(Review Buku) Lelaki Harimau

Membaca buku harusnya menghibur. Hiburan bukan berarti tidak ada isinya. Selain masalah konten, hiburan bisa didapat dari keindahan berbahasa. Hiburan itu penting sekali, apalagi jika hiburannya meninggalkan kesan setelah pembaca sampai di halaman akhir sebuah buku. Cerita itu akan selalu diingat, tokohnya juga terasa nyata.

Salah satu pengarang yang bagi saya menghibur adalah Eka Kurniawan. Perkenalan saya dengan Eka bermula saat membaca di suatu artikel dua tahun lalu. Benedict Anderson, seorang ilmuwan dari Cornell University, menyebutkan bahwa Eka adalah penerus Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Seno Gumira Ajidarma juga menyebut ia sebagai penulis muda yang menjanjikan. Wah! Saya jadi penasaran. Saya mulai mencarinya di internet. Saat itu, saya baru tahu dua buku ya ia terbitkan yaitu Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka.

Cantik itu Luka telah saya baca bersamaan dengan karya-karya lainnya. Justru Lelaki Harimau yang menuai banyak pujian ini belum saya baca karena saat itu jarang ditemukan di toko buku. Sepertinya Eka sedang naik sekali di tahun ini sehingga buku-bukunya diterbitkan ulang dengan cover baru, maka kini mudah sekali mendapatkan Lelaki Harimau. Akhirnya, setelah melalui berbagai distraksi, buku yang terbilang tipis ini selesai juga. Baru saja. Ya, sekarang pukul lima dini hari, dan saya sulit tidur, jadi saya putuskan harus menuntaskan hari ini juga.

Hati-hati spoiler. Yang berniat tidak akan baca, boleh lanjut.

Foto dokumen pribadi.
Lelaki Harimau bercerita tentang Margio, seorang pemuda yang memiliki harimau putih di dirinya. Rupanya generasi pendahulu Margio melakukan "perkawinan" dengan harimau dan anak hasil kawin silang itu mendatangi generasi mudanya--termasuk Margio. Suatu saat, harimau ini keluar dan menggigit Anwar Sadat, seorang pria yang sering mengajak Margio untuk berburu babi hutan, tepat di leher dan mencabiknya berkali-kali.

Di novel ini diceritakan secara terperinci tentang Margio, setiap anggota keluarga Margio, Anwar Sadat, dan setiap anggota Anwar Sadat. Margio memiliki ayah yang gemar sekali memukul seluruh anggota keluarganya. Nuraeni, sang istri yang sekaligus ibunya Margio, memendam kekesalan yang tidak terucap terhadap suaminya semenjak mereka pacaran hingga si suami meninggal dunia. Sang ibu yang setiap melakukan hubungan seksual dengan suami lebih terlihat seperti adegan pemerkosaan, menemukan kehangatan di diri Anwar Sadat. Ibarat perempuan yang baru merasakan nikmatnya dan bahagianya bercinta, Nuraeni kerap mengunjungi Anwar Sadat hingga Nuraeni hamil. Margio akhirnya tahu bahwa sang ibu hamil bukan dengan ayahnya, tapi ia memutuskan untuk tidak membenci Anwar Sadat karena baru kali ini ia melihat wajah ibunya yang begitu bahagia.

Di saat yang sama, Margio jatuh cinta dengan Maharani, putrinya Anwar Sadat. Tapi hubungan mereka terasa mengganjal jika Margio tidak jujur pada Maharani bahwa ayahnyalah yang menghamili ibunya. Maharani pun marah dan memutuskan untuk pulang ke kota. Di tengah kegalauan tersebut, Margio menghampiri Anwar Sadat dan menemukan bahwa pria itu tidak mencintai ibunya.

Sepanjang novel, Eka mengajak pembaca untuk latar belakang cerita setiap karakter sampai tahu alasan mengapa Margio membunuh Anwar Sadat. Eka bercerita dengan plot maju-mundur yang sangat halus sehingga pembaca tidak menyadari saat perpindahan plot terjadi. Selain itu, hal yang paling saya suka dari Eka adalah diksinya. Terutama di kalimat ini:

Masih lenyap beberapa waktu saat mereka tercenung, serasa hilang sadar, mencium bau amis darah yang menggelosor dari leher serupa pipa ledeng yang bocor, dan seorang bocah berjalan panik sempoyongan, dihantam kesemberonoannya sendiri, dengan mulut dan gigi penuh warna merah, semacam moncong ajak meninggalkan sarapan paginya. (hal 4)

Selain itu, hal yang paling saya suka dari Eka adalah ia bisa mengemas hal serius tanpa menjadi kaku, seperti yang ia lakukan di novel Cantik itu Luka dan di novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Sehingga karya-karyanya ibarat minum air dingin di siang hari: segar. Eka juga terkenal dengan penggambaran adegan seksual yang cukup eksplisit tapi tidak senonoh. Walaupun begitu, novel-novelnya tidak cocok dibaca untuk remaja di bawah umur.

Kalau dipikir-pikir, kayaknya Eka adalah penulis yang bisa membuat orang yang jarang baca menjadi bisa menyukai sastra. :)

Comments

Popular Posts