Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2016

Wregas: Berkarya dari Pengalaman Personal

Nama Wregas Bhanuteja tiba-tiba terdengar nyaring di media massa. Film arahan dia, Prenjak (2016), menang sebagai film pendek terbaik di Cannes Film Festival awal tahun lalu. Jadi penasaran dong ya film Prenjak ini kayak gimana. Nah, kemarin (23/7), ada pemutarannya di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saya dan teman-teman menyempatkan ke sana.

Ternyata ada lima film dia yang diputar yaitu Senyawa (2012), Lembusura (2014), Lemantun (2014), The Floating Chopin (2015), dan Prenjak (2016). Karena film indie itu sulit dicari, nih ya saya akan ceritain sinopsisnya.

Senyawa bercerita tentang seorang anak yang mengirimkan lagu kesukaan ibunya, Ave Maria, di surga melalui rekaman. Sayangnya dalam proses merekam itu, dia sering ketemu hambatan, misalnya tiba-tiba ada suara orang jualan susu kedelai, anak-anak main petasan, pasangan suami istri yang bertengkar suaminya suka main karambol, dan suara adzan. Anak ini ngeluh sama bapaknya kalau lingkungan rumahnya itu hanya sepi mau adzan aj…

Be Careful of Monster Under Your Bed

"Hati-hati dengan monster yang ada di bawah tempat tidurmu."

Begitu kira-kira kata teman saya bernama Beni. Baru saja dia cerita tentang pikiran-pikiran yang belakangan sedang mengintai di saat malam. Overthinking yang ia alami pasti berasal dari sebuah akar. Entah apa akar yang dimilikinya. Saya kira hanya perempuan saja yang overthinking. Ternyata, laki-laki yang konon lebih rasional dan logis, pun dihantui dengan pikiran-pikiran yang hiperbola, berlebihan, lebay, yang menggeret diri untuk berasumsi yang tidak-tidak. Pikiran-pikiran negatif itu ibarat seperti monster di bawah tempat tidur yang menakutkan dan bisa datang kapan saja.

Perkenalkan monster yang saya miliki sekarang. Monster saya berakar dari keinginan mengkritisi diri malam-malam seperti "You need to be relax, easy, loveable, and simple." Monster yang mengingatkan saat teman kuliah berkata, "Cara memperlakukan Nia itu berbeda daripada orang biasa", atau si pacar yang berkata, "Kamu itu …

Review Scary Face & Fluffy Hair Treatment dari The Bath Box

Halo. Kali pertama review beauty products nih.

Di Instagram, nama produk kecantikan The Bath Box cukup terkenal. Branding mereka oke sekali. Fotonya bagus, websitenya bagus, dan kayaknya banyak yang beli. Walaupun harganya lumayan mahal, saya penasaran juga. Akhirnya saya memutuskan untuk beli deep pore cleanser Scary Face yang berhadiah Fluffy Hair Treatment. Jadi, intinya beli karena promosi sih. Hehe.

Paket dikirim ke kantor dan saya unboxing di sana. Saat dibuka, eh lucu amaaat. Jadi produknya ditutup kertas yang berisi potongan kertas warna pink dan produknya dibungkus pakai busa. Secured pokoknya. Udah gitu ada petunjuk penggunaan hair treatment dengan ilustrasi yang lucu serta kartu "With Love" sehingga berkesan. Jangan-jangan ini produk mahal buat packaging-nya nih. :p

Malamnya saya coba Scary Face yang mengandung arang. Cubit sedikit, taruh di tangan secukupnya, tetesin air secukupnya juga, campur, kemudian oles di muka. Muka yang udah hitam ini makin hitam. Scary! …

Menunggang Ombak di Raja Ampat (Part 1)

Kalau Raja Ampat dibilang kepingan surga yang runtuh atau tempat perawan yang belum didatangi, rasanya akan jadi judul yang basi sekali. Duh, banyak sekali artikel traveling yang judulnya begitu klise. Walaupun pada akhirnya judul yang saya buat enggak fantastis-fantastis amat.

Jadi, pemirsa, akhir bulan lalu saya kebagian durian runtuh. Saya dan beberapa teman dikirim kantor untuk liputan ke sana. Wah, siapa yang enggak mau ke Raja Ampat. Selain tempat yang indah, pergi ke Raja Ampat harus jadi orang kaya dulu karena biayanya yang sangaat mahal. Harga perjalanannya bisa seperti kita jalan-jalan ke luar negeri. Jadi kalau punya prioritas lain, kayaknya boro-boro bisa ke sana, mimpi pun tak mampu~ Kalau bukan karena tugas, saya juga belum tentu bisa ke sana.

Saya dan teman-teman berangkat dari Jakarta hari Jumat, 29 Juli, dini hari. Kami naik Sriwijaya tanpa transit. Kami sampai di sana sekitar pukul 06.00 WIT. Di sana kami bertemu dengan Ferdinand, yang menjadi pemandu lokal. Orangnya…