Menunggang Ombak di Raja Ampat (Part 1)

Kalau Raja Ampat dibilang kepingan surga yang runtuh atau tempat perawan yang belum didatangi, rasanya akan jadi judul yang basi sekali. Duh, banyak sekali artikel traveling yang judulnya begitu klise. Walaupun pada akhirnya judul yang saya buat enggak fantastis-fantastis amat.

Jadi, pemirsa, akhir bulan lalu saya kebagian durian runtuh. Saya dan beberapa teman dikirim kantor untuk liputan ke sana. Wah, siapa yang enggak mau ke Raja Ampat. Selain tempat yang indah, pergi ke Raja Ampat harus jadi orang kaya dulu karena biayanya yang sangaat mahal. Harga perjalanannya bisa seperti kita jalan-jalan ke luar negeri. Jadi kalau punya prioritas lain, kayaknya boro-boro bisa ke sana, mimpi pun tak mampu~ Kalau bukan karena tugas, saya juga belum tentu bisa ke sana.

Saya dan teman-teman berangkat dari Jakarta hari Jumat, 29 Juli, dini hari. Kami naik Sriwijaya tanpa transit. Kami sampai di sana sekitar pukul 06.00 WIT. Di sana kami bertemu dengan Ferdinand, yang menjadi pemandu lokal. Orangnya cerah ceria, suka mengobrol, dan juga lucu. Dia bikin perjalanan kami jadi menyenangkan. Dan yang lebih penting lagi, dia bisa ngobrol bahasa Inggris, jadi tamu-tamu asing bisa pakai jasa dia.

Dari bandara Dominique Edward Osok, kami naik mobil ke pelabuhan. Tiket ferry baru buka sekitar pukul 08.00 WIT untuk keberangkatan pukul 09.00 WIT dan pukul 14.00 WIT. Saat menyebrang, sayangnya kami disambut dengan cuaca buruk saat mau nyebrang dari pelabuhan Sorong ke Waisai. Kapal ferry yang kami naiki sempat terguncang keras, bahkan beberapa anak buah kapal memegang lemari es yang ada di dalam. Isinya lemari es itu berjatuhan. Beberapa orang di belakang pun saling menenangkan untuk tidak panik. Saya jadi ikutan tenang juga.

Hujaann jangan marah. Kalau kata Efek Rumah Kaca.
 Karena hujan tak kunjung berhenti, setelah makan siang, Ferdi menawarkan untuk beristirahat di rumahnya. Kami ngobrol dan bahkan teman saya sampai tertidur di sofa ruang tamu. Untungnya keluarganya baik sekali dan menyambut kami dengan ramah. Setelah hujan reda, kami pergi ke pelabuhan wisata di Waisai untuk pergi ke Pulau Kri. Ternyata saat di tengah laut, hujan datang lagi. Bawaan kami ditutup dengan terpal. Karena di kapal tidak ada dinding kapal, jadinya kami semua kebasahan. Begitu juga sampai di dermaga Pulau Kri, kami jalan di tengah hujan sampai ke teras homestay Yenkoranu.

Ferdi di ruang keluarnya.
Wah, bukan badan yang dicemaskan, tapi kami mencemaskan bagaimana kalau besok-besok masih hujan juga dan bagaimana kabar tugas kami. Huhu. Dan benar saja, hujan terus turun, sehingga kami tidak bisa menyebrang ke tempat-tempat yang dituju. Jadinya kami beristirahat di homestay.

Esok harinya, yaitu tanggal 30 Juli, cuaca pagi enggak cerah-cerah amat, tapi jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang lebih jauh terlebih dahulu yaitu Wayag yang terletak di sebelah utara Raja Ampat. Karena pertengahan tahun adalah waktu yang salah untuk traveling ke sini, maka angin dan ombak pun tidak bersahabat. Kami diguncang-guncang ombak di atas speedboat.


Sebelum sampai ke Wayag, kami ke Desa Selpele untuk mengurus perizinan dan bayar retribusi. Satu jam dari Selpele, baru deh kami sampai di Wayag. Karena perjalanan yang painful, teman saya, Fachry, sampai bilang kok kita enggak sampai-sampai. Hahaha. Capek broo gak bisa bobo.

Anak-anak di Selpele. No gadget!
Ternyata petualangan itu enggak berhenti. Saat kapal bersandar di pantai bukit di Wayag, kami harus climbing ke atas. Climbing lho ya, bukan hiking. Di antara batu karst dan jalinan akar pohon, kami naik ke puncak yang kemiringannya bisa sampai 90 derajat. Sebelumnya kami udah lihat-lihat di internet sih, jadi kami udah prepare menggunakan sepatu hiking. Wah, kalau pakai casual shoes, bisa licin atau sepatunya sobek. Sebenarnya bukitnya tidak terlalu tinggi, tapi karena perjalanannya lumayan susah, waktu yang dibutuhin sekitar 20-30 menit.

Begitu sampai di atas.. wadaw, ternyata ini dia yang dikunjungi orang-orang kalau ke Raja Ampat. