Skip to main content

Be Careful of Monster Under Your Bed

"Hati-hati dengan monster yang ada di bawah tempat tidurmu."

Begitu kira-kira kata teman saya bernama Beni. Baru saja dia cerita tentang pikiran-pikiran yang belakangan sedang mengintai di saat malam. Overthinking yang ia alami pasti berasal dari sebuah akar. Entah apa akar yang dimilikinya. Saya kira hanya perempuan saja yang overthinking. Ternyata, laki-laki yang konon lebih rasional dan logis, pun dihantui dengan pikiran-pikiran yang hiperbola, berlebihan, lebay, yang menggeret diri untuk berasumsi yang tidak-tidak. Pikiran-pikiran negatif itu ibarat seperti monster di bawah tempat tidur yang menakutkan dan bisa datang kapan saja.

Perkenalkan monster yang saya miliki sekarang. Monster saya berakar dari keinginan mengkritisi diri malam-malam seperti "You need to be relax, easy, loveable, and simple." Monster yang mengingatkan saat teman kuliah berkata, "Cara memperlakukan Nia itu berbeda daripada orang biasa", atau si pacar yang berkata, "Kamu itu orang yang sulit", dan teman kantor yang bercanda, "Saya mau ikut workshop How to Deal with Difficult People biar bisa deal sama Nia".

Diri yang sulit ini tentunya berdampak pada lingkungan sekitar. Tidak menjadi everyone's favorite sehingga selalu menjadi third circle dalam sebuah pertemanan, atau mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan seperti dibohongi dengan dalih enggan konflik atau menjaga perasaan, bahkan dijauhi orang lain. Fiuh. sedih juga tidak bisa seakrab itu dengan orang lain. Saya merasa tidak mengada-ada untuk menjadi seseorang yang sulit, dan tentu enggak mau juga lah. Saya merasa ya diri saya ya begini adanya. Dan mengubah diri itu susah sekali. Sudah beberapa kali dicoba, tapi gesekan dengan diri dan orang lain terus ada. Malah bikin frustasi.

Memang, jadi orang yang sulit butuh konsekuensi. Jadi, monster di bawah tempat tidur, saya tidak bisa menaklukan kamu. Bagaimana jika kita berteman saja? Saya akan terima diri saya apa adanya--dengan berbagai macam konsekuensinya. Karena mengubah diri lebih sulit daripada beradaptasi.

Kalau kamu punya monster apa?

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…