Refleksi Kehidupan Melalui Serat Centhini

Kalau mendengar Serat Centhini, hal yang mungkin pertama kali terpikirkan adalah seks. Centhini disebut-sebut Kamasutra dari Jawa. Bahkan lebih liar dan panas.

Perkenalan saya pada Serat Centhini dimulai saat kuliah. Teman saya memperlihatkan sebuah buku Kamasutra yang dibeli pacarnya saat sekolah India. Hardcover, full color dengan visualisasi foto sepasang manusia melakukan persenggamaan, tapi tidak vulgar dan tidak juga memperlihatkan alat kelamin. Jadi ini bukan buku porno deh. Terus saya tahu entah dari mana bahwa Jawa memiliki panduan seks yang lebih "gila" dari Kamasutra. Kebetulan dosen saya punya buku Serat Centhini, salah satunya adalah buku yang diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Bukunya ada yang saya beli dan ada yang saya fotokopi.

Saat baca, kok ada panduan cara membangun rumah, kapan waktu-waktu terbaik untuk melakukan sesuatu, bahkan hingga cara bertamu? Bahasan seks memang ada karena seks adalah awal kehidupan manusia, terutama di buku Nafsu Terakhir yang diadaptasi Elizabeth D. Inandiak begitu menggetarkan jiwa dan raga. Hehe. Tapi Serat Centhini tidak bercerita melulu tentang panduan persenggamaan, tetapi buku ini adalah panduan kehidupan.

Buku Serat Centhini tidak pernah saya sentuh lagi. Kini ia tergolek lemah tak berdaya di lemari buku. Tapi ingatan tentang Serat Centhini muncul kembali karena kemarin, saya nonton pembacaan Reading Centhini: Suluk Tembangraras oleh Agnes Christina di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Acara pembacaan dibuka saat seorang wanita dengan potongan rambut sangat pendek--panjang rambutnya hanya beberapa senti saja--membuka acara dengan heboh. Kemudian lagu campur sari di pasang dan dia berjoget di depan. Saya kira ia pembawa acaranya karena mulanya saya menduga acara teatrikal ini akan dibawakan oleh seorang perempuan yang kalem, feminin, dan berwajah sendu. Tapi ternyata dugaan saya salah, justru ia yang akan membacakan Serat Centhini.

A photo posted by Nia (@niajaniar) on

Agnes membuka acara dengan pengalaman dia mencari buku Serat Centhini di berbagai kota seperti Bandung dan Yogyakarta. Ia mencari di pasar-pasar buku dan sempat tertipu. Ia juga mengira bahwa Serat Centhini hanya satu jilid saja, padahal buku ini terdiri dari 12 jilid. Ketika ia sudah mendapatkan semuanya, ia melihat di internet ada yang menyediakan e-book Serat Centhini secara gratis. Penonton pun sontak tertawa.

Kemudian ia bercerita tentang awal mula dibuatnya Serat Centhini yaitu ketika seorang pangeran dari Keraton Solo yaitu Pakubuwono V menunjuk tiga pujangga istana untuk melakukan perjalanan ke seluruh Jawa dan mengumpulkan serat-serat di berbagai daerah sebagai acuan. Kemudian Agnes bercerita tentang petualangan Cebolang, pengembaraan Jayengraga, adik Tembangraras, mencari Amongraga karena, setelah kawin, Amongraga meninggalkan istrinya yaitu Tembangraras untuk mengajarkan ilmunya ke masyarakat. Dan FYI, pada saat malam pertama, Amograga dan Tembangraras tidak melakukan hubungan seks. malah dia menyuruh istrinya shalat. Wkwk.


Yang membuat pertunjukkan ini menarik adalah Agnes memvisualkan ceritanya melalui ilustrasi gambar yang tersebar di panggung. Penceritaan juga sering diseling dengan nyanyian campur sari berbahasa Jawa dengan terjemahan sehingga semua orang bisa memahaminya. Lagu-lagu tersebut tidak hanya menggembirakan atau membuat orang tertawa, tapi lagu-lagu tersebut kadang membuat cerita terasa pilu.

Agar bisa relatable dengan kehidupan sekarang, Agnes bercerita tentang dirinya seorang warga keturunan Tionghoa yang hidup bersama para "pribumi". Ia juga bercerita tentang dirinya saat kerusuhan 1998 berlangsung dan menyebabkan ia melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali. Ia juga bercerita bahwa ia bukan Tionghoa yang umumnya usaha buka toko dan menikah dengan sesama orang Tionghoa. Agnes ingin hidup fokus di seni dengan mendalami teater dan ia jatuh cinta dengan seorang pribumi Islam yang jelas ditolak oleh keluarganya. Ia juga harus memilih untuk kawin lari bersama kekasihnya dengan berbagai hambatan birokrasi dan prosedur atau kembali ke keluarganya.

Intinya Agnes ingin memperlihatkan kepada penonton kalau membaca Serat Centhini itu seperti membuka lembaran-lembaran kehidupannya sendiri. Pertunjukkan ini menceritakan tentang perjuangan hidup dan pilihan-pilihan hidup beserta konsekuensinya di dalam Serat Centhini. Itu juga adalah hal yang sama seperti  yang dialami Agnes.

Wah, kalau berpikir Serat Centhini melulu tentang esek-esek, jauh deh pokoknya! Serat Centhini juga bercerita tentang pengorbanan yaitu saat Tembangraras dan Amongraga yang tidak bisa bersatu ini mengubah diri jadi ulat. Ulat jantan dimakan Sultan Agung dan ulat betina dimakan Pangeran Pekik. Nanti anak laki-laki dan perempuan mereka akan dinikahkan.

Agnes berhasil membawakan pertunjukkan yang sangat thoughtful! Ia berhasil menunjukkan bahwa untuk mengejar mimpi manusia harus mengorbankan sesuatu. Ia juga berhasil membuat saya ingin membaca lagi. Sayang sekali jika karya sastra ini dibiarkan berdebu dan tersudut di rak buku.

Comments

Andika said…
Huaaa, jadi penasaran nih.
Nia Janiar said…
Mudah2an ada di Bandung yaa!

Popular Posts