Berkaca Melalui Film

Kapan terakhir kalian nonton film Indonesia di bioskop? Kalau saya beberapa minggu yang lalu. Itu juga karena gratis. Jujur saja, kalau berbayar, saya belum tentu mau nonton di bioskop. Duh, saya memang kurang mengapresiasi film-film buatan dalam negeri nih. Tapi beberapa kali saya nonton film indie Indonesia kok di berbagai pemutaran film alternatif. Rasanya lebih berguna kalau menghabiskan waktu dan uang untuk film indie ketimbang film non-indie Indonesia. Hehe.

Saya nonton tiga film yaitu Langit Masih Gemuruh, Pangreh, dan Semalam Anak Kita Pulang di XXI Epicentrum Jakarta. Ketiga film tersebut diputar dalam rangka XXI Short Film Festival 2016. Film pertama yang saya tonton adalah Langit Masih Gemuruh. Bercerita tentang seorang ibu keturunan Tionghoa yang mencoba menyelamatkan anaknya dari kerusuhan Mei 1998. Dengan tone warna candramawa, sang ibu yang mau mengantarkan anaknya sekolah dengan sepeda ini berjalan keliling kompleks yang segala pintunya ditutup. Dengan muka kebingungan, ia terus mengayuh, sampai melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Film ditutup dengan sang anak yang berjalan di atas gundukan rumput hijau dengan memakai baju astronot.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Jason Iskandar, sutradara dari film ini, mengatakan bahwa gemuruh diinterpretasikan bahwa untuk orang muda sepertinya, kerusuhan Mei 1998 itu terjadi seperti mimpi karena ia masih kecil untuk mencerna segalanya. Namun peristiwa tersebut terus "terdengar" bagi generasi muda, seperti gemuruh. Tone warna candramawa juga menandakan dikotomi hitam dan putih saat kerusuhan berlangsung, yang tiba-tiba berubah menjadi penuh warna--yaitu pada adegan berjalan di atas rumput--setelah peristiwa tersebut usai. Meskipun kita hidup sudah lebih berwarna, tetap saja orang Tionghoa memiliki batasan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pagar batu di akhir film.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Film berikutnya berjudul Pangreh. Film ini bercerita tentang perdagangan manusia di sebuah daerah terpencil (setting film di gurun pasir Bromo). Manusia ditawar secara blak-blakan dengan harga yang murah dan penuh perkelahian. Harvan Agustriansyah, sang sutradara, mencoba mengemukakan tentang politik uang di film ini. Pangreh ingin menunjukkan tentang keserakahan dan kemauan untuk melakukan hal-hal yang haram seperti mencuri uang. Tawar-menawar manusia yang dilakukan secara gamblang menunjukkan perbedaan antara transaksi bisnis kelas bawah yang begitu keras dengan bisnis kelas atas yang lebih rapi dan teratur. Harvan memilih Bromo untuk menandakan masyarakatnya tinggal di tempat yang jauh dari informasi.

Nah, kalau film terakhir yang berjudul Semalam Anak Kita Pulang, film ini tampak seram mulanya. Bayangin, settingnya adalah rumah bilik kayu, saat itu hari sudah malam dan terlihat bulan, kemudian ada suara kayu beradu. Rupanya ada seorang perempuan muda yang lagi menumbuk padi. Mendengar suara itu, sang ibu terbangun dan berjalan ke sumber suara di luar rumah. Tapi perempuan itu tidak ada. Jeng jeengg.

Gambar pinjam dari www.21shortfilm.com

Saat hari siang, sang ibu bilang pada suaminya dengan menggunakan Bahasa Jawa bahwa anaknya sudah pulang tadi malam. Tapi si bapak tidak menjawab, hanya makan, merokok, dan minum. Kemudian tanpa bicara satu patah kata pun, ia pergi ke luar sambil membawa cangkul. Di saat ibu tersebut diam sambil duduk di ruang makan, si anak perempuan datang, mencium ibunya, kemudian pergi lagi.

Film karya Adi Marsono ini bercerita tentang para tenaga kerja wanita Indonesia yang kerja di luar negeri. Orang tua tidak peduli seberapa besar penghasilan anaknya. Yang mereka pedulikan hanyalah kabar dan anak bisa kembali pada pangkuan mereka. Hm, film yang sedih.

Ketiga film tersebut menangkap fenomena yang nyata Indonesia. Sayangnya, kalau tidak dijelaskan oleh para sutradaranya, kayaknya tidak dapat dimengerti (oleh saya). Kalau boleh kritik, saya sih kurang terkesan. Film-film ini tampak dibuat ribet dan penuh simbolisasi yang pada akhirnya bikin penonton tidak mengerti. Sangat berbeda dengan film-film internasional yang diputar selanjutnya. Walaupun ceritanya sederhana dan dibuat gamblang, tidak mengurangi nilai film tersebut. Bahkan bisa membuat penonton terkesan. :)

Comments

Ibunya Aria said…
kerumitan film itu menunjukkan keruwetan pikiran yg bikin. sama spt kalau kita nulis, trus tulisannya ruwet, sepertinya itu akibat pikiran kita masih kisruh :)
Nia Janiar said…
Waaahh.. iya bener :D :D

atau biasanya juga gak ngerti apa yang ditulisin. #pengalamanpribadi :D
Sundea said…
Kalau diceritain sama elu, Ni, film ke tiga terdengar bisa sederhana dan cukup menarik. Tapi gue nggak mau nonton juga kalau terlalu ngeri. Kan gue orangnya agak penakut :p

Yang pertama sama ke dua emang kebayang mungkin agak rudet.

Anyway -- gue aja atau orang lain juga ngerasa gitu -- kenapa film-film atau karya yang dianggep nyastra suka agak wajib serem-serem kelam ya?
Nia Janiar said…
Wah iya, Dea.. mungkin sastra harus mempotret permasalahan (jadinya kelam)?

Popular Posts