Skip to main content

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjolan, bukan bengkak, dan tidak sakit. Hanya saja rasanya ganggu saat makan dan kalau sudah makan jadi terasa membesar. Waduh, saya takutnya kanker
(tetep). Terus saya memutuskan untuk periksa ke dokter gigi (sebenarnya bisa ke dokter bedah mulut tapi saat itu sedang tidak praktik) di RS Medika Permata Hijau. Saya bertemu dokter gigi di sana. Setelah disuruh berbaring dan beliau periksa, ternyata benjolan ini bernama mucocele. Kalau hasil nanya dan googling, mucocele terjadi karena kelenjar ludah dan air liur akan diblokir tidak dapat mengalir dengan lancar. Mucocele bisa hilang dengan sendirinya, tapi bisa juga tidak, malah jadi membesar.

Karena ini benjolan udah ada seminggu lebih dan tidak hilang-hilang, malah saya merasa kalau setelah makan jadi membesar, dokternya bilang kalau benjolan ini harus diangkat a.k.a operasi kecil. Tidak usah membayangkan berada di ruang operasi dengan penutup kepala atau baju khusus, operasinya dilakukan di ruang praktiknya yang hanya dua meter dari tempat duduknya.

Kalau mendengarkan kata operasi, pasti yang langsung terpikirkan adalah uang, uang, uang. Duh, agak serem ya. Kemungkinan operasi ini sudah saya pikirkan sebelumnya dan sudah saya cari di Google juga untuk siapin biaya. Karena saya tahu rasanya jadi orang dengan duit pas-pasan dan butuh informasi tentang operasi kecil ini, maka saya akan beri tahu ya. Setelah tanya dokternya, biaya operasinya satu juta rupiah, belum termasuk obat dan biaya dokter. Obatnya habis sekitar Rp180 ribuan saja untuk obat radang dan antibiotik. Dan setelah 10 hari kemudian, saya datang lagi untuk buka jahitan, biayanya sekitar Rp250 ribu. Setiap dokter pasti punya biaya operasi dan yang berbeda, ini sebagai gambaran aja. So please use this information wisely, do not overgeneralize.

Saya berbaring di atas kursi yang bisa diatur jadi tempat tidur. Terus dokternya suntik bibir saya sehingga rasanya jadi kebas. Begitu sudah kebas, dia memotong mucocele. Rupanya ada dua benjolan di dalam. Yang satu besar dan yang satu kecil. Kata dokter, benjolan kecil ini beda-beda setiap orang. Ada satu, ada juga yang banyak seperti anggur. Dan kalau benjolannya dipecahin akan keluar cairan kental seperti ingus. Terus darah dari luka terasa mengalir ke tenggorokan sih. Hehe. Saya memutuskan untuk menutup mata aja sambil merasa bibir yang ditarik-tarik. Udah gitu dijahit deh.

Sebelum saya setuju, saya minta orang rumah sakit tanya ke pihak asuransi. Ternyata di-cover kok. Jadi semua biaya yang saya gunakan itu gratis. Walaupun ada kesalahpahaman antara pihak rumah sakit dengan pihak asuransi karena rumah sakit memasukkan biaya itu ke perawatan dasar untuk gigi, harusnya masuk ke biaya rawat inap atau rawat dasar gitu--lupa, akibatnya saya harus mengeluarkan biaya. Tapi keesokan harinya pihak asuransi telepon untuk meluruskan bahwa seharusnya itu dibiayai seluruhnya dan biaya yang saya keluarkan di rumah sakit kemarin bisa di-reimburse ke kantor. So, all is clear.

Jadi, kalau ada yang punya mucocele, enggak perlu panik. Benjolan ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi kalau sudah ganggu seperti ganggu makan tentu harus ke dokter. Biayanya juga sebenernya tidak terlalu besar (tapi nyesek juga kalau pas lagi enggak punya bokek. Hehe.) Dan walaupun tidak dapat endorse dari pihak asuransi kesehatan, punya asuransi semacam membantu sih. Apalagi untuk urusan-urusan yang genting seperti ini.

Good luck!

Comments

Malta Tuela said…
Klo boleh tau, dgn dokter siapa?
erika corina said…
Iyaa mohoninfo nm dokternya boleh?
Halo kak...
November lalu, saya juga operasi mucocele. Tapi setelah beberapa bulan operasi, saya merasa bibir saya membengkak. Apa kakak juga seperti itu?
Nia Janiar said…
Mita: waduh saya engga ada bengkak.. fine2 aja setelahnya.

Popular posts from this blog

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…