Skip to main content

Kenali Jakarta Melalui Halte

Saya senang naik TransJakarta (TJ), sebenarnya. Walaupun kadang jalurnya berputar agak jauh untuk menuju satu tempat, jalur TJ melewati tempat-tempat tujuan ternama di Jakarta seperti mall-mall besar, tempat wisata, gedung pemerintahan, dan lainnya. Bagi pendatang seperti saya, halte busway TJ juga bisa menjadi ancer-anceran untuk menuju ke suatu tempat. Selain itu juga ongkos bisa menghemat banyak.

TJ hanya nyaman digunakan saat kosong, biasanya di siang hari pada jam kerja atau akhir pekan. Untuk akhir pekan, sebaiknya jangan naik TJ jurusan daerah-daerah wisata keluarga seperti Kota Tua, Ancol, dan Ragunan karena kita akan berebutan dengan orang tua dan anak-anak yang lebih banyak memakan tempat duduk. Dan TJ mulai penuh lagi saat sore hari sebelum maghrib karena di saat itu orang-orang sudah selesai piknik.

Intinya, mendapatkan kenyamanan di TJ itu cukup jarang.

Jakarta sudah diguyur hujan beberapa hari ini. Kemarin, saat saya menghadiri pameran Eko Nugroho, adalah salah satunya. TJ yang saya tunggu datang cukup lama akibat daerah yang dilewatinya kebanjiran.

Kami menunggu sekitar satu jam, mengantri sambil berdiri. Halte Harmoni dipenuhi dengan orang-orang berkulit sawo matang yang mukanya berkilau karena minyak, dengan hidung-hidung bangir, dengan mata yang cemas menunggu sesuatu. Halte ini penuh dengan bau keringat. Dan juga lengan akan terasa lengket jika tidak sengaja bersentuhan dengan lengan orang lain.

Dengan kaki lelah, satu-satunya cara yang menghibur diri adalah memperhatikan orang-orang. Ada perempuan yang berpakaian seksi, ada yang memakai baju jaring-jaring seperti mau pentas dangdut, ada orang-orang yang pakai baju dengan selera buruk, ada laki-laki feminin, ada ibu-ibu yang pakai kerudung, ada perempuan cantik, dan lainnya. Menarik juga untuk melihat ekspresi mereka satu persatu, membuat saya lupa dengan menunggu.

Saya mengantri di tempat yang tidak jauh dari pintu datangnya bus. Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang langsung mendatangi pintu kedatangan karena mereka memang diprioritaskan dan diperbolehkan untuk masuk bus duluan. Tapi adaa saja yang bukan kategori prioritas yang ikut mengantri. Misalnya, seperti kemarin, seorang perempuan muda yang tidak hamil yang tetap saja bergeming meskipun sudah ditegur petugas TJ untuk antri di antrian reguler. Dan juga beberapa orang pria sehat walafiat yang masih kekeuh berada di tempat walaupun sudah disuruh antri ke belakang. Bahkan, ada yang menerobos masuk lewat antrian prioritas begitu pintu dibuka.

Sialan. Di mana pikiran orang-orang bebal ini?

Sebelum orang-orang keluar dari bus yang akan datang, petugas TJ meminta satu keluarga untuk tidak berada di dekat pintu karena menghalangi jalan dan pindah ke antrian prioritas. Tapi ibu itu malah marah-marah karena dia harus mengantri agak belakang. Duh, padahal jarak dia dengan pintu kedatangan cukup dekat dan bakal dapat tempat duduk pula. Ibu-ibu yang antri di depannya mengompori agar si ibu ini masuk dari pintu laki-laki. Sementara itu, anaknya si ibu ini meminta agar ibunya mengikuti peraturan petugas saja. Karena gemas, saya ikut komentar, "Bu, udah ikutin aja apa kata petugas. Pasti dapet tempat duduk kok!"

Jujur deh, saya enggak suka ibu-ibu. Terlalu banyak kejadian negatif tentang mereka.

Harus saya akui petugas merapikan dengan tegas. Mereka juga cukup ketat menjaga agar orang lain tidak menyela barisan (walaupun ada satu orang yang lolos). Petugas juga menekankan agar penumpang tidak pilih-pilih bus karena menghambat penumpang yang naik duluan. FYI, banyak orang yang enggak mau naik lho begitu dekat pintu masuk, karena mereka memilih bus selanjutnya dengan kemungkinan besar dapat tempat duduk.

Belum lagi begitu bus sudah jalan, kami dihadapkan macet setelah hujan. Orang-orang mengklakson tanda frustasi. Saya pernah naik Gojek dan bermacet-macetan. Walaupun tidak nyetir, rasanya stres juga lho. Saya jadi enggak heran kalau orang melampiaskan frustasinya lewat klakson panjang yang memusingkan.

