Skip to main content

Liuk Aksara Jawa

Beberapa orang mungkin subscribe blog ini karena saya sering datang ke pameran seni dan pembaca ingin tahu jika ada informasi tentang pameran seni. Tapi nyatanya akhir-akhir ini saya sering menulis tentang diri atau kejadian yang umum saja. Maaf ya. :D Beberapa minggu terakhir, saya sempat mendatangi beberapa pameran tapi kurang berkesan. Jadinya tidak saya tuliskan.

Tapi hari ini berbeda. Justru hari ini saya benar-benar niat untuk pergi ke Galeri Nasional, Jakarta, karena saya mau menghadiri pameran tunggal Eddy Susanto. Tiga tahun lalu, saya pernah datang ke pameran tunggal Eddy berjudul Mata Hari Centhini di Galeri Lawangwangi, Bandung. Waktu itu saya terkesan sekali dengan karyanya. Lukisannya menjadi spesial karena di setiap lukisan terdapat detail aksara Hindi yang ditulis melingkar dan bercerita.

Pameran tunggal kali ini berjudul "JavaScript" yang diadakan sampai tanggal 13 September nanti. Sebuah patung sinden yang tengah duduk dengan microphone di depannya menyambut saya ketika masuk ke dalam ruang pameran. Di belakang patung batu itu terdapat sebuah kayu yang diukir dengan aksara Jawa. Kemudian terdapat tiga buah lukisan yang terdiri dari huruf-huruf kayu yang membentuk sosok Kartini dan Sukarno.

Hymns of Dystopia, 2015



Karya-karya lainnya adalah lukisan-lukisan yang menggambarkan pertemuan budaya (manuskrip). Kalau kata Suwarno Wisetrotomo, dikutip dari website Galeri Nasional, contohnya adalah manuskrip Arjunawiwaha dipertemukan dengan karya klasik Albrecht Durer (1471-1528) “The Promade”, karya kidung Asmarandana dipertemukan dengan karya Lambert Hopfer “The Conversion of St. Paul”, kitab Baratayudha dipertemukan dengan karya Albrecht Durer “The Four Horsemen of the Apocalypse”.

Melihat lukisan-lukisan ini seperti melihat sebuah buku cerita yang sangat besar dengan ilustrasi cerita di halaman sebelah kiri dan tulisan di halaman sebelah kanan. Ilustrasi itu memiliki garis yang ditulis dengan aksara Jawa. Ukurannya kecil-kecil dan penuh detail sehingga bisa dilihat sebagai satu gambar utuh dari kejauhan. Di bawah lukisan, terdapat mp3 player yang bisa digunakan pengunjung untuk mendengarkan kata-kata yang dinyanyikan oleh sinden. Peleburan dua budaya ini, yaitu masa lalu dan masa kini, menjadi fokus Eddy.

The Book of Hours of Panji
Detail tulisan
Detail gambar
Detail gambar

Meskipun terkadang budaya memberi kesan kuno, anak muda tetap bisa menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Eddy membuat lukisan-lukisan yang mengawinkan aksara Jawa dengan mengilustrasikan website-website yang akrab dengan kita seperti YouTube, Facebook, dan Wikipedia.

Saya suka dengan karya-karyanya. Yang membuat saya suka adalah karya yang seperti ini: dari jauh enak dipandang, dari dekat ternyata lebih mengesankan karena mengandung detail-detail yang luar biasa.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…