Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2016

29 My Age

Hari ini usia menginjak 29 tahun. Menjelang umur ini, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak deg-degan, tidak senang, dan tidak khawatir--mengingat saya belum menikah. Banyak teman-teman di usia saya yang belum menikah kemudian ia merasa cemas. Mungkin kondisi yang woles ini banyak dibantu oleh beberapa hal, seperti banyaknya teman-teman kantor saya yang masih muda sehingga kecil tuntutan untuk rewel tentang pernikahan. Bisa jadi karena mereka adalah pemuda-pemudi ibukota yang cukup terbuka pemikirannya untuk tidak melulu memikirkan tentang pernikahan dan kemudian memaksa orang lain. Faktor lainnya adalah keluarga saya juga yang tidak bertanya kapan menikah (mereka lebih sering bertanya tentang beasiswa). Atau mungkin saya dan pacar sudah membicarakan tentang rencana kami untuk menikah segera setelah uangnya terkumpul.



Seiring dengan pertambahan usia, otomatis si pacar terlibat dengan rencana-rencana saya. Karena saya ingin lebih maju, maka ia pun harus maju agar bisa jalan beriringan. K…

(Review Film) Amarta

Pembangunan seperti dua sisi mata uang. Yang satu memiliki manfaat seperti menghidupi orang-orang di sekitarnya, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah seperti sektor pariwisata. Tapi yang satu memiliki kerugian seperti lingkungan yang serba modern sehingga merusak tatanan nilai lama, membuat macet, dan menganggu lingkungan.

Teman-teman saya di Yogyakarta mengeluhkan dengan meningkatnya pembangunan hotel di kota ini. Saat akhir pekan, warga Yogyakarta memilih untuk berada di rumah saja karena pasti macet di mana-mana. Selain jadi macet, ternyata air tanah juga berpengaruh. Hal ini dialami juga oleh Bambang "Ipoenk" K.M. yang merasa air tanah di rumahnya kini berwarna cokelat. Keluhan ini ia protes melalui film independent berjudul Amarta (Gadis dan Air).

Film ini berkisah tentang para warga yang mengeluhkan hilangnya air di desa mereka. Keresahan warga ini ditangkap oleh seorang perempuan muda. Ia mendapatkan informasi bahwa para warga terpaksa beli a…

(Review Musik) Sinestesia

Keinginan untuk menghadirkan band paling disukai sepanjang masa ke kantor dan ditonton bersama penonton yang sedikit sehingga bisa lebih intim adalah keinginan yang pada mulanya saya anggap tidak mungkin. Efek Rumah Kaca (ERK) adalah band kesukaan saya sejak dahulu. Saya selalu sempatkan untuk menonton konser mereka. Hati saya ikutan sedih sedikit saat sang vokalis, Cholil, pergi ke luar negeri untuk bersekolah sehingga band ini vakum cukup lama. Saat Pandai Besi yang merupakan sister bandmereka tampil tanpa Cholil, saya enggak mau nonton. Karena ERK adalah ketiga personilnya yaitu Cholil, Adrian, dan Akbar. Tanpa salah seorang dari mereka rasanya akan kurang.
Untuk ukuran band indie, nama ERK begitu band besar dan ia disegani oleh para juniornya. Kemarin teman saya bertanya, mengapa saya suka ERK. Bagi saya, ERK memiliki lirik lagu yang bagus dan berisi, tanpa sumpah serapah. Liriknya beragam dan tajam. Tidak berkisah tentang percintaan, tapi lebih luas dari itu. ERK peka terhadap s…

Jurang

Abad membeku
di jurang-jurang waktu.  Sunyi yang kerdil
menggelinding menjadi
gema yang kecil-kecil
--menjadi kerikil.  Lalu, menjadi batu
di tebing curam kepalamu. -----------------------------------------------

Puisi dibuat oleh teman saya yang sebentar lagi akan terkenal, Beni Satryo. Puisinya bagus-bagus. Tipikal Sapardi--sederhana tapi bermakna. Bahasanya tidak njelimet. Tipikal yang mudah dimengerti dalam satu kali baca. Sayangnya dia enggak punya blog, jadi tidak bisa lihat karyanya. Tapi kicauannya bisa dilihat di Twitter miliknya.

Beberapa hari yang lalu, dia ingin memperlihatkan prosesnya dalam membuat puisi. Beni meminta satu kata, saya memilih kata "jurang". Ia mengajak brainstorming kata-kata apa saja yang berasosiasi dengan kata "jurang". Hingga akhirnya tercipta puisi ini. Ia sudah terbiasa menciptakan puisi dengan kata-kata yang "dipesan" seperti ini karena Beni pernah punya bisnis membuat puisi berdasarkan di pesanan. Heheh. Bahkan ada b…

(Review Musik) Barasuara

Keindahan kata-kata tidak hanya bisa diekspresikan melalui tulisan, tapi juga bisa diekspresikan melalui lagu. Lirik lagu yang ceritanya tidak klise, pemilihan kata yang tidak umum, dan puitis menjadi nilai tambah untuk membuat saya suka pada sebuah band. Puitis tidak harus melulu berbicara tentang cinta atau keindahan alam. Sebuah kritik terhadap sosial juga bisa disajikan secara puitis, seperti yang dilakukan Efek Rumah Kaca (ERK).

ERK adalah satu-satunya band Indonesia yang saya suka. Tapi akhir-akhir ini saya tertarik pada band lainnya yaitu Barasuara. Pertama kali saya mendengar Barasuara yaitu saat mereka dan ERK melakukan pertunjukkan kolaborasi tahun lalu. Wah, liriknya bagus dan musiknya bersemangat. Kesan saya positif sekali dengan band ini. Tampaknya yang terpincut tidak hanya saya saja. Barasuara diinginkan oleh para pendengar baru. Semenjak pertunjukkan kolaborasi itu, Barasuara hampir ada di semua media.

Beberapa hari yang lalu, Barasuara mampir ke kantor saya untuk mela…