Televisi

Televisi di kamar kosan saya berbulan-bulan mati. Sepertinya mati stand by. Kadang mau nyala kalau beruntung, tapi seringnya tidak. Inginnya saya nyalakan terus-terusan, karena televisi ini memiliki kecenderungan enggak mau nyala lagi setelah dimatikan. Stand by-nya tidak berfungsi. Tapi takutnya meledak terus membakar kosan. Wah, gawat deh urusan.

Harusnya segera diperbaiki, tapi kok rasanya malas sekali. Tapi lama-kelamaan sepi juga kalau televisi nggak nyala. Awal niat saya beli adalah supaya ada suara-suara yang nemenin saat mau tidur, saat makan atau saat mandi. Walaupun banyak acara yang enggak banget, asal bisa memilih, televisi bisa jadi distraksi. Lumayan ada film-film bioskop yang menghibur atau acara talkshow yang informatif.

Tapi si kotak tipis itu mati. Layarnya hitam, sepi. Aduh apalagi kalau malam menjelang, paranoid membuat saya menciptakan suara-suara yang saya anggap barangkali ada hantu di ujung lorong sana. Perasaan ini agak berkurang sedikit kalau tetangga sebelah kamar sudah datang. Setidaknya kalau ada suara gaduh, itu berasal dari kamar sebelah.

Mengurus televisi itu malas sekali. Harus mencari tukang service. Itu juga belum tentu terpercaya. Kemudian harus membawa televisi tersebut ke tempat tujuan, nego harga, kemudian membawa lagi pulang ke kosan. Terus jadi membayangkan kalau sudah punya rumah sendiri, pasti banyak yang harus diperbaiki seperti pompa, mesin cuci, kulkas, dst males banget. Kemudian saya browsing mencari tukang service yang bisa dipanggil ke rumah. Ada, letaknya di Muara Karang, cukup jauh dari sini. Tapi sembari menimbangkan dia, saya bertanya-tanya ke teman-teman.

Ternyata temen-temen akamsi tidak pernah service televisi sehingga tidak tahu tempat service terdekat. Untungnya ada satu teman yang ternyata di dekat kontrakannya ada tukang service. Letaknya di Jalan Kembangan Utara. Saya pergi ke sana dan menemui Pak Halim. Saya menceritakan keluhan masalah televisi saya dan dia bilang kira-kira biasanya Rp150.000-Rp300.000. Setelah mengetahui bahwa saya akan bawa televisi itu ke sana, Pak Halim bertanya apakah di tempat saya ada laki-laki yang bisa membawa. Saya jawab tidak. Kemudian beliau menawarkan untuk service di tempat saya karena kasihan saya akan keberatan.

Keesokan harinya dia datang. Televisi saya LED LG 21 inchi. Ia kesulitan membuka bagian belakang televisi dan meminta izin apakah ia bisa bawa televisi tersebut ke tempatnya karena televisi ini harus dibuka oleh obeng lebar agar tidak patah. Kemudian satu jam kemudian, ia menelepon dan mengabarkan mainboard televisi saya rusak. Biaya membetulkannya Rp500.000, termasuk biaya service.

WAW! Lima ratus ribu adalah uang yang banyak. Jujur, bingung sekali saat itu. Saya bertanya ke teman-teman saya. Rata-rata mereka menyarankan sebaiknya saya beli yang baru karena lebih terjamin kualitasnya dan bisa tahan lama. Tapi kan.. kalau permasalahannya adalah budget, beli yang baru berarti jauh sekali di atas budget dong? Saya jadi harus meluangkan uang satu juta lebih untuk beli yang baru. Apa tidak malah rugi?

Kalau browsing, harga service mainboard antara Rp400.000 sampai Rp700.000. Intinya, memang mahal. Saya jadi berpikir ya sudah coba saja, daripada televisinya membangkai. Akhirnya saya bilang ke Pak Halim untuk membetulkan. Ia bilang prosesnya sekitar satu hingga dua hari. Dia bilang mainboardnya asli dari LG dan ada garansinya selama sebulan. Ya sudahlah, setidaknya ada jaminan.

Tanpa diduga, keesokannya Pak Halim memberitahukan bahwa televisinya sudah selesai dan siap diantar. Ia datang siang hari dan membuktikan televisi bisa nyala seperti sedia kala. Sebenarnya Pak Halim tidak menyediakan jasa antar jemput, tapi ia melakukan itu karena kasian sama saya. Wah, sebenarnya enak juga sih, jadi tidak perlu bolak-balik. Kerjanya juga cepat. Sejauh ini saya pengalaman service saya positif. Dan beban jadi berkurang satu.

Oke, televisi, kamu sehat-sehat selalu ya. Jangan rusak lagi. Karena lumayan nih biayanya, bikin jadi hemat dan jadi mengurungkan niat beli ini-itu. Hiks.

2 comments:

Sundea said...

Kalo buat nemenin aja radio lumayan, Ni. Kalo gue di rumah lagi sendiri biasanya ngedengerin radio sambil nulis-nulis atau baca-baca...

Salam buat tivinya, ya, semoga dia sehat-sehat aja dan bisa tetep nemenin elu :D

Nia Janiar said...

Iya sih, Dea. Pas tvnya gak ada, radio jadi berfungsi (kembali). Tapi kelebihannya tv ada yang bisa diliat kalau lagi enggak baca atau nulis. Hehe.

Aminn.. thanks, Dea. Salam balik dari tipinya. ;)