Skip to main content

Mencari yang Hilang

Terbiasa dengan kehadiran seseorang yang dicintai membuat diri kita nyaman. Sungguh rasanya ingin selalu berdekatan dengannya. Melihatnya, menyentuhnya, mengedusnya. Saat mereka hilang, kenyamanan tercerabut bagai akar yang diambil paksa dari tanah. Sakit dan bingung. Untuk beberapa saat, kita limbung.

Aruna Salasika adalah salah satu orang yang harus merasakan kejadian yang tidak mengenakkan itu. Suaminya hilang saat sedang bertugas untuk meliput kasus pembunuhan di sebuah penjara. Dengan segala keterbatasan dan pengetahuannya menginjak dunia yang asing, Aruna memberanikan diri untuk keluar dari ruang nyamannya dan mencari sang suami. Dalam perjalanannya untuk mencari yang hilang, Aruna bertemu dengan banyak orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Termasuk Adrian, seseorang yang juga dalam perjalanan untuk menemukan.

LOST, diterbitkan oleh Grasindo, 2015.
Kisah itu hanya sepenggal dari satu buku yang ditulis oleh saya dan teman saya, Rizal Affif. Kami berdua berkolaborasi menulis cerita yang beririsan namun sesungguhnya cerita tersebut bisa dibaca secara tunggal. Kami menulis cerita dengan satu tema yang sama: kehilangan. Hal ini bertepatan dengan waktu yang mulanya direncanakan buku ini terbit yaitu bulan Agustus lalu. Tanggal 30 Agustus adalah hari internasional memperingati orang-orang yang hilang, bisa karena ditahan, terdampar di negara asing, dan meninggal.

Kalau kalian gemar dengan cerita yang sentimentil atau penuh petualangan, kalian bisa beli dan baca buku kami. Buku ini tersedia di toko buku Gramedia tanggal 12 Oktober. Semoga kalian menikmatinya, bersama-sama dengan kami untuk saling menemukan.

Comments

Jimmy Kokong said…
Wow... kayanya penuh misteri nih buku terbarunya. okay akan saya catat untuk jadi buku yang saya incar minggu ini.


saya juga sedang mencari yang hilang.... tapi engga tahu yang dicari seperti apa, semoga saya menemukannya. doakan saya ya.hehehe

Btw Selamat ya,

:)
Nia Janiar said…
Thank you Jimmy!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…