Skip to main content

Koper Kubawa Kemanapun Ku Pergi

Kita seringkali mendengar istilah "Cintai diri sendiri sebelum kita mencintai orang lain". Awalnya istilah itu hanya kata-kata yang tidak ada artinya. Tapi satu minggu yang lalu saya jadi paham apa yang dimaksud oleh kalimat itu.

Jadi, ada satu hal yang tidak saya sukai dari perilaku pacar saya terhadap orang lain. Berkali-kali kami bertengkar karena masalah ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir sih bukan sepenuhnya salah dia. Adalah ketidakmampuan, rasa tidak percaya diri, dan rasa tidak aman adalah hal-hal yang saya bawa dalam koper kemanapun saya pergi dan berhubungan dengan orang lain--entah itu pacar, keluarga, atau sahabat. Mungkin karena pacar adalah orang yang lebih intens berhubungan dengan diri saya, ia menjadi sebuah cermin yang paling jelas, sehingga saya bisa melihat diri saya yang terbaik maupun yang terburuk.

Kalau yang muncul adalah sisi diri yang terbaik, anggap saja itu bonus buat orang lain. Tapi kalau terburuk, saya jadi tidak enak juga. Saya jadi takut menyakitinya. Meskipun pacar saya ibarat karet yang fleksibel, tapi saya yakin karet juga bisa putus kalau saya menarik terlalu keras. Dan, tentunya, saya punya kemampuan untuk menarik sekeras mungkin, untuk menampakkan diri seburuk mungkin, untuk membahas sesuatu sedalam mungkin sampai ia merasa muak.

Di situ saya jadi paham. Ternyata kita (atau saya) tidak bisa mencintai orang lain kalau saya tidak bisa mencintai dan menerima diri sendiri. Pacar atau orang lain menjadi samsak atas masalah-masalah diri saya yang tidak selesai. Jadinya, kalau saya sendiri masih membenci diri, maka nantinya saya hanya menyakiti, menyakiti, dan menyakiti.

Wah, insight yang sangat menarik. Insight lainnya adalah saya jadi tidak memaksa jika pacar atau orang lain untuk selalu tetap berada di samping saya. Kalau kamu mau pergi, silakan. Saya akan mengingat kamu. Saya akan mengingat orang-orang yang pergi dari hidup saya.

Katanya sih begitu. 

Comments

Sundea said…
:)
the "I" said…
Yes, It is...


:)
Nia Janiar said…
^
^
^

Hmm.. I wonder who iz diz ;)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…