Skip to main content

(Review Buku) Aruna dan Lidahnya

Jika kita berbicara tentang makanan, ah... lupakan. Makanan tidak seharusnya dibicarakan, tapi makanan seharusnya disantap. Apalagi untuk para foodist, makanan itu begitu kompleks dan bahkan mengandung filosofi tersendiri. Ada perpaduan rasa yang berbeda saat dihirup, dirasa saat pertama kali mengenai lidah, dan dirasa saat mencapai pangkal lidah. Jika padu padanannya seimbang, maka terciptalah sebuah kepuasan. Foodgasm!

Itu idealnya. Tapi hal itu terlalu rumit untuk saya yang makan hanya untuk kenyang. Lidah saya tumpul. Makan yang penting enak, sesederhana tidak terlalu asin atau manis. Dan yang penting mengenyangkan.

Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Makanan sebagai anugerah yang patut diapresiasi mungkin menjadi ide Laksmi Pamuntjak membuat buku Aruna dan Lidahnya. Buku ini berkisah tentang Aruna, seorang ahli wabah, yang berkeliling Indonesia untuk melakukan investigasi kasus flu burung. Bersama teman kantornya--yang kemudian disusul teman sesama foodist--Aruna menjelajah Bangkalan, Pamekasan, Palembang, dan Medan. Di luar kesibukannya melakukan investigasi, Aruna melakukan jelajah kuliner lokal.

Laksmi, yang juga menulis empat seri panduan makanan independen The Jakarta Good Food Guide, jelas membuktikan bahwa ia adalah orang yang mengerti atau berpengalaman di bidang makanan. Riset yang ia lakukan untuk buku ini juga hebat, bisa dilihat dari daftar pustaka dan, mungkin, hasil diskusi dengan pakar kuliner sebagaimana yang disebutkan di ucapan terima kasih. Masukan itu semua diceritakan ulang melalui pengalaman yang tokoh rasakan saat mengunjungi setiap tempat, disertai dengan deskripsi yang mendalam mengenai rasa.

Seketika, sendokku dan sendok Nadezhda berlomba masuk ke mangkok yang sama. Memang enak, enak sekali--bumbunya mantap dan mengikat, tapi kaldunya tetap terasa bersih, ringan, halus, tidak pekat dan kumuh oleh lemak dan vetsin. Rebung dan timun menjadikan kaldu semakin segar. Dan tekstur tekwan terasa pas justru karena ia telah lebih banyak meresap lembap. (hal. 194)

Namun dekripsi yang hadir setiap bab buku ini lama-lama menjemukkan. Daripada membahas satu topik yang mendalam, Aruna diceritakan seperti kutu loncat yang pindah dari satu restoran ke satu restoran lagi, sehingga makanan yang diceritakan terlalu banyak. Iya, buku ini memang menceritakan tentang makanan. Tapi menurut pendapat saya, buku ini terasa seperti seperti jurnal ketimbang novel. Membuat saya kesulitan untuk menikmatinya.

Sejenak, jalan seperti mimpi. Kulihat bubungan asap panggangan dan uap kuah yang menerobos pendar lampu ruko, hiruk-pikuk para pelanggan dan para penjaja makanan yang saling memekik, gerai-gerai yang sesak oleh termos air panas, kaleng dan botol minuman, sumpit dan sedotan, aneka kecap, sambal, minyak dan vetsin, mangkok-mangkok berisi bawang putih goreng, piring-piring berisi irisan bakso, aneka gorengan, simoay, lo mai kai, chee chong fan, segala jenis daging, pangsit, tahu, lumpiah, popiah, bacang, telur rebus matang, telur pitan, aneka sayur dan dedaunan aromatik, aneka kerupuk, udang, kepiting, kerang, cumi-cumi- mi lebar, mi tipis, mi keriting, mi karet, kwetiau, bihun, soun, bubur, nasi dalam rice cooker, kaldu bubur dan mi kuah, aneka pau, kue putu, kue lapis, onde-onde, kue talam, kue mangkok, kue keladi, kacang kenari, tau suan, cincau hijau, bakpia, liang teh, es campur, es jali-jali, es lo han kuo, loper majalah dan DVD bajakan yang keluar masuk restoran, anak-anak kecil yang berkeliaran sambil menjajakan pancake durian, sepeda motor dan bettor yang berdesak-desakkan dengan makanan dan para pejalan kaki dan meninggalkan konstelasi debu di sekitarnya. (hal. 256-257)

Fiuh.. melelahkan. Saat membaca buku ini, ada perasaan ingin segera menyudahinya namun sayang karena buku ini cukup tebal dan saya sudah kepalang membaca sampai di tengah-tengah buku. Ya sudah, saya coba untuk melanjutkan. Tapi akhirnya memutuskan berhenti dan memutuskan untuk langsung loncat sampai ke ending. Huhu.

Kembali lagi, ini hanya padangan personal saya. Tapi buku ini bukan tidak ada kelebihannya lho. Penjelasan tentang makanan di buku ini kadang membuat saya lapar dan menyesali kenapa saya tidak punya kemampuan mengapresiasi makanan. Apalagi kuliner Indonesia begitu kaya. Sayang jika hanya sekedar lewat melalui kerongkongan saja. :)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…