Go Go-Jek!

Pertama, saya mengucapkan puji dan syukur akhirnya misteri tulisan "Ojeg" atau "Ojek" terpecahkan. It is official "Ojek" ya, pemirsa. Kedua, Go-Jek memang hal baru di Indonesia, tapi saya baru punya pengalaman naik Go-Jek untuk pertama kalinya di akhir pekan lalu.

Ceritanya saya harus liputan akhir pekan ke kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Biasanya kantor mau mengantarkan dengan mobil kantor. Tapi karena sedang banyak acara ke luar kota, akhirnya saya tidak dapat mobil. Liputan ke PIK tanpa mobil kantor itu bikin was-was, terutama masalah kantong. Dibutuhkan uang Rp140 ribu untuk naik taksi PP PIK - kantor. Naik angkot dan TransJakarta memang jauh lebih murah, tapi waktu yang diperlukan sekitar dua jam dan harus ganti 3-4 kali angkot. Duh.

Banyak teman-teman saya yang sudah pakai jasa Go-Jek. Sehari sebelum liputan, saya ada liputan lain di Sarinah dan berencana pergi ke Kota Kasablanka setelahnya. Saya coba pesan Go-Jek, tapi tidak ada tanggapan sehingga saya naik TransJakarta. Saya kira karena itu jam kantor dan para pengguna Go-Jek membludak. Ternyata setelah selesai dari Kota Kasablanka, Go-Jek pun tidak kunjung bersambut walaupun saya lihat banyak Go-Jek yang nongkrong di pinggir jalan. Wah, saya jadi pesmis dong. Ini beneran bisa dipakai dan memudahkan enggak sih?

Foto Dok. http://www.go-jek.com/
Hari Sabtu pagi, yaitu hari di mana saya harus liputan ke PIK, saya memesan Go-Jek dua jam sebelum acara karena takut tidak dapat dan harus meluangkan waktu kalau harus naik TransJakarta. Ternyata tidak sampai lima menit, saya mendapatkan notifikasi kalau Go-Jek menemukan driver untuk saya.

Pengemudi Go-Jek menunggu saya di depan kantor. Saya diberikan penutup kepala dan masker. Wah, penutup kepala sangat dibutuhkan karena helm itu mungkin sudah ribuan kali dipakai oleh berbagai jenis rambut. Kemudian saya diantar sampai ke PIK dan hanya membayar Rp10.000 saja melalui Go-Jek kredit. Bagian serunya adalah ternyata aplikasi Go-Jek memberikan notifikasi kalau misi sudah selesai. Bahkan saya bisa memberikan rating dan komentar tentang pengemudinya. Nice!

Sepuluh ribu memang tarif promo. Kalau dihitung tanpa promo, jarak dari kantor ke PIK itu tarifnya Rp55.000. Memang lebih murah dari taksi sih, tapi kalau keseringan berat juga. Tapi kalau dibandingkan dengan ojek konvensional yang gemar geplak harga sekenanya, barangkali saya bisa dikenai biaya Rp100.000.

Di aplikasi Go-Jek itu kita bisa melihat ojek yang ada di sekitar, jadi kita bisa tahu kemungkinan kita akan dapat gojek. Nah, saat saya mau pulang dari PIK, hanya ada satu Go-Jek yang muncul. Ya sudah, coba saja, ketimbang naik TransJakarta dan sampai kosan di malam hari. Ternyata dia menyambut pesanan saya. Wah, asyik, pulang pergi hanya Rp20.000 plus tips.

Di perjalanan, pengemudi Go-Jek bercerita pada saya bahwa sebelumnya ia bekerja sebagai tukang bangunan dan baru dua bulan menjadi driver Go-Jek. Sejauh ini ia merasa pekerjaan ini enak dan membatasi hanya mengangkat 10 penumpang setiap harinya agar bisa istirahat. Dia cerita bahwa hampir seminggu aplikasi Go-Jek sedang error. Oh, pantas saja tidak ada yang ambil pesanan Go-Jek saya saat di Kota Kasablanka kemarin. Kalau aplikasi sedang down, ia bisa tidak dapat pesanan. Juga kadang-kadang ia memerlukan waktu satu jam untuk set order sudah selesai di aplikasi.

Ya wajar saja kalau Go-Jek ada pengalaman aplikasi atau server yang down. Bagaimana tidak, data terbaru (teman saya wawancara langsung CEO Go-Jek minggu lalu), mengatakan bahwa Go-Jek diunduh oleh dua juta orang. Supir Go-Jek kini sudah mencapai 15.000 orang. Jadi ini sih bisa-bisanya operator yang menjaga aplikasi atau server untuk tidak down. Karena kalau sudah down, bubar jalan deh semua.

Sang supir menyatakan kekhawatirannya kalau promo tarif datar Rp10.000 berakhir maka ia akan kehilangan pelanggan. Saya jawab gini, "Pak, enggak usah khawatir. Kayaknya sekarang orang-orang milih Go-Jek daripada ojek konvensional karena tarifnya adil, tidak asal geplak. Dan Go-Jek kayaknya lebih aman karena kita jadi tahu siapa drivernya."

Si bapak pun jadi optimis.

Saya sih berharap Go-Jek tetap ada. Kalau ojek konvensional tidak setuju dan merasa terancam, kenapa tidak bergabung dengan Go-Jek saja? Ancaman "Awas kalau pakai Go-Jek gue bakal pecahin kepala lo" tidak akan membuat pelanggan pakai jasanya toh? :)

Comments

mak beL said…
selalu pengen nyoba, tapi kenapa selalu ragu gak dapat ya #balada mesan jam pulang kantor
Nia Janiar said…
Cobain aja dulu.. seru lho!

Popular Posts