Gegap Gempita Tanpa Makna

"Kamu mau di sini sampai kapan?" tanya pacar saya di suatu siang.

Saya melayangkan pandang pada gedung kantor yang tepat di depan mata. Penuh pertimbangan. "Enggak tahu," jawab saya pada akhirnya. Iya, saya tidak tahu kapan saya akan tinggal di Jakarta. Waktu pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya berjanji saya hanya akan lima tahun berada di sini. Tapi sekarang kepastian itu memudar. Lalu saya melanjutkan, "Mungkin kalau aku jadi asisten redaktur atau kalau ada tawaran pekerjaan yang menarik dengan gaji lebih bagus di Bandung. Aku 'kan enggak mau selamanya tinggal di sini."

Mudah-mudahan itu adalah optimisme yang bisa dijadikan rencana dan tujuan. Bukan jawaban untuk menghibur diri sendiri.

Hampir tiga tahun lamanya saya tinggal penuh di Jakarta. Satu setengah tahun sebelumnya saya habiskan dengan pulang pergi Jakarta-Bandung setiap dua minggu dalam sebulan. Mulanya excited dan mensyukuri bahwa saya bisa hidup jauh dari rumah, punya waktu untuk pribadi yang sangat banyak, dan tahu rasanya mengurus diri sendiri. Tapi kalau selamanya sendiri dan jauh dari rumah, itu bukan tujuan hidup saya. Saya tidak mau excited yang seperti itu.

Jakarta kini sama seperti Jakarta yang saya lihat saat pertama kali menginjakkan kaki. Asing dan sepi. Terkadang penuh gegap gempita, namun tak bermakna. Homesick selalu hinggap di penghujung minggu. Mungkin karena saya tidak pernah meresapi kota ini sebagai rumah. Jakarta hanya menjadi tempat singgah.

Hari ini Jakarta menunjukkan jiwanya yang begitu rapuh. Rasa sepi menggaung di setiap jalan, di lorong gang. Betapa lelahnya ia pada dirinya sendiri.




2 comments:

Arinta Setia Sari said...

Sepertinya saat menulis postingan ini, mbak sedang merasakan kekosongan dan kehampaan?
Foto2 tanpa seorang pun manusia juga mengekspresikan apa yg mbak sedang alami (maybe)
hihihi.
Semangat mbak2!

Nia Janiar said...

Merasa asing sih lebih tepatnya. Hehee.. Tapi apa yang ditulis di sini memang menunjukkan perasaan yang dialami. Seperti diary. :D

Makasih yaa..