Skip to main content

(Review Film) Amarta

Pembangunan seperti dua sisi mata uang. Yang satu memiliki manfaat seperti menghidupi orang-orang di sekitarnya, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah seperti sektor pariwisata. Tapi yang satu memiliki kerugian seperti lingkungan yang serba modern sehingga merusak tatanan nilai lama, membuat macet, dan menganggu lingkungan.

Teman-teman saya di Yogyakarta mengeluhkan dengan meningkatnya pembangunan hotel di kota ini. Saat akhir pekan, warga Yogyakarta memilih untuk berada di rumah saja karena pasti macet di mana-mana. Selain jadi macet, ternyata air tanah juga berpengaruh. Hal ini dialami juga oleh Bambang "Ipoenk" K.M. yang merasa air tanah di rumahnya kini berwarna cokelat. Keluhan ini ia protes melalui film independent berjudul Amarta (Gadis dan Air).

Film ini berkisah tentang para warga yang mengeluhkan hilangnya air di desa mereka. Keresahan warga ini ditangkap oleh seorang perempuan muda. Ia mendapatkan informasi bahwa para warga terpaksa beli air dan bekerja kepada seseorang yang dipanggil Bos. Melalui kemampuannya dalam mendapatkan pencerahan, perempuan muda tersebut mengetahui bahwa Amarta, Dewi Air yang dipercaya oleh warga sekitar, ditahan oleh Bos. Air dapat mengalir kembali jika Amarta dibebaskan. Si perempuan akhirnya melakukan hal-hal untuk membebaskan dewi tersebut.

Foto milik https://jaff-filmfest.org/

Saya suka sekali dengan film yang berdurasi 26 menit ini. Penonton dimanjakan secara visual karena Ipoenk, yang bertindak sebagai sutradara, membuat konsep dongeng untuk film ini. Film ini begitu unik karena para tokoh bermain di atas panggung dengan properti yang terbuat dari dus yang dilukis, membentuk pohon, rumah, perkampungan, gua, hutan, dan lainnya. Properti-properti tersebut dilukis dan dibuat sangat bagus sekali sehingga penonton akan merasa berada di dunia dongeng. Ini juga didukung dengan tata cahaya dan make up dengan konsep pop art. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan subtitle Inggris. Selain itu, ada adegan dewi bernanyi sebuah lagu berbahasa Jawa dengan merdu. Wah, pokoknya puas nonton filmnya.

Untungnya Ipoenk hadir pada pemutaran film ini di Kineforum Taman Ismail Marzuki pada hari Sabtu (23/01) dan menceritakan proses pembuatan filmnya. Film yang dibuat untuk ajang kompetisi yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Yogyakarta ini dibuat dalam waktu satu tahun. Konsep dongeng sengaja ia tonjolkan karena film ini ditujukan untuk anak-anak. Film ini rencananya akan dibuat versi DVD dan diputar di berbagai sekolah di Yogyakarta. Baru di situ ia akan tahu respon anak-anak melihat film ini deh.

Wah, kalau ada screening film ini di kotamu, mending nonton deh. Visual kita akan termanjakan sekali. Menurut saya, film dengan rasa teater ini bagus tidak hanya secara tampilan saja, tetapi juga cerita. Keren!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…