Skip to main content

Kegiatan (yang Mungkin) Menarik Saat Weekend untuk Anak Kosan

Hidup ini tidak adil, pun dengan pembangunan di negeri ini yang tidak merata. Kesempatan kerja yang menarik hanya tersedia di kota-kota besar, terutama Jakarta. Saya, dan mungkin kalian, adalah orang-orang yang membutuhkan pekerjaan tersebut sehingga harus pindah kota. Karena tidak ada sanak saudara, kita akan memilih untuk ngekos. Kos yang dipilih biasanya dekat dengan kantor dengan tujuan penghematan ongkos.

Kalau kampung halaman saya berjarak sekitar 120 km dari ibukota, sebenarnya saya bisa pulang setiap minggu karena tidak memakan banyak waktu. Tapi kalau dihitung-hitung ongkos pulang perginya lumayan juga. Makanya saya hanya pulang dua atau tiga minggu sekali.

Kalau tidak pulang, saya menghabiskan banyak waktu di kosan. Seperti sekarang ini Kalau ada acara musik atau pameran seni, biasanya saya keluar kosan. Tapi kalau tidak ada sesuatu yang membangkitkan keinginan untuk keluar, mending di kamar saja. Lagipula keluar kosan sama dengan keluarnya uang, terutama untuk ongkos dan makan. Di Jakarta, sekali keluar, uang bisa habis sekitar 50-70 ribu. Itu sudah paket menengah seperti naik TransJakarta atau makan di cafe yang tidak terlalu mahal. Karena kalau makan di warteg, apa bedanya sama keseharian, ya toh?

Sehari atau dua hari di kosan bukan tanpa perjuangan. Waktu terasa lambat. Saat awal-awal saya ngekos, banyak waktu yang saya habiskan untuk tidur siang sampai pusing. Tapi ternyata banyak kegiatan untuk menghabiskan hari. Untuk kalian yang akan ngekos atau pengekos pemula (halah), saya punya beberapa tips supaya hidup kalian tidak membosankan:

1. Punya teman satu kosan. Untuk yang gemar bersosialisasi, teman patut dicari. Kalian bisa pergi bareng atau hangout di kamar masing-masing sambil main game atau nonton film. Bahkan kalian bisa pesan makanan bareng-bareng seperti Pizza. Yum!
2. Nonton film seri luar negeri. Kenapa harus dari luar negeri? Karena film seri di sana skenarionya bagus, bukan hanya mengandalkan peran jutek, zoom in zoom out, dan muka rupawan! Hindari nonton film yang sekali habis karena kalian masih punya waktu yang sangat panjaang. Tontonlah film seri karena kalian akan ketagihan dan lupa waktu. Kalau film yang sedang saya tonton adalah House of Cards. Ya, terlambat, tapi lumayan membunuh waktu.
3. Baca buku. Walaupun waktu tidak berjalan secepat nonton film, buku bisa menjadi hiburan sendiri. Banyak ilmu yang bisa didapat dari buku. Saran saya sih baca novel atau biografi, jangan buku tata negara atau statistik. Biarkanlah otak kalian istirahat dulu.
4. Punya televisi. Memang acara televisi banyak yang tidak mendidik, tapi kita bisa pilih acara-acara yang bagus. Kadang saat malam hari beberapa stasiun televisi memutar film bioskop. Saya punya televisi supaya tidak ketinggalan berita, cari hiburan ringan seperti ide project DIY, atau acara inspiratif seperti Kick Andy. Lebih bagus kalau kosannya ada fasilitas cable tv karena acara-acara luar negeri lebih menghibur dan mendidik ketimbang di dalam negeri.
5. Internet. Naah, karena kita kan anak muda di zaman yang teknologinya pesat, internet itu seperti sudah suatu kebutuhan. Seperti menempati urutan kedua di piramida kebutuhan Maslow setelah kebutuhan biologis. Hehe. Kalian bisa nonton video di YouTube, chatting dengan teman-teman di social media, atau menulis blog seperti ini.

Tapi kalau rezekinya berlebih, sebaiknya pulang sajalah. Kumpul dengan keluarga tidak bisa digantikan dengan apapun. Uang bisa dicari sementara quality time tidak.

Sebentar, saya nangis dulu di pojokkan. *edisi rindu*

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…