Eksklusif

Untuk menulis ini, saya berulang kali melakukan aksi tulis-hapus-tulis-kemudian hapus lagi. Saya jadi ingat saat pertama kali belajar nulis. Fasilitator klab saat itu bilang, "Tuliskan apa saja yang ada di pikiran, tanpa diedit duluan. Kalau berpikir 'mmm' ya tuliskan saja 'mmm' di kertas." Jadi, inilah saya, kembali menulis seperti di awal. Entah apa yang membuat sulit menulis di blog sendiri. Mungkin karena sudah ada beban harus bagus karena sudah ada pembaca, harus bermanfaat untuk orang lain, harus keren, ingin curcol tapi harus tidak terlihat curcol, dan ah! Terlalu banyak pikiran. Bukankah blog harusnya tidak ada batasan karena tidak ada klien dan saya sendiri yang menjadi pemimpin redaksi di sini?

Keruwetan pikiran ini memang selalu hadir di otak saya. Sepertinya saya memang tergolong orang yang cara berpikirnya ruwet atau rumit. Terlalu banyak yang dipikirkan sehingga kadang susah sendiri, kadang ingin pragamatis dan lurus-lurus saja, tidak usah seperti bola kusut yang kadang bikin sakit kepala.. kemudian timbul jerawat. Huh. Tidak berguna.

Keruwetan ini juga yang membuat kategori dan aturan-aturan di pikiran. Contohnya akhir-akhir ini keruwetan sering muncul di area pertemanan. Cara memperlakukan sahabat, teman, kenalan, dan orang baru berbeda. Ada tingkat kindness yang berbeda di setiap kategori itu. Cara mendekat orang asing juga berbeda jika dilakukan satu lawan satu dengan satu lawan banyak. Satu lawan satu biasanya hasil kedekatannya lebih baik daripada satu lawan banyak. 

Kegagalan satu lawan banyak pernah dialami contohnya pernah saya alami ketika masuk kantor baru. Saya kewalahan ketika harus berhadapan dengan sekelompok orang asiing. Ketidakmampuan bonding di awal dengan mereka membuat suasana hati kacau balau, sehingga terwujud dalam ekspresi, kemudian orang akan melihat saya sebagai orang yang tidak menyenangkan. Adaptasi yang sangat besar memang butuh usaha dan perjuangan. Fiuh.

Pertemanan pun tidak bisa banyak. Dari pada me-time, saya malah justru butuh social-time demi keberlangsungan hidup agar tidak berakhir sendirian. Saya harus mengikuti agenda-agenda sosial bersama sekelompok orang (atau teman yang tidak terlalu akrab) karena saya tidak bisa terus menerus berada di dalam gua. Gua tempat saya tidur, main internet, atau nonton film hanya membuat pucat, semakin tidak menarik, dan ketinggalan zaman.

Tapi bukan berarti tidak punya teman dan enggan berteman. Saya punya beberapa teman dekat. Tapi ya hanya beberapa, tidak banyak, sehingga sulit jika ingin membuat bridesmaid karena anggotanya tidak cukup. Hehe. Mereka ini adalah orang-orang yang saya temui jika saya pulang kampung, yang tidak dimasukkan ke dalam "agenda sosial" karena saya tidak merasa terbebani untuk bertemu mereka. Sebuah lingkungan yang kecil dan khusus, sehingga kesulitan jika saya membawa orang baru ke dalam lingkungan, atau bahkan juga kesulitan jika teman punya teman baru dan ingin masuk ke dalam lingkungan kami. Ck.

Membayangkan orang lain masih ke dalam personal space (seperti kamar, rumah, bahkan kedekatan fisik seperti sentuhan) rasanya.. wow! Tunggu dulu! Kamu siapa? Agendamu apa? Apakah kita cocok? Apakah kita cukup akrab sehingga bisa kamu masuk? Tidak. Biar saya nilai dulu. Karena tidak semua orang bisa masuk. Saya tidak mau menerima orang dengan segenap atribut yang nantinya akan melukai saya.

Jadi, saya ini paranoid atau ini mekanisme pertahanan diri dari jiwa-jiwa yang rapuh? Wkk.

Saya ingin sekali menjadi orang yang mudah bergaul tanpa pikiran apapun--tanpa seleksi dan tanpa ketakutan ia akan menyusup ke ruang personal. Salah satu orang yang bisa jadi kan role model ya si pacar. Meskipun pada dasarnya dia eksklusif, tapi ia bisa mengatur dirinya menghadapi dunia sosial dengan baik, sehingga ia memiliki banyak teman.

Saya iri dengan kemampuan itu. Tapi saya akan berusaha. Agar kata "eksklusif" hanya nempel di belakang kata "kontrakan" saja. ;)


Comments

Sundea said…
Gw termasuk temen yang mana, Ni?

*kedip-kedip-kedip*
Andika said…
Gw merasakan banget perihal agenda sosial yang elu sebut.

Kadang mungkin temen gw nggak ngerti bahwa ketika gw menyatakan pengen ketemu dia, sebetulnya gw pengen ketemu (((dia))) saja paling lama dua jam. Bukan sama dia dan enam orang lainnya selama semalaman. Kalau sudah begitu, pertemuan dengannya=agenda sosial.
Nia Janiar said…
Dea: Dea termasuk kategori temen-temen gue yang kerennn dan bangga gue bisa berteman dengan Dea. :)))

Dika: Toast!

Popular Posts