Dulu saya berpikir mungkin tabiat orang Jakarta memang tidak sabaran. Tapi saya membayangkan kalau kendaraan pribadi sedikit, tidak ada macet, orang-orang lebih banyak menggunakan angkutan umum karena sistemnya baik, pasti orang-orang tidak akan stres di jalan. Bisa jadi tidak ada klakson di jalan (kecuali diperlukan). Lingkungan dan sanksi bisa membentuk tabiat seseorang kok. Pernah dengar cerita tentang orang Indonesia yang tiba-tiba berubah jadi teratur buang sampah di tempatnya atau menyebrang lewat zebra cross saat di Singapura?

Kalau kata si pacar, Jakarta ini over populated. Iya, harusnya orang-orang pendatang seperti saya tidak ikut menuh-menuhin Jakarta. Saya dengan senang hati pulang kampung jika pekerjaan seperti yang saya lakukan kini ada di Bandung. Pembangunan begitu terpusat di Jakarta sehingga daerah lain tidak kebagian sehingga orang numplek di sini.

Populasi yang banyak ini juga menciptakan berbagai masalah, misalnya kesemerawutan dan juga mental ingin menang sendiri seperti di halte tadi. Masalah-masalah itu jadi PR menumpuk dari pemerintahan zaman dulu karena lebih mementingkan pada pembangunan saja dan menumpuk kekayaan pribadi. Saya dan pacar berkelakar pasti Ahok pusing sekali mengurus Jakarta: ya banjir, ya tata kota dan infrastruktur, ya orang-orangnya.

Walaupun ada pencapaian-pencapaian yang terjadi di Jakarta pada pemerintahan saat ini, tetap saja untuk membenahi kota ini sepertinya akan lama sekali, apalagi kalau urusan mental. Mental orang-orang yang lompat pagar halte karena ingin cepat sampai padahal sudah disiapkan jembatan penyebrangan, mental orang yang membuka paksa pintu halte karena enggan kepanasan, atau mental pura-pura tidur karena enggan memberikan kursi kepada yang membutuhkan.

Saya punya tips untuk kalian yang merupakan pendatang baru di Jakarta:
1. Jangan bawa anak atau orang tua naik TJ, terutama di jam sibuk, karena kasihan kalau harus nunggu lama
2. Pakai sepatu yang nyaman untuk berdiri lama
3. Bawa buku atau music player biar tidak bosan dan emosi
4. Mending pulang malam sekalian agar busnya lowong
5. Kalau dirasa tidak kuat mental menghadapi kesemerawutan atau berencana akan menyela antrian, mending naik ojek saja

Semoga bermanfaat dan selamat datang di Jakarta!

Comments

Andika said…
Cerita transportasi umum ini seru banget, hehehe. Kemarin waktu ke Jakarta, gw dan Farida naik kereta commuter, dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Pasar Senen. Karena pengalaman pertama, jadinya senang. Keretanya bagus, ber-AC, jendelanya besar, kursinya memanjang dan saling berhadapan, tapi jaraknya nggak sedekat angkot atau bus Transjakarta. Jadinya kita bisa memperhatikan wajah orang lain, tanpa membuat orang itu merasa GR. (Kecuali mungkin kalau maksudnya memang begitu.)

Waktu terdengar pengumuman bahwa kereta mau sampai di Stasiun Pasar Senen, Farida bergembira. Karena hitungannya kami cuma naik satu kereta saja meskipun jaraknya jauh. Namun ternyata, keretanya enggak berhenti di Stasiun Pasar Senen. Hanya lewat saja, hahaha. Wajah Farida ketika kereta kami melewati Stasiun Pasar Senen: senang -> kaget -> heran -> tidak terima. Kami lantas turun di stasiun selanjutnya, Stasiun Gang Sentiong. Dari sana kami naik kereta ke arah sebaliknya, baru turun di Stasiun Pasar Senen.

Gw dengar tiket bus Transjakarta sekarang nggak bisa dibeli lagi secara eceran. Jadinya setelah itu, ke mana-mana gw naik ojek.
Nia Janiar said…
Hahaha, lucu amat itu Farida. Gue jadi ikut ngebayangin mukanya. Haha. Commuter juga gitu, enaknya saat di luar jam kerja. Kalau jam masuk atau keluar kantor, waduh, sama aja desek-desekan. Waktu itu gue pernah naik ke Bogor sama Niken dkk, seru juga naik kereta. Dan itungannya murah sekali untuk jarak jauh.

Iya, Dika, harus pakai kartu. Untuk pertama kali beli, harga kartunya Rp40.000, saldonya Rp20.000. Kalau udah punya sih bisa diisi ulang berapa aja. Ini akan memberatkan buat orang yang cuman sekali naik TransJakarta sih karena jadinya mahal sekali. Hehee.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…