Skip to main content

Dadah Jerawat!

Hi pembaca,

Hampir dua bulan blog ini tidak update. Biasanya saya bisa update beberapa tulisan dalam satu bulan. Tapi karena berbagai kesibukan, kemalasan, kurang inspirasi, dan merasa perbedaan menulis pengalaman keseharian dan curhat colongan itu tipis, jadi saya tidak menulis. Padahal, menulis blog tidak perlu banyak pertimbangan ya. Kan ini media pribadi. Gitu ...

Saya mengalami berbagai hal, ada yang menyenangkan dan ada yang menyedihkan. Tapi sejujurnya lebih banyak hal-hal yang menyedihkannya. Kayaknya awal hingga pertengahan tahun ini, Semesta tidak berkonspirasi baik buat saya deh. Saya mengalami banyak kegagalan di bidang karier tulis menulis. Itu cukup bikin sakit hati karena menulis adalah passion saya. Yah, semoga selanjutnya lebih beruntung ya. :)

Saya enggak akan cerita semuanya dalam satu post. Biar fokus gitu. Hehe. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya ke dokter kulit. Kalau orang lain biasanya jerawatan di saat-saat tertentu seperti mens, stress menghadapi hal besar, atau hamil karena ada perubahan hormon, wah kalau saya sih setiap bulan pastiii ada aja jerawatnya. Jadi kalau orang lain jerawatan sekali-kali, kalau saya bersih sekali-kali. Padahal rajin cuci muka lho. Dan terakhir jerawat saya besar-besar dan banyak. Bener-bener bikin malu. Sampai pada tahap malu banget, akhirnya saya memutuskan untuk harus pergi ke dokter.

Saya merasa ini pengalaman ke dokter kulit harus dituliskan dan dibagikan di blog karena waktu saya mau memutuskan ke dokter mana pun melakukan browsing dulu. Setelah browsing dan mencocokan rumah sakit yang dekat tempat tinggal, saya memutuskan untuk pergi ke dr. Susie Rendra, SpKK di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah. Kalau dari browsing, review tentang dokter Susie ini cukup baik. Apalagi dia punya blog (yang sepertinya sekarang udah gak update) dan sering membalas komentar-komentar pasiennya yang nanya. Selain praktik di rumah sakit ini, katanya beliau juga praktik di klinik kecantikan Erha.

Akhirnya saya pergi ke rumah sakit. Di sana saya ketemu dokter yang terbilang masih muda. Orangnya baik dan mau menjelaskan tanpa pasien banyak menggali. Penjelasannya juga banyak dan bikin saya ngerti. Wah, suka nih. Dia bilang faktor jerawat itu bisa disebabkan oleh keringat, sinar matahari, dan tidur kelewat malam--yang mana saya melakukan itu semua! Hahay. Maklum, selain di kosan hanya ada kipas angin yang bikin kemringet, profesi sebagai reporter juga bikin harus keluar kantor. Kalau kurang tidur, wah dari dulu saya selalu tidur di atas jam 12 malam. Jadi dokter Susie hanya bisa geleng-geleng kepala. Oh ya, beliau juga bilang sebaiknya hindari pakai bedak wajah karena bedak bikin pori-pori ketutup.

Saya dikasih 4 obat oles yang dipakai untuk siang dan malam, 1 buat cuci muka, dan 1 obat minum. Dengan biaya dokter, total yang saya habiskan plus biaya konsultasi dokter sekitar Rp700 ribu. Buat yang baca ini, jangan digeneralisir loh ya karena setiap gangguan kulit pasti penanganannya berbeda dan harga yang keluarnya juga berbeda. Tapi ini sebagai gambaran untuk orang-orang yang jerawatan dan mau periksa. Karena biasanya kalau saya browsing, biaya adalah salah satu poin yang saya cari. Biar saat ke rumah sakit enggak kurang bayar. Hehe.

Yang saya suka dari obatnya adalah tentunya bisa mengempiskan jerawat secara bertahap, enggak tiba-tiba hilang. Justru saya curiga kalau obat bisa menghilangkan jerawat dalam semalam. Apa enggak agresif tuh obat? Hehe. Selain ini bikin kempis, kulit juga terasa lembut, terutama di bagian T pada wajah yang biasanya kasar. Terus tidak bikin merah, tidak mengelupas, dan si pacar juga bilang kalau muka saya jadi cerah. Kan biasanya ada obat wajah yang bikin putih nggak wajar. Kalau ada pun enggak terlalu besar. Pokoknya, dokter Susie oke deh.

Dokter Susie nyaranin sebaiknya saya konsultasi dua minggu setelah kedatangan pertama. Tapi sampai sekarang belum ke sana lagi karena mau nabung dulu. Hehehe jujur. Dan tentunya asuransi enggak cover biaya ini karena ini bukan kategori penyakit, tapi buat estetika. Hmm, kenapa ya? Padahal jerawat juga bikin sakit lho. Terutama sakit pada jiwa akibat penurunan kepercayaan diri. Huhuuuu.

Semoga postingan ini berguna ya. Karena postingan Hi, Mucocele kemarin rupanya ada yang baca dan mengalami hal yang sama. Dia sampai bela-bela cari nomor hp saya di Facebook buat nanya-nanya langsung di WhatsApp. Tapi jangan ditiru ya. Hehe. Kalau ada yang mau nanya, bisa komentar aja di sini, pasti akan saya jawab. :)

Comments

Raisasya said…
halo mba masih paka dr susie rendra nya?
krn rencana sy mau ke dr susie rendra di RSPI bintaro.
blh tau cream nya apa aja yg dikasih? racikan semua ya mba kandunganya apa?

Thankyou

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…