(Review Buku) Robohnya Surau Kami

Kalau hujan sudah turun, setelah makan mi rebus dengan telur, paling enak tiduran di kamar dengan cahaya seadanya. Sementara petir menggelegar di luar sana dan air hujan bertalu-talu di atap rumah, paling enak tidur sambil menonton film fantasi di televisi. Kalau takut nanti televisinya kena petir, paling enak baca buku. Penerangan yang minim membuat mata pedih, lantas kita akan mengantuk ...

Setidaknya itu yang saya bayangkan akhir-akhir ini. Walau waktu hujan tidak tepat dengan keberadaan saya di kamar, tidak juga makan mi, tidak ada film fantasi, tapi setidaknya keinginan untuk baca buku tersampaikan. Dari tiga buku yang dipinjam dari teman, buku pertama yang saya pilih untuk dibaca adalah antologi buku Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis.



Robohnya Surau Kami adalah cerita pendek termahsyur yang ditulis oleh penulis berdarah Minang ini. Cerita pendek ini mengkritisi sebuah hal yang paling tidak bisa dikritik: religi. Novel ini bercerita tentang kematian tragis seorang Kakek penjaga surau karena menjadi korban bual Ajo Sidi. Ajo Sidi membual tentang Haji Soleh, seseorang yang rajin beribadah kemudian masuk neraka dan menggugat Tuhan. Di akhirat, ia protes kepada Tuhan dan menyangka Tuhan lupa kalau ia adalah manusia taat. Tapi justru Tuhan mengemukakan alasan yang tidak bisa diperdebatkan oleh Haji Soleh.

"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka, Dan engkau lebih suka berkelahi di antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya (Indonesia), tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak  memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" (2003; 11-12)

Tokoh Haji Soleh sama seperti si Kakek yang kerjanya hanya beribadat saja. Oleh karena itu, Kakek begitu terpukul sehingga memutuskan untuk menggorok lehernya dengan pisau cukur.

Membaca karya ini, saya bisa merasakan kritik Navis terhadap masyarakat yang gemar beribadat tapi lupa pada sekitar. Meskipun karya ini menggambarkan masyarakat pada tahun karya ini dibuat yaitu tahun 1955, ceritanya masih relevan dengan masyarakat sekarang. Karena ingin mendapatkan pahala, beberapa orang menjadi mementingkan dirinya sendiri. Bahkan tidak segan untuk menyakiti orang lain. Misalnya, di luar konteks politik, banyak orang yang membunuh orang lain atas nama jihad.

Cerita pendek lainnya yang saya suka adalah Nasihat-Nasihat dan Anak Kebanggaan. Dua-duanya memiliki benang merah yang sama yaitu kekolotan pikiran. Nasihat-Nasihat bercerita tentang Hasibuan yang meminta nasihat dari orang tua karena merasa orang tua memiliki banyak pengalaman dan dapat bersikap bijak. Tokoh orang tua ini senang sekali diminta nasihat, bahkan merasa mendapatkan penghargaan dan eksistensinya diakui ketika nasihatnya didengar. Ia begitu ramah saat menanggapi pertanyaan dengan Hasibuan. Namun saat Hasibuan menentukan pilihan di luar nasihat orang tua, si orang tua marah bukan kepalang.

Anak Kebanggaan bercerita tentang Ompi yang bangga sekali dengan anak kandungnya. Ia mengirim anak tersebut ke luar kota untuk belajar dan mendapatkan gelar dokter. Ompi sudah membayangkan jika anaknya pulang, selain dapat mengobati orang lain, sang anak akan menjadi medali kebanggaannya. Ia tidak pernah absen menunggu tukang pos yang mengantarkan surat si anak. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan bayangannya. Setelah lama sang anak tidak pernah mengirimkan surat, justru kabar buruk datang untuk memberitahukan bahwa sang anak justru menemui ajal dan tidak pernah mencapai gelar dokternya.

Sama seperti Robohnya Surau Kami, membaca Anak Kebanggaan juga terasa relevan hingga sekarang. Dan sepertinya akan relevan di masa yang akan datang jika orang tua terus memiliki anak dan menganggap bahwa anak adalah peserta lari estafet yang harus membawa tongkat sampai garis finish. Anak dianggap sebagai investasi yang nanti harus berbuah manis, bahkan kalau perlu tidak usah mengejar impian dan cita-citanya sendiri. Impian dan cita-cita orang tua itu sudah paling benar.

Saya suka sekali dengan tulisan-tulisannya A.A. Navis ini. Kata-kata yang digunakannya sederhana mudah dimengerti, plotnya juga mudah diikuti, namun inti tulisannya tidak luput yaitu kritik terhadap sosio-religi. Ia tidak banyak menggunakan banyak metafora atau bunga-bunga sehingga saya mendapatkan kritiknya dengan mudah. Dan menurut saya justru membuat karya-karyanya begitu bagus.

A.A. Navis menunjukkan bahwa tidak perlu menjadi rumit untuk menciptakan sebuah mahakarya.

Comments

Popular Posts