Skip to main content

Go Set a Watchman

Siapa yang tidak kenal dengan buku To Kill a Mockingbird? Buku yang dibuat tahun 1960 ini menggemparkan Amerika yang kala itu dilanda krisis rasisme. Atticus Finch, tokoh ayah yang berperan sebagai pengacara dan membela warga kulit hitam atas tuduhan pemerkosaan, menjadi idola Amerika dan jadi standar moral di sana.

Mockingbird menjadi buku bacaan wajib anak-anak SMP di Amerika. Walaupun mengangkat tema yang cukup berat, kisah diceritakan dari sudut pandang anak kecil bernama Scout ini begitu memikat sehingga buku ini digemari oleh dunia. Harper Lee, pengarang Mockingbird, memenangkan penghargaan Pulitzer Prize. Setelah itu, ia tidak pernah menciptakan novel lagi karena ia terganggu dengan segala ketenaran yang ia dapatkan. Lee memutuskan untuk menarik diri dari media. Wawancara terakhirnya dilakukan tahun 1964.

Juli lalu, dunia digemparkan dengan kabar bahwa Harper Lee mengeluarkan novel baru berjudul Go Set a Watchman. Tepatnya naskah novel ini tidak baru. Justru Lee menulis Go Set a Watchman sebelum ia menulis Mockingbird. Saat membaca Go Set a Watchman, penerbitnya lebih tertarik dengan karakter Scout dan meminta Lee untuk menulis lebih dalam tentang Scout.

Courtesy of Wikipedia.com

Naskah asli Go Set a Watchman ini hampir saja hilang karena Lee bahkan tidak mengetahuinya bahwa naskah ini masih ada. Saat draft naskah ditemukan, The HarperCollins menjadi penerbit Go Set a Watchman. Keputusan ini diragukan oleh banyak pihak, termasuk keluarga Lee karena tahu Lee tidak ingin mengeluarkan karya lagi. Saking ragunya, Lee ditanya dan diuji kejiwaannya oleh psikolog untuk meyakinkan kompetensinya untuk memutuskan sesuatu. Hasilnya tidak ada masalah dengan Lee. Justru Lee berkali-kali berucap bahwa ia ingin menerbitkan naskah Go Set a Watchman.

Fakta-fakta menarik di atas saya dapatkan saat menghadiri diskusi buku Go Set a Watchman di @atAmerica, Pacific Place, Jakarta pada Jumat lalu. Di sana hadir Leila S. Chudori, seorang wartawan senior Tempo yang disebut Kompas sebagai anak emas sastra, Sarah, wakil dari US Embassy, dan pihak dari penerbit Mizan selaku pemegang lisensi di Indonesia.



Sebelum menghadiri ini, saya membaca review buku Go Set a Watchman di berbagai website. Secara garis besar, Go Set a Watchman berkisah tentang kembalinya Scout ke Alabama dari New York. Ia bertemu orang-orang di masa kecilnya, termasuk Atticus, ayahnya. Bukannya senang, ia justru menemukan hal yang menganggu dirinya yaitu ayah yang dulu menjadi idolanya, menjadi pahlawan, dan dikenal sebagai orang yang membela kulit hitam, justru kini berbalik arah. Bagaimana reaksi Scout yang memiliki karakter independen dan feminis ini menghadapi sang ayah adalah fokus dari novel Go Set a Watchman.

Seperti kata Leila, banyak para jurnalis yang "menghajar" buku ini. Tapi seberapa keras mereka menghajar, tetap saja orang-orang akan membeli buku baru Lee. Menurut Leila, perbedaan buku baru ini dibandingkan buku sebelumnya adalah banyak cerita-cerita yang bisa dihilangkan. "Ini berbeda dengan Mockingbird yang terasa kalau editor memperhatikan setiap katanya, sehingga terasa padat. Kalau di sini ada beberapa yang terlalu panjang dan bisa dibuang," katanya.

Perkataan saya bahwa buku ini mengguncang dunia ini bukan melebih-lebihkan. Sedikit sih, tapi kenyataannya adalah untuk pre-order di Amerika dan Kanada saja menembus angka 1,5 juta orang. Di Mizan sendiri, buku Mockingbird laku hingga 20.000-25.000 eksemplar. Kalau kata perwakilan Mizan, "Untuk sebuah buku sastra luar yang serius, tidak seperti Dan Brown yang penuh action, angka ini besar di Indonesia."

Go Set a Watchman versi Indonesia akan ada di toko buku tanggal 12 September ini. Kalau pre-order sudah bisa di MizanStore.com (saya bukan staf Mizan jadi sebenarnya bukan bantu promo :p) dari sekarang. Tentu saya akan beli dengan dua alasan yaitu penggemar Harper Lee dan memang ada tugas mengulas buku ini dari kantor. Hehe. Tapi sebelum itu, tampaknya saya harus siap-siap patah hati dengan "matinya" sosok pahlawan yang digemari semua orang.

Selamat berburu dan membaca!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…