Bertemu Kawan Lama

Yogyakarta adalah kota yang aneh. Letaknya jauh dari Bandung dan Jakarta, tapi saya mendatangi berkali-kali kota wisata ini. Pertama, alasan study tour saat masih SD. Kedua, saya melakukan backpacking bersama sepupu saya (yang berakhir mengingap di rumah saudara. Duh!). Ketiga, saat outing bersama teman kantor. Dan keempat, liputan.

Akhir pekan lalu, saya diundang untuk liputan sebuah acara yang diselenggarakan oleh klien kantor, yaitu sebuah bank pengatur kebijakan moneter negara. Pesertanya adalah pemerintah pusat seperti menteri dan pemerintah daerah seperti gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Teman-teman saya paling senang kalau diundang oleh klien karena mereka jadi bisa mengunjungi tempat-tempat yang jauh seperti Gorontalo, Atambua, Balikpapan, dan lainnya. Bahkan saya bisa mencapai Merauke. Begitu dapat ke Yogyakarta, saya sedikit kecewa karena tempat ini sudah sering dikunjungi. Pilihan lainnya juga tidak menggembirakan yaitu Surabaya. Akhirnya saya memilih untuk pergi ke Yogyakarta, mengingat di sini ada beberapa teman.

Liputannya cukup melelahkan karena jadwalnya padat. Tidur di hotel pun hanya sebentar dan tentunya tidak bisa bangun siang. Tidak bisa berenang atau fitness. Haha. Lagian memangnya liburan? Hotel saya juga berbeda dengan teman-teman wartawan koran nasional lainnya sehingga saya tidak bisa ikut mereka jalan-jalan. Untungnya salah satu mantan teman kantor, Dorin namanya, sedang ada di Yogyakarta.

Dorin adalah teman kantor sebagai account executive, tapi beberapa bulan yagn lalu dia memutuskan untuk resign. Kemudian ia bekerja dengan seorang chef ternama yang sering muncul di televisi. Dia sering jalan-jalan ke berbagai tempat seperti Banyuwangi, Manado, dan Raja Ampat! Wogh, dia berhasil membuat kami semua iri. Tapi rupanya jalan-jalan dan pekerjaannya melelahkan. Dorin akhirnya memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Yogyakarta untuk sementara.

Dorin menjemput saya di hotel. Kemudian kami pergi ke Kedai Rakjat Djelata. Konsepnya seperti warteg tapi interiornya dibuat menarik sehingga anak muda berkumpul di sini. Furnitur yang terbuat dari kayu membuat suasana di sini terkesan etnik. Pengunjung bisa memilih duduk di kursi atau lesehan. Saya pesen usus goreng sambal mercon, sayur asam, dan es lidah buaya. Saya lupa Dorin pesen apa. Pokoknya berdua hanya Rp37.000 udah plus minum. Wiww. Kami sudah siap-siap mengeluarkan uang seratus ribu.

Keesokan harinya, acara liputan hanya berlangsung sampai jam 12 siang. Wah, tiket pesawat pulang yang saya pesan adalah pesawat terakhir ke Jakarta yaitu pukul 22.20. Untungnya teman saya dari Solo, Hilman, waktunya kosong sehingga kami bisa bertemu. Puji Tuhan seru sekalian alam saya jadi tidak terbengkalai sendirian di Yogyakarta. #lebay

Kami mau makan di Raminten yang ada di Kota Gede tapi ternyata penuh sekali. Yang waiting list banyak! Untungnya di hari pertama kali saya datang ke Yogyakarta, saya sudah ke Raminten yang ada di atas Mirota Malioboro. Saat pertama kali masuk, wah saya senang dengan dekorasinya. Begitu etnik tapi tidak terkesan tua. Saya pesan ayam goreng yang enak. Selama makan, saya melihat banyak laki-laki dan peremuan yang lagi latihan dance. Hihi. Di saat tertentu, Raminten sering menampilkan pertunjukkan seperti broadway.




Setelah ngalor ngidul, akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yang enak (suasananya) tapi sepi. Biasanya kalau sepi, rasa makanannya biasa aja. Dan ternyata memang iya. Huhu. Namanya Cangkir Enam. Restoran ini adalah sebuah joglo yang banyak kursi kayu. Di belakang joglo terdapat rumah Belanda yang sebenarnya asik buat makan, tapi enggak ada anginnya. Akhirnya kami makan di joglo sampai kenyang terus ngantuk.

Bertemu Hilman seperti bertemu teman lama. Ia bercerita banyak hal, termasuk kekesalan dan insecurities-nya terhadap kehidupan. Ia juga banyak tahu cerita tentang saya, tidak hanya permukaan. Jadi rasanya senang bisa mengetahui kabar teman yang sudah lama tidak berhubungan atau saling cerita. Seolah-olah tali yang terputus itu nyambung lagi.



Setelah puas ngobrol, kami jalan-jalan sebentar melihat pameran Biennal Yogyakarta, kemudian bertemu dengan teman kami yaitu Thia. Ia adalah seorang manager dan tattoo artist di CarpeDiem Tattoo Studio Yogyakarta. Perempuan yang suaranya lemah lembut ini menyambut kami bersama dua orang anaknya yang lucu-lucu. Thia mempersilakan kami masuk ke studio. Rupanya Dimas Praja, suaminya Thia, yang juga tattoo artist sedang menato customer bule. Lucunya setelah nato sesesai, si bule minta foto sama Dimas. Thia cerita si bule habis putus, galau, dan traveling ke Indonesia. Huhu kasian. Sini pangku.

Setelah selesai nato. saya jadi berkenalan dengan suaminya Thia. Si Hilman udah manas-manasin aja agar saya tattoo Mandala. Saya memang pengin banget sekali di-tattoo Mandala. Tapi apa daya enggak boleh. Btw, Dimas ini sepertinya orang yang mudah akrab dan suka ngobrol.

Dengan agak rusuh, saya pamit ke Thia dan Dimas. Hilman mengantarkan saya ke bandara dan beli oleh-oleh. Sebelum pulang, dia menyodorkan buku yang saya buat untuk ditandatangan. Wekekek. Untungnya kerusuhan saya ini tidak sia-sia karena pesawat sudah memanggil penumpang setelah beberapa menit saya check in.

Wah, berkesan nih di Yogyakarta. Sayangnya saya tidak bisa extend sehingga ketemu teman-temannya hanya sebentar. Terima kasih untuk Hilman, Thia, dan Dimas untuk sambutan ramahnya. Salam lestari!


Comments

Popular Posts