Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2015

Koper Kubawa Kemanapun Ku Pergi

Kita seringkali mendengar istilah "Cintai diri sendiri sebelum kita mencintai orang lain". Awalnya istilah itu hanya kata-kata yang tidak ada artinya. Tapi satu minggu yang lalu saya jadi paham apa yang dimaksud oleh kalimat itu.

Jadi, ada satu hal yang tidak saya sukai dari perilaku pacar saya terhadap orang lain. Berkali-kali kami bertengkar karena masalah ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir sih bukan sepenuhnya salah dia. Adalah ketidakmampuan, rasa tidak percaya diri, dan rasa tidak aman adalah hal-hal yang saya bawa dalam koper kemanapun saya pergi dan berhubungan dengan orang lain--entah itu pacar, keluarga, atau sahabat. Mungkin karena pacar adalah orang yang lebih intens berhubungan dengan diri saya, ia menjadi sebuah cermin yang paling jelas, sehingga saya bisa melihat diri saya yang terbaik maupun yang terburuk.

Kalau yang muncul adalah sisi diri yang terbaik, anggap saja itu bonus buat orang lain. Tapi kalau terburuk, saya jadi tidak enak juga. Saya jadi takut men…

Go Go-Jek!

Pertama, saya mengucapkan puji dan syukur akhirnya misteri tulisan "Ojeg" atau "Ojek" terpecahkan. It is official "Ojek" ya, pemirsa. Kedua, Go-Jek memang hal baru di Indonesia, tapi saya baru punya pengalaman naik Go-Jek untuk pertama kalinya di akhir pekan lalu.

Ceritanya saya harus liputan akhir pekan ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Biasanya kantor mau mengantarkan dengan mobil kantor. Tapi karena sedang banyak acara ke luar kota, akhirnya saya tidak dapat mobil. Liputan ke PIK tanpa mobil kantor itu bikin was-was, terutama masalah kantong. Dibutuhkan uang Rp140 ribu untuk naik taksi PP PIK - kantor. Naik angkot dan TransJakarta memang jauh lebih murah, tapi waktu yang diperlukan sekitar dua jam dan harus ganti 3-4 kali angkot. Duh.

Banyak teman-teman saya yang sudah pakai jasa Go-Jek. Sehari sebelum liputan, saya ada liputan lain di Sarinah dan berencana pergi ke Kota Kasablanka setelahnya. Saya coba pesan Go-Jek, tapi tidak ada tanggapan sehingg…

Lepas

Semenjak Raya lepas dari Jagat, ia selalu dihantui dengan mimpi buruk saat tidur. Misalnya semalam, seekor ular piton mengejarnya dengan cepat. Begitu agresif. Mulutnya terbuka, menganga dengan penuh tekad untuk memakannya.

Atau di malam lainnya, Raya bermimpi tentang orang yang tertabrak kereta api yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jasad orang itu terpental, tubuhnya kemana-mana seperti kembang api. Beberapa potongan tubuh yang tertinggal hancur dan lumat digilas rel. Diperlukan sebuah sapu dan pengki kecil untuk membersihkan sisa-sisa tubuh itu.

Kalau sudah begitu, Raya selalu terbangun di tengah malam, melihat langit-langit kamar yang kelam seperti lubang hitam tanpa dasar. Keringat membasahi wajahnya, kepalanya, tubuhnya. Tenang Raya, kamu aman. Itu semua tidak terjadi. Itu hanya bunga tidur. Semua itu tidak nyata seperti keterlepasannya dari Jagat yang membuat kelopak matanya dengan sekuat tenaga membendung aliran sungai asin yang membuat matanya bengkak.

Setelah itu ia ak…