Skip to main content

Obituary Uwa Ema

Sepertinya saya terbiasa bahwa setiap kali seseorang sakit, pasti ia akan sembuh. Ah, apalagi kalau baru sakit sekali. Tapi hidup baru mengingatkan saya bahwa tidak semua orang sakit itu akan sembuh--walaupun ia tampak segar setelah sakitnya berlalu. Sakit membawa orang ke jalan yang berbeda selain kesembuhan.

Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan jalan-jalan bersama teman-teman kantor di Jawa Tengah. Saat akan kembali ke Jakarta di Minggu malam, saya menelepon ibu saya untuk memberi tahu kabar. Ibu saya bilang bahwa kakaknya, yang saya panggil Uwa Ema, kena serangan jantung. Ia sudah dioperasi, ibu saya sudah jenguk, dan uwa tampak sudah sembuh. Bahkan menurut sepupu lain, uwa sudah bisa berbicara untuk menanyakan kabar.

Saya sampai di Jakarta hari Senin pukul setengah 6 pagi. Rasanya capek dan teler sekali. Begitu sampai kosan, saya tidur selama dua jam sambil membiarkan hp yang tidak saya isi baterainya. Ketika bangun dan mengecek hp, saya mendapat kabar bahwa Uwa Ema sudah meninggal. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kegalauan apakah saya harus pulang ke Bandung atau tidak. Setelah dipikir-pikir, tentu saya harus pulang! Pikiran itu berubah menjadi tangisan ketika kakak sepupu saya menelepon dan mengkonfirmasi kabar itu ke saya sambil menangis.

Hal yang saya takutkan saat itu adalah saya tidak dapat mengejar travel dan terlambat datang ke acara pemakamannya. Tidak boleh terlambat karena kapan lagi saya bisa melihat uwa terakhir kali. Travel baru tersedia pukul setengah satu siang, sementara jadwal pemakaman pukul empat sore. Dan mobil travel datang terlambat 30 menit. Begitu keluar dari tempat travel, sudah ketemu macet. Saya mengutuk Semesta. Bagus!

Meskipun sudah saya kutuk, Semesta masih berbaik hati. Malah terlalu baik. Rupanya saya beberapa menit lebih cepat dari iring-iringan mobil jenazah. Jalur dari rumah duka ke pemakaman itu pas sekali dengan jalur saya turun dari travel. Tidak menunggu lama, saudara saya menjemput di Pasteur. Akhirnya saya bisa sampai pemakaman sebelum mobil jenazah datang.

Mobil itu datang. Keranda dikeluarkan dari mobil, diangkut menuju tanah yang sudah digali. Keranda ditaruh di bawah, tutupnya dibuka, dan saya melihat sebuah kain batik yang menutupi sesosok tubuh. Sebelum masuk liang lahat, kain batik itu disingkap dan memperlihatkan sebuah tubuh yang dibalut kain kafan. Tubuh itu milik uwa saya.

Saat masih kecil, saya cukup sering menghabiskan liburan di rumah Uwa Ema di Cianjur. Uwa Ema menikah dengan seorang dokter sehingga saya main ke rumah dinas mereka yang sampai sekarang hafal betul bentuk rumah dan rumah sakitnya. Di sana, saya banyak menghabiskan waktu main dengan saudara-saudara yang lain.

Semenjak meninggalnya kakak ibu saya yang lebih tua dari Uwa Ema, uwa ini menjadi sosok yang dituakan. Sosok yang selalu dikunjungi saat lebaran. Kalau ada masalah, orang-orang sering berkonsultasi dengannya. Uwa Ema juga sering memantau dan perhatian kepada adik-adiknya, termasuk si bungsu--ibu saya.

Kalau ditanya siapa yang berperan besar atas keberhasilan saya sekarang ini, Uwa Ema adalah salah satunya. Ia banyak sekali membantu saya. Sangat banyak. Sangat amat banyak. Saya merasa saya berhutang budi kepada Uwa Ema. Jika tidak ada Uwa Ema, saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang.

Uwa Ema juga sigap ketika ibu saya kena stroke ringan. Ia memberikan rekomendasi obat. Saya bisa melihat ekspresi Uwa Ema yang kasihan melihat ibu saya. Bagi saya, uwa sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kalau ibu saya ada keluhan sakit kaki, uwa juga memberi obat oles. Uwa juga banyak membantu ibu saya. Sangat amat banyak. Ia memberikan satu koper pakaian saat ibu saya akan umroh.

Saya lupa kapan terakhir ketemu Uwa Ema karena saya seringkali tidak datang kalau ia sedang mengadakan acara keluarga. Saya menyesal. Saya juga merasa kehilangan dengan sosok Uwa Ema yang begitu mengasuh dan perhatian ke keluarga besarnya. Ia tampak punya energi besar untuk melakukan itu semua. Ia tampak begitu sayang dengan keluarganya. Saya merasa kehilangan sosok yang biasanya saya kunjungi saat lebaran.

Uwa, sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya ya. Semoga Tuhan melapangkan kuburmu, melancarkan urusanmu di akhirat, menerima semua amal baikmu karena uwa sangat baik sekali dengan sepenuh hati. Uwa berjasa sekali. Uwa tidak hanya memberikan kebaikan pada saya, tapi uwa memberikan kehidupan.

Begitu uwa masuk pusara, A'Herul, anak laki-lakinya, mengumandangkan adzan. Suaranya bergetar. Ia tidak kuasa menahan air matanya.

Uwa, you will be missed..


Foto diambil hari Selasa, 5 Mei 2015, di atas kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Gambir.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…