Skip to main content

(Review Musik) Barasuara

Keindahan kata-kata tidak hanya bisa diekspresikan melalui tulisan, tapi juga bisa diekspresikan melalui lagu. Lirik lagu yang ceritanya tidak klise, pemilihan kata yang tidak umum, dan puitis menjadi nilai tambah untuk membuat saya suka pada sebuah band. Puitis tidak harus melulu berbicara tentang cinta atau keindahan alam. Sebuah kritik terhadap sosial juga bisa disajikan secara puitis, seperti yang dilakukan Efek Rumah Kaca (ERK).

ERK adalah satu-satunya band Indonesia yang saya suka. Tapi akhir-akhir ini saya tertarik pada band lainnya yaitu Barasuara. Pertama kali saya mendengar Barasuara yaitu saat mereka dan ERK melakukan pertunjukkan kolaborasi tahun lalu. Wah, liriknya bagus dan musiknya bersemangat. Kesan saya positif sekali dengan band ini. Tampaknya yang terpincut tidak hanya saya saja. Barasuara diinginkan oleh para pendengar baru. Semenjak pertunjukkan kolaborasi itu, Barasuara hampir ada di semua media.

Beberapa hari yang lalu, Barasuara mampir ke kantor saya untuk melakukan wawancara dan recording performance mereka. Tidak hanya pegawai kantor saja, Barasuara juga mengumumkan kepada para fansnya, jadi semua orang bisa menonton. Karena ini bukan acara komersil, jadi yang nonton tidak terlalu banyak. Semacam private gig!

Foto dokumentasi milik Kotak Musik MI.
Sesi wawacara. Foto dokumentasi pribadi.
Foto dokumentasi pribadi.

Saya juga membeli CD asli mereka. Yes! Saya tidak membajak. Di dalam album yang berjudul Taifun, terdapat sembilan buah lagu, yang lima di antaranya sudah saya dengar di YouTube. Gebukan drum dan gesekan gitarnya begitu seru sehingga tidak membuat jenuh. Aransemen setiap lagunya juga berbeda sehingga penuh kejutan, salah satu yang mengejutkan adalah Taifun. Jika lagu lain mengajak pendengar untuk headbanging, lagu Taifun lebih mengajak untuk lari sambil lompat-lompat kecil di pedesaan.

Oke, saya kasih bocoran sedikiiit saja tentang wawancara kemarin. Vokalis, frontman, dan pencipta lirik Barasuara Iga Massardi mengakui bahwa Taifun adalah lagu yang paling berkesan untuknya karena lagu ini diciptakan saat sang anak mau lahir. Lagu ini seperti berisi petuah-petuah yang diberikan pada anak.

"Di dalam hidup ada saat untuk berhati – hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu."

Benar-benar sebuah angin segar di tengah band yang menghembuskan nafas percintaan nan sendu. Barasuara tidak menyuguhkan kelesuan, justru Barasuara membuat ingin berseru, tanpa muatan negatif atau musik yang berisik. Bahkan pimpinan redaksi saya pun suka. Dia memuji dua kali di depan tim saat pertunjukkan usai. Hehe. Wajib dengar!

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…