(Review Film) Nay

Djenar Maesa Ayu adalah salah seorang penulis ternama yang karyanya jarang saya cari kalau ke toko buku. Alasannya sederhana yaitu karena saya menyukai beberapa penulis lainnya. Jadi bukan karena karyanya jelek lho ya, tapi lebih ke masalah selera. Meskipun tidak fans, saya tetap baca beberapa bukunya.

Beberapa bulan yang lalu, Djenar sibuk memberitakan di Twitternya bahwa ia sedang menggarap sebuah film berjudul Nay (2015). Film ini ditayangkan di bioskop tertentu dan di tempat pemutaran film alternatif. Kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menonton di acara mingguan Sinema Rabu, bertempat di Pavillun 28, dan hanya membayar tiket Rp25.000 saja. Belum lagi, sutradara dan pemain filmnya hadir pula untuk diskusi.

Film berkisah tentang Nayla, seorang perempuan korban kekerasan ibunya dan korban pelecehan seksual bapak tirinya. Meskipun ibunya tahu tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan suami barunya, sang ibu meminta Nay tutup mulut demi kebaikan anaknya sendiri. Konflik diri yang dibawa sejak kecil ini harus berhadapan dengan konflik yang sedang dialaminya kini. Di tengah karirnya yang sedang menanjak, Nayla mendapatkan dirinya tengah hamil 11 minggu. Ben, pacarnya, ogah-ogahan untuk tanggung jawab.

Tokoh Nay diperankan oleh Sha Ine Febrianty. Film hanya memiliki latar belakang di dalam sebuah mobil yang jalan-jalan keliling Jakarta. Ine juga melakukan monolog sepanjang film--walaupun ada adegan komunikasi dengan orang lain yaitu menelepon pacar dan sahabatnya di telepon. Meskipun ruang geraknya sempit dan banyak monolog, film ini tidak membosankan.

Courtesy of Rumah Karya Sjuman

Saya jatuh cinta sekali dengan akting Ine. Mungkin karena dia sudah biasa main teater. Di dalam boks mobil itu, Ine berhasil menampilkan tiga perempuan yang berbeda: Nay sebagai dirinya kini, Nay sebagai anak, dan ibunya Nay. Saat memerankan Nay sebagai dirinya kini, Ine menghadap ke arah depan setir. Saat memerankan Nay sebagai anak, Ine berbicara ke sebuah kursi kosong yang ada di sebelah kirinya. Dan saat memerankan ibunya Nay, Ine mengalihkan perhatian ke arah luar jendela. Dan peralihan karakter itu dilakukan dalam waktu yang berdekatan sehingga mereka seolah-olah sedang mengobrol.

Saya menyampaikan apresiasi ini ke para pembicara. Djenar juga mengamininya dan ia juga jatuh cinta dengan kemampuan akting Ine. Dan rupanya Djenar sudah menujukan peran Nay untuk Ine semenjak skenario awal dibuat. Untungnya Ine yang sudah 15 tahun menolak main film ini mau dipinang oleh Djenar.

Meskipun Ine berpengalaman di bidang akting, main di film Nay bukan berarti tidak menimbulkan kecemasan lho. Ine bilang bahwa ia terbiasa dengan panggung atau ruang yang luas dan kini ia dihadapkan dengan ruang sempit (yaitu mobil). Untuk pendalaman tokoh, Ine merasa terbantu dengan Djenar yang betul-betul mengarahkan dengan detail tentang karakter Nay. Dan menurut Djenar, boks mobil itu merupakan representasi dari masyarakat yang mengurung perempuan. Standar-standar sosial membuat perempuan tidak bisa memiliki tubuhnya dengan seutuhnya karena tubuh perempuan jadi ditentukan didefinisikan oleh orang lain.

Syuting film ini hanya menghabiskan waktu tujuh hari. Lima harinya dihabiskan di jalan, berkeliling dengan mobil. Djenar bilang syuting di jalan ini dilakukan terburu-buru karena saat itu sedang marak-maraknya aksi begal. Hehe. Mana mobil yang dipakai mini cooper kan.. mobil bagus itu. :p

Di dalam sesi diskusi, hadir juga Ipung. Ia adalah DOP (director of photography), penata kamera dan lampu. Sinematografi film ini tidak membosankan karena Ipung memainkan lampu-lampu jalan yang direfleksikan pada latar depan kaca mobil atau juga sebagai latar belakang. Dan untuk itu, syuting ini banyak dilakukan di daerah yang banyak lampu seperti Sudirman, Kemang, dan Kuningan.

Courtesy of Sinema Rabu

Saya senang sekali hadir dalam kesempatan nonton bareng ini. Selain jadi tahu filmnya, saya bisa diskusi dan tahu cerita di baliknya. Agar merasakan kesan-kesan yang seru setelah menonton film Nay, sila cek ya ada di bioskop mana saja. Untuk yang ada di Jakarta, Pavilliun 28 memutar Nay hingga tanggal 30 Desember 2015. Film ini layak dan harus ditonton!

2 comments:

T3 said...

Ipung Rachmat Syaiful adalah DOP (director of photography), penata kamera dan lampu. :)

Nia Janiar said...

Maaf atas kekurangan informasinya. Terima kasih ya untuk tambahannya.. :)