Skip to main content

Hidup Tanpa Sosok Bapak

"Kayaknya si mbak ini dekat sekali dengan bapaknya ya."
"Iya."
"Kayaknya dia sayang sama bapaknya."
"Iya, bapaknya juga sayang sama dia. Lah, kenapa enggak pacaran aja?"

Di atas itu adalah petikan obrolan candaan antara saya dan teman saya. Kami sama-sama punya minat kepo di social media terhadap satu orang yang juga merupakan teman kami (tapi saya sih enggak deket-deket amat). Saya dan si teman ini sama-sama punya emotional baggage yaitu ketidakdekatan atau kehilangan sosok bapak saat masih kecil. Bedanya saya sama dia adalah dia bisa dekat dan sayang terhadap bapaknya, sementara saya tidak.

Banyak teman-teman saya yang orang tuanya mengalami perceraian. Setiap perceraian pasti punya dampak terhadap anak, tapi dampak yang dialami teman-teman saya ini rupanya tidak terlalu negatif seperti yang saya alami. Walaupun sudah berpisah, mereka masih sangat berhubungan baik dengan sang bapak. Masih suka hangout bareng, masih suka selfie, dan masih bangga terhadap bapaknya. Bahkan masih sangat dekat dengan bapak--sampai jadi orang tua terfavorit--meskipun kini tinggal bersama ibu. Sementara saya tidak. Bahkan foto berdua pun tidak pernah.

Perasaan kebersamaan itu, terutama pada sosok bapak, menimbulkan sebuah perasaan yang asing yang tidak pernah saya alami. Apa sih rasanya sayang sama bapak? Apa sih rasanya berkomunikasi sama seorang pria yang merupakan orang tua sendiri? Apa sih rasanya bisa bersandar atau memeluk bapak? Apakah perasaan yang dialami sama seperti perasaan saya ke ibu? Apa yang ingin dia kemukakan melihat kehidupan yang saya jalani sekarang? Apa sih nasihat dia ketika saya mau memilih karier dan pasangan?

Pergolakkan emosi yang naik dan turun, perasaan benci dan maaf, rindu dan menghindar.. semua melebur dalam sesal, sesal, dan sesal. Perasaan yang asing itu tidak akan bisa dikenali selamanya, karena sang bapak kini sudah tiada. Sebuah kepincangan. Kini bapak hanyalah kata yang asing dan kosong namun menggema di setiap lorong.

Comments

Andika said…
Hiks ... peluk dari jauh!
Lea said…
Aku sih bapak masih ada, tapi punya pertanyaan yg sama kayak kamu. Dan juga nggak punya foto berdua dengan bapak. Sampai setua ini masih suka dibentak di depan umum krn katanya aku gendut dan gendut itu menjijikkan :))
Kalau lihat perempuan yang dekat sama bapaknya ada sedikit rasa iri.
Nia Janiar said…
@Andika: :)

@Lea: I think you are beautiful just the way you are, Can :)
Sundea said…
Aku juga peluk aja, ah, ke Nia *hugs*
acepbaduy said…
Hehehehe....

fyi: Sampai disini gara2 ngetik di google "rasanya selfie bareng bapak"
Nia Janiar said…
Dea: :) :)

Acepbaduy: Hahaha.. haloo, selamat datangg. :D

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…