Semesta Dunia O

Anjrit!

Novel terbaru Eka Kurniawan yang berjudul O ini bener-bener anjrit sekali. Anjrit seanjrit-anjritnya. Novel yang tebalnya 470 halaman ini butuh perhatian ekstra saat membacanya. Bukan masalah tebalnya, tapi masalah cara penulisannya yang tidak biasa. Bukan masalah kata-kata yang rumit, tapi masalah plot yang acak dan jumlah tokoh yang sangat banyak.

O, oleh Eka Kurniawan. Diterbitkan Maret 2016 oleh PT Gramedia

Novel ini bercerita tentang perjalanan binatang-binatang seperti monyet, anjing, tikus, dan babi dalam mencapai tujuan hidupnya. Si monyet ingin menjadi manusia--mengikuti sang kekasih yang diyakininya sudah menjadi manusia yaitu seorang penyanyi ternama bernama Kaisar Dangdut. Si anjing ingin mencari ibunya. Si tikus yang rela mati demi bisa bercinta dengan kekasihnya. Si babi yang sebenarnya seorang manusia jadi babi ngepet karena ingin belajar menjadi binatang.

Binatang-binatang tersebut hidup beriringan dengan para manusia. Misalnya si monyet berteman dengan pawang monyet bernama Betalumur dan seorang waria bernama Mimi Jamilah. Si anjing bermasalah dengan Jarwo Edan, Rudi Gudel, dan diasuh oleh Rini Juwita. Selama perjalanan hidupnya, mereka juga bertemu dengan tokoh-tokoh lain yang tidak saling mengenal tapi berkaitan. Jadi ini kalau dicertakan satu persatu, akan semacam panjaang sekali.

Membaca karya-karya Eka seperti Lelaki Harimau, Cantik itu Luka, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, saya melihat ciri khas dari Eka adalah ia sering menceritakan tokoh-tokohnya dengan begitu detail, termasuk cerita masa lalu tokoh, dengan plot maju mundur. Dibandingkan novel-novel sebelumnya, O memiliki plot yang sangat rumit dan acak-acakan. Dalam setiap bab, isi novel O dibagi kecil-kecil untuk menceritakan satu momen dengan setting waktu yang berbeda, setting tempat yang berbeda, cerita yang berbeda, bahkan tokoh yang berbeda pula. Jadi terbayang perpindahannya cepat sekali.

Novel dengan gaya seperti ini kadang membuat saya enggan baca, tapi di satu sisi penasaran maunya apa sih. Apalagi semacam ada tuntutan pada diri agar menyelesaikan O terlebih dahulu, baru bisa baca novel lain. Dengan kapasitas Eka yang diganjar berbagai macam penghargaan dan pujian, saya jadi berekspektasi bahwa ada udang besar dan bersinar dibalik bakwan. Eka pasti ingin menceritakan sesuatu atau ending cerita pasti akan menyatukan segalanya yang tercerai-berai bak puzzle sehingga pembaca akan menemui cahaya yang membuat pikirannya terang benderang.

Begitu mencapai akhir cerita, yang dibaca pelan-pelan dan menghayati setiap katanya, ternyata.. bukan terang benderang yang didapat. Novel ini tidak menghadirkan sebuah finish line, tetapi menghadirkan sebuah jalan yang membuat pembaca mencerna dan merenungkan. Mengenai eksistensi suatu makhluk. Siapa saya? Mau jadi apa? Apa tujuan hidup saya? Apa yang saya lakukan di dunia? Bagaimana saya bisa hadir di sini? Eka juga tidak menceritakan fokus pada satu tokoh, tapi ia menceritakan pada sebuah ekosistem yang isinya saling berinteraksi.


"Menjadi batu seringkali satu-satunya yang bisa dilakukan manusia. Lihatlah bongkah-bongkah batu, yang sebesar rumah maupun sekecil kerikil. Mereka mungkin terlihat, tapi pada saat yang sama diam. Batu tampak seperti gumpalan dunia di mana kehidupan berhenti di dalam dirinya sendiri, sementara dunia di luar dirinya bergerak dengan cepat ... Sebagian besar manusia adalah batu. Berserakan dan terabaikan. Tapi ada waktunya mereka  melayang, menghajar apa pun." (hal 371-372)

Di halaman 418, Eka juga menjelaskan mengenai kehidupan yang infinity. "Itu untuk mengingatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O."

Barangkali banyak yang tidak suka dengan O karena dianggap tidak fokus, terburu-buru, dan memaksakan banyak materi untuk masuk. Tapi mungkin bisa jadi maksud penulis memang begitu, yaitu tidak bercerita tentang satu pengalaman personal, tapi bercerita tentang sebuah fenomena. And this novel is randomly beautiful. 

Comments

Popular Posts