Dear Friends, I Love You No Matter You are Gay

Beberapa minggu yang lalu internet heboh dengan berita legalnya pernikahan sejenis di Amerika dengan latar belakang kesetaraan. Tagar #lovewins jadi trending topic dunia. Di internet, banyak orang yang akhirnya coming out bahwa mereka adalah seorang lesbian, homoseksual, dan biseksual. Tapi dari media sosial yang saya ikuti, tampaknya orang-orang di sini Indonesia belum seterbuka itu. Saya tidak melihat sebuah adegan coming out oleh seorang public figure atau teman sendiri di internet. Pemasangan profile picture pelangi juga dilakukan oleh teman-teman saya (yang sejauh ini saya ketahui mereka heteroseksual) sebagai bentuk dukungan. Apa karena sadar di Indonesia masih tabu?


Justru bukan para LGBT yang bermunculan, tetapi yang homophobic justru lebih banyak bermunculan. Homophobic moderat sebatas nyinyir, homophobic garis keras membawa alasan agama. Tapi ya tidak salah juga, karena agama adalah dogma. Agama itu titah satu arah. Sebagian orang mempercayai agama tanpa tanda tanya.

Apapun alasannya, yang namanya negatif itu membawa energi yang tidak enak. Apalagi memaksakan nilai diri pada orang lain, mendefinisikan dan membentuk orang lain. Don't judge someone because they have a different sin than you. Hal lain yang bikin saya sebal adalah pendapat orang bahwa menjadi homoseksual adalah sebuah pilihan.

Being gay isn't a choice, being homophobic is.

Karena rata-rata orang yang sudah homophobic sudah menutup diri dari awal dan tidak mau tahu cerita personal orang itu, tentu mereka tidak tahu bahwa menjadi homoseksual itu bukan sebuah pilihan. Yang menjadi pilihan adalah apakah mereka mau coming out atau tidak.

Apakah kalian sendiri memilih untuk menjadi heteroseksual? Tidak, 'kan? Saya kalau dipaksa harus memilih suka sesama jenis juga tidak bisa. Kalian, secara naluriah dan tanpa disadari, suka dengan lawan jenis semenjak kalian menyadari tentang ketertarikan dan nafsu. Sama seperti homoseksual. Banyak orang-orang yang coming out menyatakan bahwa mereka sedari kecil sudah tertarik dengan sesama jenis. Ini bukan ucapan mengawang-awang yang saya lihat dari internet saja, tapi lingkungan saya begitu. Teman-teman saya yang gay pun begitu. Mereka tidak meminta untuk menjadi seorang gay.

Lagipula, untuk apa sih memilih hal yang ganjarannya bisa dijauhi oleh masyarakat? Semua orang barangkali ingin "normal" dan diterima masyarakat. Life is easier if we live according to social standard, right?

Video Shane Dawson di atas membuat saya sedih. Betapa ia bingung, takut, namun ia tidak bisa berbohong pada dirinya. Begitu dilematisnya saat ia mengetahui dirinya adalah seorang biseksual, tapi disatu sisi Tuhan yang ia percaya itu membenci gay. Namun bukankah orientasi seksual juga yang Tuhan ciptakan? Apakah Tuhan dengan mudahnya membenci makhluknya seperti itu? Kita tidak pernah tahu dengan pasti, 'kan?

Teman-teman saya yang seorang homoseksual, biseksual, atau lesbian adalah teman-teman yang baik. Mereka bisa hidup sesuai dengan norma-norma yang ada. Mereka tidak mencuri, membunuh, korupsi, narkoba.. tidak. Mereka adekuat. Bahkan ada beberapa mereka yang berprestasi.

Jangan mengecilkan orang lain karena ketakutan dan ketidaktahuanmu. Spektrum kehidupan tidak sebatas hitam dan putih. Jika kamu tidak setuju, jaga dirimu dan keluargamu saja. Tidak perlu menjatuhkan, membenci, bahkan memprovokasi orang lain.

Comments

You are such a brave soul to post this! Great piece, Nia!
Nia Janiar said…
Thanks, Beg :)

Popular Posts