Skip to main content

29 My Age

Hari ini usia menginjak 29 tahun. Menjelang umur ini, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak deg-degan, tidak senang, dan tidak khawatir--mengingat saya belum menikah. Banyak teman-teman di usia saya yang belum menikah kemudian ia merasa cemas. Mungkin kondisi yang woles ini banyak dibantu oleh beberapa hal, seperti banyaknya teman-teman kantor saya yang masih muda sehingga kecil tuntutan untuk rewel tentang pernikahan. Bisa jadi karena mereka adalah pemuda-pemudi ibukota yang cukup terbuka pemikirannya untuk tidak melulu memikirkan tentang pernikahan dan kemudian memaksa orang lain. Faktor lainnya adalah keluarga saya juga yang tidak bertanya kapan menikah (mereka lebih sering bertanya tentang beasiswa). Atau mungkin saya dan pacar sudah membicarakan tentang rencana kami untuk menikah segera setelah uangnya terkumpul.



Seiring dengan pertambahan usia, otomatis si pacar terlibat dengan rencana-rencana saya. Karena saya ingin lebih maju, maka ia pun harus maju agar bisa jalan beriringan. Kalau dulu kami woles, sekarang kami saling mengusahakan untuk merencanakan hidup yang lebih baik--terutama dari sisi finansial. Kami ingin hidup teratur. Saya melakukan perencanaan keuangan seperti membagi tabungan dan melakukan investasi di beberapa hal. Si pacar juga sedang berusaha menyelesaikan project-projectnya. Ya mudah-mudahan uangnya terkumpul, tidak hanya untuk menggelar upacara pernikahan, tapi untuk kehidupan selanjutnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu harus memikirkan banyak hal. Saya jadi mengevaluasi pemasukkan saya dan memikirkan untuk mencari kesempatan lain. Beban sih karen hidup jadi terasa lebih serius, tapi ini bukan beban yang saya sangkal. Anggap saja ini tantangan yang perlu dilewati. Biasanya orang menyesal dan merasa menjadi dewasa adalah sebuah beban karena harus memikirkan A, B, C, dan D. Tapi sebenarnya kalau mau dibikin tidak ada beban itu bisa kok. Ya puas saja dengan hasil yang dicapai sekarang. Terus saja berada di zona nyaman sampai tua. Masalahnya, saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang. Saya merasa saya bisa lebih baik dari sekarang. Caranya? Ya dengan beban-beban tadi. Sama seperti olahraga, supaya memiliki otot yang sehat dan bagus ya harus latihan beban.

Tadi malam, si pacar bertanya apakah keteraturan hidup berkorelasi dengan kebahagiaan. Kayaknya bahagia itu kita ciptakan sendiri, apapun kondisinya. Banyak orang yang hidupnya sudah teratur juga merasa tidak bahagia. Ya mudah-mudahan, pertambahan usia beserta pekerjaan rumahnya tidak membuat kami lupa untuk melakukan hal-hal yang kami sukai dan mengapresiasi hal-hal kecil di sekeliling kami.

Wish me luck! :)

Comments

Sundea said…
Good luck and happy birthday, Niaaa :D
Nia Janiar said…
Thanks, Dea!

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…