Sore Bersama Raden Mandasia

Di jagad perbukuan independen, nama Yusi Avianto Pareanom sedang banyak disebut. Pasalnya karya terakhir yang ia garap selama kurang lebih enam tahun ini banyak memikat hati pembacanya. Salah seorang yang terpikat adalah teman kantor saya, Beni, yang tidak henti-hentinya memuji karya Yusi ini. Apalagi, katanya, novel setebal 448 ini ia selesaikan dalam waktu tiga hari saja. Wah, tampak menjanjikan. Saya jadi penasaran.

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi terbitan Banana ini menyuguhkan cerita dongeng kontemporer yang berkisah tentang Sungu Lembu yang penuh dengan dendam akibat negaranya ditaklukan oleh Kerajaan Giliwengsi tanpa perlawanan. Giliwengsi terkenal dengan kekuatannya yang tidak terkalahkan sehingga orang pun sudah jeri mendengar namanya. Apalagi raja Giliwengsi yaitu Watugunung memiliki teknik berkelahi yang sangat baik. Selain dapat memotong tubuh lawan, Watugunung bisa mengalahkan lawan dengan tangan kosong yaitu menotok lawan agar lumpuh sementara.

Di tengah perjalanan untuk menghantarkan dendamnya untuk membunuh Watugunung, Sungu Lembu bertemu dengan Raden Mandasia, yang merupakan pangeran dari Giliwengsi sekaligus anak Watugunung, yang sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung. Di tengah perjalanan tersebut, Sungu Lembu begitu ingin membunuh Raden Mandasia tetapi ia merasa pangeran ini bisa membuat Sungu Lembu selangkah lebih dekat dengan Watugunung dan membunuhnya. Selanjutnya, buku ini menceritakan perjalanan dan pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi bersama.



Kalau kata si Beni, buku yang hidup adalah buku yang dibicarakan setelah ia terbit. Kemarin, Raden Mandasia dibicarakan di Kineruku bersama sang penulis dan Zen RS untuk menanggapi buku ini. Zen banyak mengemukakan ketidaksetujuan dengan orang-orang yang mengulas buku ini di internet. Salah satunya adalah Raden Mandasia banyak disukai karena minim khotbah. Zen melihat justru banyak khotbah yang dilontarkan pada dialog antara Sungu Lembu dengan pamannya, Raden Mandasia, dan kekasihnya yaitu Nyai Manggis. Novel yang sarat akan semangat perlawanan ini pasti memiliki unsur khotbah di dalamnya. Bahkan, Zen menambahkan bahwa khotbah dibutuhkan dalam novel ini karena dibutuhkan logika penceritaan dengan cara yang pas.

Selanjutnya Zen bilang bahwa Raden Mandasia memiliki plot inti mengenai asal usul (genealogi). Yang diceritakan di sini adalah asal usul Watugunung dari siapa dia dan bagaimana ia bisa menaklukan dan membangun Giliwengsi. Zen juga bilang bahwa Babad Tanah Jawi menjadi tulang rusuk dari novel Raden Mandasia. Kritik lainnya adalah Zen merasa novel pertama Yusi ini tidak original karena cerita travel junkie di novel ini mirip dengan cerita-cerita silat yang sudah ada atau buku Nagabumi karya Seno Gumira Ajidarma. Juga food snob di novel ini tidak kekinian karena Centhini menawarkan secara penuh tentang rincian makanan--bahkan cara menghisap candu.

Tapi makanan tampaknya menjadi minat Yusi. Ia mengaku karena novel karya Widi Widayat yang bercerita tentang masak-masakan sangat menghibur Yusi ketika ia baca saat masih kecil. Ia ingin menyampaikan kesan tersebut ke pembaca sekarang.

Setelah pemaparan panjang lebar dari Zen, akhirnya yang ditunggu-tunggu angkat bicara. Yusi bercerita bahwa novel ini memang lama dikerjakan karena ia memang pemalas dan tidak militan. Di novel ini, Sungu Lembu--yang diceritakan dari sudut pandang pertama agar novelnya hidup--dibuat sebagai seseorang yang gemar membaca buku sehingga ia menjadi penutur yang tertarik pada detail. Sudut pandang novel ini sempat diubah menjadi sudut pandang orang ketiga dalam 4 bab, tapi semuanya dikembalikan lagi ke sudut pandang orang pertama.

Walaupun tidak disiplin dalam menulis, tapi Yusi tampaknya cukup perfeksionis dalam urusan membuat outline. "Saya tidak mau menyodorkan karya yang belum final. Semua harus dirancang dan outline itu penting," tegasnya. Ia mengaku, ibarat membangun sebuah rumah, ia harus sudah tahu rincian panjang dan lebar setiap bidang yang mau dibangun. Jika outline sudah selesai, maka Yusi bisa menulis dari bab mana saja. Saat membicarakan outline, ada seorang pengunjung yang apakah Yusi keluar dari outline awal karena cerita dilanjutkan sementara harusnya sudah bisa selesai di bab 11. Yusi menjawab bahwa ia sedari awal sudah sengaja untuk meneruskan cerita karena ingin ada closure untuk Sungu Lembu.

Buat yang sudah selesai baca, pasti tahu apa yang dimaksud. Kalau saya sih belum sampai di situ. Walaupun sudah terkena spoiler saat diskusi kemarin. Sedih.

Juga untuk memperkaya bukunya, tidak hanya studi literatur, tapi Yusi juga melakukan riset. "Riset banyak bukan berarti karya pasti bagus, tapi setidaknya perbekalan cukup," katanya. Yusi juga mengaku pergi ke Pulau Pagerungan (antara Pulai Madura dan Pulau Sulawesi) untuk mengobrol dengan masyarakat tentang cara membuat perahu. Ia juga aktif bergabung dengan komunitas burung Indonesia supaya bisa menjelaskan tentang burung di novelnya.

Sampai detik saya menulis ini, saya masih berada di halaman 208 sehingga belum bisa berkomentar banyak. Kesan saya sejauh ini terhadap Raden Mandasia adalah meski plotnya maju mundur, baca novel ini tidak menyulitkan pembaca dan betul-betul bisa dinikmati. Dan walaupun tokohnya banyak seperti film seri Game of Thrones, tapi sebenarnya yang signifikan dengan cerita hanya sedikit. Jadi, tidak usah banyak dipikir, telan saja. Hehe.

Acara juga dihibur dengan Tetangga Pak Gesang yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan tema makanan dan minuman. Seperti Kopi Susu atau Tahu Tempe.


Comments

Popular Posts