Skip to main content

Senjakala Supernova

Saya teringat, sebelas tahun lalu, saya membeli buku Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari. Saat itu saya masih kuliah dan itu adalah novel yang pertama kali saya beli. Maklum, ketertarikan saya pada buku dan nulis baru muncul saat kuliah, sebelumnya entah pada apa. Kesan pertama yang masih teringat jelas adalah saya enggak ngerti buku ini. Temanya berat. Tapi saya suka sekali dengan gaya bahasanya--romantis dan puitis. Rumit, berbelit-belit, dan setidaknya kalau saya menggunakannya untuk membuat cerita pendek, akan terlihat pintar.

Iya, proses idolalisasi (halah) kepada penulis yang akrab disebut Dee memang sedangkal itu. Saya jatuh cinta pada caranya berbahasa. Saya benar-benar menirunya kala itu. Melalui karyanya, Dee membantu saya memasuki dunia tulis menulis. Setelah masuk, saya berevolusi. Gaya penulisan saya berubah, seiring dengan idolalisasi penulis lain.

Keluarga ciamik: Dewi Lestari, Imelda Rosalin, Arina Ephipania

Hari ini, Dee melakukan peluncuran seri Supernova terakhir yaitu Intelegensia Embun Pagi (IEP). Iya, yang terakhir, setelah lima belas tahun ia membuat Supernova. Tepatnya saat ia berusia 25 tahun. Peluncuran ini begitu intim karena ia mengajak seluruh keluarganya hadir, termasuk Imelda Rosalin, Arina Ephipania, dan mantan suami Marcell Siahaan. Beberapa artis hadir seperti Dinda Kanya Dewi, Chicco Jerikho (akhirnya lihat penampakan aslinya secara langsung), Amanda Zevannya, Joko Anwar, dan Alvin Adam. Para artis tersebut, kecuali Alvin, melakukan pembacaan petikan setiap seri buku Supernova. Misalnya Chicco membaca petikan cerita di Akar, Dinda membaca Partikel, dan Amanda membaca Petir. Setiap perpindahan pembacaan novel, Dee, Imelda, dan Arina menyanyikan lagu-lagu.

Dewi Lestari membuka pembacaan cerita.

Chicco Jericko. Oh, ternyata begini aslinya. *cukup tau aja*

Amanda Zevannya

Dinda Kanya Dewi. Makasih ya tweet saya sudah di-retweet. Hehe.

Joko Anwar menceritakan dengan logat batak yang lucu.

Dee bercerita tentang prosesnya membuat heksalogi Supernova. Seri ini bermulai justru dari sebuah kenekatan. Mulanya ia adalah seorang penulis yang sama dari penulis pada umumnya: mengalami penolakan di majalah dan penerbitan. Mimpinya hanya satu: ia ingin melihat karyanya di pajang di rak toko buku. Akhirnya ia mencoba menerbitkan sendiri naskah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dengan mencetak 5.000 eksemplar. Ternyata cetakan tersebut gagal. Karena tidak bisa dijual, ia dan teman-temannya melakukan gerilya dengan menjual murah, dari Rp30 ribu menjadi Rp17.5 ribu, dan memberikan secara cuma-cuma kepada wartawan untuk promosi. Walah, saya sebagai wartawan, jadi kasihan pada profesi sendiri. Hahaha.

Mulanya ia mau membuat Supernova sebagai trilogi. Tapi saat mengerjakan Akar yang seharusnya merupakan salah satu bab, naskah berkembang sebesar-besarnya sehingga harus menjadi satu buku. Karena harus konsisten, Dee memutuskan untuk menjadikan setiap bab sebagai satu buku, hingga akhirnya mencapai buku keenam. Dia juga mengakui mulanya menyesal karena jadi memberatkan diri sendiri. Haha. Bahkan suaminya menambahkan bahwa sempat ada sesi terapi dan akupuntur untuk membuat Dee tetap "waras". Suaminya juga bercanda, "Jangan-jangan ini alasannya dia mau menikahi saya." Hihi, lucu ya.

IEP yang super tebal ini ternyata berawal dari kumpulan pengalaman pribadinya. "Ibaratnya saya membuat jaring laba-laba dan saya harus menyatukan semua itu. Pengalaman pribadi saya menjadi naskah mentah saya," katanya. Pembuatan IEP relatif singkat yaitu satu tahun. Tapi memang diperlukan dedikasi untuk bisa menghasilkan IEP. Dee bercerita dia menulis laksana orang kerja kantoran. Ia juga membuat target jumlah kata yang harus dihasilkan dan kapan harus selesai. Dia menulis setiap hari, sampai menolak beberapa undangan talk show karena tidak ingin terdistraksi. "Bahkan suami saya jadi (makan) rantangan. Buku-buku siswa milik anak-anak saya jadi tidak ditandatangan," guraunya.

Dari semua karyanya, Dee mengaku bahwa novel yang paling butuh banyak energi untuk riset adalah Partikel dan Gelombang. Kalau kesulitan membuat IEP bukan pada risetnya, tapi membuat struktur cerita. Di novel terbarunya, Dee harus membuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dari novel-novel sebelumnya. Selama proses pembuatan novel, Dee merasakan berbagai kesan persaan seperti sedih, senang, excited, euforia, dan jatuh cinta. Kesan-kesan itu juga harus dirasakan oleh pembacanya. Makanya ia harus berhati-hati dalam memilih kata dan menyusun cerita sedemikian rupa. Lagipula, novel terakhir memang harus jadi gong, bukan? Hehe.

Novel yang paling saya suka dan paling berkesan adalah Petir. Di situ Dee bisa menulis tokoh yang lucu sekali. Nah, kalau IEP, saya belum tahu bagaimana ceritanya karena harganya cukup lumayan yaitu Rp118.000. Nanti aja, saya tidak terburu-buru. Apalagi PR membacanya juga banyak. Jadi sepertinya belum ada review IEP dalam waktu dekat ini. *berasa ditunggu* :p

Pembacaan Supernova terakhir. Haru biru.

Peluncuran tadi meninggalkan sedikit rasa haru di hati saya. Meski sekarang Dee bukan idola nomor satu saya, tapi ia dan Supernova telah menemani selama sebelas tahun saya menjalani passion saya: menulis. Ia bilang bahwa menulis tidak perlu dipikir apakah karyanya harus menjadi masterpiece. Menulis adalah sebuah proses. Ibarat orang yang harus olahraga setiap hari agar tubuhnya berotot, menulis harus dilatih terus menerus. Saya sebagai penulis yang juga ingin menerbitkan buku sendiri (bukan kolaborasi) dan ada di rak best seller kemudian karyanya ditunggu-tunggu penggemar, akan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi. Ugh!

Senang sekali bisa menemukan cara untuk melampiaskan emosi melalui menulis. Senang sekali saya bertemu dengan Dee yang membukakan pintu kepada dunia yang baru. Selamat tinggal, Supernova. Sampai berjumpa kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…