggap perempuan amoral sementara sang pria yang menghamili dianggap nakal saja. Jadi, karena sepertinya saya tidak tahan dengan pandangan sinis masyarakat, saya tidak mau hamil sebelum menikah. Oleh karena itu, kamu belum ada.

Anak, saya harap kamu tumbuh menjadi anak yang bahagia. Kalau hidup kita buruk (mudah-mudahan tidak), saya tidak akan membiarkanmu sedih atau mengalami trauma-trauma masa kecil. Saya akan menjagamu. Saya akan mengapresiasi semua pencapaianmu, baik kecil atau besar. Saya akan mengajakmu kemana saja dan kita akan mengalami hidup bersama-sama. Kamu akan belajar banyak hal melalui semua inderamu. Merasakan lembutnya pasir pantai, merasakan nikmatnya angin dingin di wajah, merasakan masakan yang begitu nikmat, atau melihat pemandangan  indah yang bahkan membuatmu tidak percaya kalau itu benar-benar ada.

Saya akan membuatmu jatuh cinta dengan hidup sehingga kamu bersyukur bahwa kamu lahir di dunia ini. Saya akan meyakinkan kamu untuk mencintai dirimu apa adanya. Bahwa kamu unik, tidak apa-apa kalau kamu berbeda. Tapi bukan berarti kamu akan berlaku seenaknya, saya akan tetap mengajarimu bergaul dan beradaptasi dengan baik. Bagaimana bentuk wajahmu nanti, apapun warna kulitmu nanti, seperti apa rambutmu nanti, kamu harus yakin bahwa kamu cantik/tampan. Ragamu bukanlah masalahmu.

Saya tidak akan mengajarkan hal semacam "hargai orang lain jika ingin orang lain menghargaimu". Karena kita tidak bisa membentuk respon orang lain. Jangan menghargai karena ingin dihargai. Kadang-kadang orang lain menyebalkan dan kurang ajar. Itu hanya akan mengecewakanmu saja. Hargai karena kamu betul-betul menghargai mereka.

Saat kamu tumbuh nanti, saya akan melarang kamu nonton film Disney, terutama film tuan putri miskin yang terus menunggu hingga menikah dengan pangeran berkuda putih kemudian kaya raya dan bahagia bersama. Kalau kamu miskin, berjuanglah dengan tangan dan kakimu sendiri. Jangan menunggu orang lain. Jangan menjadi pasif. Berjuang. Jadilah orang yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu.

Saya akan meyakinkan kamu untuk percaya bahwa setiap orang punya piala kehidupan masing-masing. Kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Kejar mimpimu dan bersinarlah di sana. Standar sosial itu bukanlah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Itu hanya akan membuatmu frustasi. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Tidak perlu menjadi orang lain. Selama kamu terus berusaha untuk menjadi lebih baik, kamu sempurna apa adanya.

Tidak perlu fanatik terhadap agama. Yang penting kamu baik terhadap sesama dan percaya adanya Tuhan, agar kamu tidak sombong. Agar kamu juga sadar bahwa manusia hanyalah titik kecil di Semesta yang saling berinteraksi sehingga kamu tidak bisa mengambil seluruh kendali terhadap hidupmu. Ketika kamu jatuh, Tuhan ada untuk memberikan harapan. Ia akan menyelamatkan.

Anak, barangkali kamu sedang melayang-layang di Surga. Barangkali kamu masih sebuah rencana atau konsep. Tidak apa-apa. Lahir atau tidak kamu nanti, saya menyayangimu. Saya akan mengisi lubang-lubang kosong yang ada di hatimu.

Salam sayang,

Ibu.

Comments

Sundea said…
"Jangan menghargai karena ingin dihargai. Kadang-kadang orang lain menyebalkan dan kurang ajar. Itu hanya akan mengecewakanmu saja. Hargai karena kamu betul-betul menghargai mereka."

Suka bagian ini,Nia :)
Nia Janiar said…
Hihi :D
Adith Ratdityas said…
"ini tante nia, temen ayah yang pinter nulis, tulisan2nya keren nak", kataku kepada anakku kirana..
Nia Janiar said…
Aaaa... thanks, Adith :D

Popular Posts