Skip to main content

Tanah Mama: Perjuangan Wanita Papua

Hari Sabtu kemarin saya menonton film dokumenter Tanah Mama. Film ini diputar di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia. Saya sudah lama penasaran dengan Galeri Indonesia Kaya karena galeri ini mengadakan acara-acara kesenian gratis setiap bulan. Ada pertunjukkan tari, keroncong, pembacaan buku, dan pemutaran film. Dan kebetulan film yang ditayangkan juga menarik. Maka berangkatlah saya dan teman ke sana.


Tanah Mama berkisah tentang perjuangan wanita di Papua dalam menghidupi diri dan keluarganya. Hidup Halosina, nama wanita itu, berubah semenjak sang suami memutuskan untuk menikah lagi. Karena enggan hidup bersama wanita lain, Halosina memutuskan untuk pergi dan tinggal bersama saudaranya.

Namun sang suami tidak memberikan lahan perkebunan sehingga Halosina tidak bisa menanam dan mendapatkan penghasilan. Mulut anak-anaknya pun harus diberi makan. Oleh karena itu, Halosina memanen ubi di perkebunan milik adik iparnya. Kemudian Halosina dituduh mencuri dan harus membayar denda hingga Rp1 juta. Lalu dari mana ia mendapatkan uang?

Membuka lahan bukan perkara mudah. Diperlukan tenaga laki-laki di sana. Sang suami tidak membantu sama sekali, bahkan tidak membela sang istri ketika si adik ipar datang untuk menuntut denda. Jangankan dengan Halosina, suaminya juga tidak peduli dengan anak-anak dari istri pertamanya. Berbeda dengan anak-anak dari istri kedua yang disekolahkan, anak-anak Halosina tidak sekolah dan kelaparan. Menyebalkan.

Tanah Mama adalah film dokumenter yang sederhana namun bermakna, indah namun menghadirkan sebuah ironi. Di tengah tanah yang subur, para warganya tetap miskin. Halosina harus berjalan kaki lima jam bersama sayur hasil panen dan anak-anaknya, melewati sungai yang penuh dengan batu, kemudian disambung kendaraan ke Wamena. Tentunya keadaan ini menjadi semakin sulit ketika ia adalah satu-satunya pondasi keluarga.

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Halosina adalah seorang ibu yang harus mengurus anak-anaknya. Apalagi ia masih punya anak yang masih balita sehingga seringkali ia harus menyusui di tengah-tengah kegiatannya. Ia menyusui saat menemui kepala desa saat kasusnya diperkarakan, ia juga menyusui di atas bukit sehabis memanen ubi.

Tentu Halosina, dan warga lainnya, tidak berpikir mau pakai baju merek apa, pakai sepatu yang mana, menggapai cita-cita apa, karena tujuannya adalah bagaimana perut ini bisa terisi terus. Sehingga anak-anak pun sudah diajarkan berkebun sejak dini. Keindahan alam bukan menjadi ajang wisata atau cuci mata bagi mereka. Keindahan alam menjadi anugrah yang memberi makan.

Oh ya, sebagai tambahan pengalaman menarik yang kemarin saya lalui, saya menonton film ini bareng komunitas Bioskop Bisik. Komunitas ini mengundang para tuna netra untuk menonton film, ditemani dengan para relawan yang membisikkan setiap adegan dalam film. Tapi relawan harus berhenti menjelaskan untuk memberikan kesempatan pada para tuna netra mendengarkan dialog. Seru!

Pasti akan datang lagi. :)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…