Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015

Gegap Gempita Tanpa Makna

"Kamu mau di sini sampai kapan?" tanya pacar saya di suatu siang.

Saya melayangkan pandang pada gedung kantor yang tepat di depan mata. Penuh pertimbangan. "Enggak tahu," jawab saya pada akhirnya. Iya, saya tidak tahu kapan saya akan tinggal di Jakarta. Waktu pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya berjanji saya hanya akan lima tahun berada di sini. Tapi sekarang kepastian itu memudar. Lalu saya melanjutkan, "Mungkin kalau aku jadi asisten redaktur atau kalau ada tawaran pekerjaan yang menarik dengan gaji lebih bagus di Bandung. Aku 'kan enggak mau selamanya tinggal di sini."

Mudah-mudahan itu adalah optimisme yang bisa dijadikan rencana dan tujuan. Bukan jawaban untuk menghibur diri sendiri.

Hampir tiga tahun lamanya saya tinggal penuh di Jakarta. Satu setengah tahun sebelumnya saya habiskan dengan pulang pergi Jakarta-Bandung setiap dua minggu dalam sebulan. Mulanya excited dan mensyukuri bahwa saya bisa hidup jauh dari rumah, punya waktu untuk…

Mencari yang Hilang

Terbiasa dengan kehadiran seseorang yang dicintai membuat diri kita nyaman. Sungguh rasanya ingin selalu berdekatan dengannya. Melihatnya, menyentuhnya, mengedusnya. Saat mereka hilang, kenyamanan tercerabut bagai akar yang diambil paksa dari tanah. Sakit dan bingung. Untuk beberapa saat, kita limbung.

Aruna Salasika adalah salah satu orang yang harus merasakan kejadian yang tidak mengenakkan itu. Suaminya hilang saat sedang bertugas untuk meliput kasus pembunuhan di sebuah penjara. Dengan segala keterbatasan dan pengetahuannya menginjak dunia yang asing, Aruna memberanikan diri untuk keluar dari ruang nyamannya dan mencari sang suami. Dalam perjalanannya untuk mencari yang hilang, Aruna bertemu dengan banyak orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Termasuk Adrian, seseorang yang juga dalam perjalanan untuk menemukan.

Kisah itu hanya sepenggal dari satu buku yang ditulis oleh saya dan teman saya, Rizal Affif. Kami berdua berkolaborasi menulis cerita yang beririsan namun sesun…

Kampung di Tengah Kota

Tidak jauh dari jalan utama Dago, bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 15-20 menit menuju belokan yang berada di depan Hotel Sheraton, terdapat sebuah kampung yang punya keistimewaan. Namanya Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok. Jika mendengar kata kampung, biasanya yang terbayang adalah kumuh, dipenuhi rumah semi permanen, dan terbelakang. Tapi kampung ini terdiri dari rumah permanen yang ada di dalam gang, jadi seperti pemukiman padat saja.

Kampung Kreatif diresmikan empat tahun lalu, tapi saya belum pernah ke sana. Saat teman saya, Memes, posting ajakan terbuka untuk pergi ke Kampung Kreatif, saya tertarik. Saya mengajak si pacar yang biasanya suka dengan hal-hal kreatif. Hehe. Maka, pergilah kami pada hari Sabtu (3/10) kemarin.

Setelah bertemu dengan Memes, ia mengajak kami untuk masuk ke dalam gang. Kami disambut dengan gang warna-warni penuh dengan mural, lukisan, instalasi kendi, hingga lampu gantung yang dihias di depan rumah. Ada juga pot-pot yang dibuat vertikal dengan kalim…