RIP Minow


Saya lupa kapan tepatnya Minow mulai dipelihara di rumah. Saat lihat keberadaannya, saya kaget juga dia bisa dipelihara karena teteh saya tidak suka kucing. Tapi mungkin mulanya semacam mau tidak mau menerima kucing yang merupakan pemberian mahasiswa suaminya teteh. Dan kalau tidak salah, Minow adalah kucing kedua yang kami pelihara. 

Pemilik Minow sebelumnya punya banyak sekali kucing (dan anjing. Ia pernah bawa anjing Husky ke rumah.) Katanya sampai punya ruangan sendiri untuk kucing. Karena kebanyakan, anak-anak kucing itu dibagikan ke orang lain. Minow jatuh ke kami. Dan ia datang dalam keadaan enggan dielus. Mungkin karena pemilik sebelumnya tidak punya waktu untuk mengelus. Kami kira ia akan terbiasa. Nyatanya, sampai sepuluh tahun kemudian, Minow tidak suka dielus.

Kalau berharap kucing yang mau bermanja-manja di pangkuan, jangan harapkan itu dari Minow. Kadang saya suka sedih sendiri. Karena di saat saya butuh afeksi dengan mengelus binatang lalu si kucing kabur, rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Hiks. Tapi kalau kami datang dengan sangat lembut dan perlahan, ia mau dielus (kadang juga tidak). Kalau kami cuek, dia suka tiduran di lantai dan menggunakan kaki kami sebagai bantalan.

Minow beberapa kali ingin kawin, tapi tidak semua betina tunduk padanya. Hanya ada satu betina yang mau dikawin Minow dan menghasilkan anak. Tapi anak-anak itu hanya bertahan satu ekor. Kami kasih nama Obama karena saat itu Barrack Obama sedang heboh di media. Tapi Obama hanya bertahan sebentar karena entah dia kabur atau diambil orang.

Minow menghabiskan waktunya dengan uring-uringan kalau ingin kawin karena kami tidak rutin menyediakan kucing betina. Dengan bawaan mukanya yang jutek serta dorongan seksual yang tidak tersalurkan, Minow terlihat seperti old grumpy cat. Minow tua ini mulai mengawini Leboye, kucing baru kami yang jauh lebih muda dari Minow dan hasil pemberian, dan notabene Leboye adalah jantan. 

Hubungan Minow dan Leboye tidak seperti yang kalian bayangkan yaitu mereka berlari bersama di pekarangan. Saat Leboye masih kecil dan suka main, Minow menganggapnya dingin. Kadang dicakar karena Minow merasa terganggu. Jadinya Leboye menghabiskan masa kecilnya dengan main-main sendiri, bersama kami, atau bermain dengan tikus hingga mati.

Walaupun kepribadian Minow tampak tidak ramah, bukan berarti ia tidak pernah melakukan sesuatu yang manis. Minow gemar sekali mengikuti ibu saya. Kalau ibu saya pergi ke tempat jemuran, dia suka ikut ke tempat jemuran dan nanti tidur di kaki ibu saya. Biasanya ibu saya pergi ke tempat jemuran di pagi hari. Jadi, kalau ibu saya tidak ke tempat jemuran, Minow akan pergi sendirian ke sana. Kalau tidak menemukan ibu saya, dia akan balik lagi. :)

Tiga minggu ini, Minow susah makan dan minum. Terakhir kali saya elus saat pulang ke Bandung, Minow terasa kurus. Saya kira dia tidak mau makan sesaat. Tapi ternyata sampai kemarin, rupanya dia masih susah makan. Di Facebook, saya lihat Minow terbaring lemah di dalam kandang di rumah sakit. Keponakan saya bilang ginjal Minow membengkak. Di situ ada infus. Bulunya yang putih tampak kecokelatan. Ah, Minow..

Tadi pagi ibu saya sms kalau akhirnya Minow mati. Ibu saya berlapang dada dengan berkata, "Ya, mungkin sudah waktunya. Dia sudah tua." Iya, Minow sudah tua. Walaupun terlihat jutek dan kami tidak tahu apa yang ada di pikirannya, mudah-mudahan Minow bahagia bersama kami.

Minow sayang, sekarang tidur dengan nyenyak ya. Saya pasti akan kangen kamu saat saya pulang ke rumah. 

Sampai berjumpa lagi..

2 comments:

Ira izumi said...

Sedih kak, bacanya T.T
Jadi inget kucingku di rumah. Karena aku juga kerja di luar kota jadinya cuma bisa ngelus kucingku kalau pas pulang aja.

Nia Janiar said...

Semoga kucingmu sehat selalu yaa.. :)