Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Senjakala Supernova

Saya teringat, sebelas tahun lalu, saya membeli buku Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari. Saat itu saya masih kuliah dan itu adalah novel yang pertama kali saya beli. Maklum, ketertarikan saya pada buku dan nulis baru muncul saat kuliah, sebelumnya entah pada apa. Kesan pertama yang masih teringat jelas adalah saya enggak ngerti buku ini. Temanya berat. Tapi saya suka sekali dengan gaya bahasanya--romantis dan puitis. Rumit, berbelit-belit, dan setidaknya kalau saya menggunakannya untuk membuat cerita pendek, akan terlihat pintar.

Iya, proses idolalisasi (halah) kepada penulis yang akrab disebut Dee memang sedangkal itu. Saya jatuh cinta pada caranya berbahasa. Saya benar-benar menirunya kala itu. Melalui karyanya, Dee membantu saya memasuki dunia tulis menulis. Setelah masuk, saya berevolusi. Gaya penulisan saya berubah, seiring dengan idolalisasi penulis lain.


Hari ini, Dee melakukan peluncuran seri Supernova terakhir yaitu Intelegensia Embun Pagi (IEP).…

(Review Buku) Lelaki Harimau

Membaca buku harusnya menghibur. Hiburan bukan berarti tidak ada isinya. Selain masalah konten, hiburan bisa didapat dari keindahan berbahasa. Hiburan itu penting sekali, apalagi jika hiburannya meninggalkan kesan setelah pembaca sampai di halaman akhir sebuah buku. Cerita itu akan selalu diingat, tokohnya juga terasa nyata.

Salah satu pengarang yang bagi saya menghibur adalah Eka Kurniawan. Perkenalan saya dengan Eka bermula saat membaca di suatu artikel dua tahun lalu. Benedict Anderson, seorang ilmuwan dari Cornell University, menyebutkan bahwa Eka adalah penerus Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Seno Gumira Ajidarma juga menyebut ia sebagai penulis muda yang menjanjikan. Wah! Saya jadi penasaran. Saya mulai mencarinya di internet. Saat itu, saya baru tahu dua buku ya ia terbitkan yaitu Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka.

Cantik itu Luka telah saya baca bersamaan dengan karya-karya lainnya. Justru Lelaki Harimau yang menuai banyak pujian ini belum saya baca karena saat itu jarang ditemu…

Romeo Juliet dari Citepus*

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap "aib" karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pad…

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Sepertinya seru sekali kalau punya pacar romantis yang mau motong senja buat saya. Heheh. Kalau pacar saya, selain tidak romatis, kayaknya agak susah ya buat motong senja. Namun lain halnya dengan Sukab. Sukab memang sengaja memotong senja sebesar kartu pos untuk pacarnya bernama Alina. Keindahan senja yang langitnya bermega-mega seperti mimpi itu membuat Sukab ingin mengoleh-olehkan keindahan untuk kekasihnya. Senja itu dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui pos. Meskipun setelahnya ia harus dikejar-kejar oleh polisi karena mencuri senja. Meskipun tukang pos harus mengarungi waktu 40 hari 40 malam untuk sampai ke alamat tujuan. Dan meskipun bukannya senang, Alina malah marah-marah karena senja kiriman Sukab membuatnya terkena bencana.

Sukab, Alina, dan Tukang Pos adalah tokoh ciptaan Seno Gumira Ajidarma di buku antologi "Sepotong Senja Untuk Pacarku". Setiap tokoh diceritakan dalam sebuah cerpen. Meskipun saya belum baca, tapi saya tahu jalan ceritanya karena Sabtu…

Televisi

Televisi di kamar kosan saya berbulan-bulan mati. Sepertinya mati stand by. Kadang mau nyala kalau beruntung, tapi seringnya tidak. Inginnya saya nyalakan terus-terusan, karena televisi ini memiliki kecenderungan enggak mau nyala lagi setelah dimatikan. Stand by-nya tidak berfungsi. Tapi takutnya meledak terus membakar kosan. Wah, gawat deh urusan.

Harusnya segera diperbaiki, tapi kok rasanya malas sekali. Tapi lama-kelamaan sepi juga kalau televisi nggak nyala. Awal niat saya beli adalah supaya ada suara-suara yang nemenin saat mau tidur, saat makan atau saat mandi. Walaupun banyak acara yang enggak banget, asal bisa memilih, televisi bisa jadi distraksi. Lumayan ada film-film bioskop yang menghibur atau acara talkshow yang informatif.

Tapi si kotak tipis itu mati. Layarnya hitam, sepi. Aduh apalagi kalau malam menjelang, paranoid membuat saya menciptakan suara-suara yang saya anggap barangkali ada hantu di ujung lorong sana. Perasaan ini agak berkurang sedikit kalau tetangga sebelah…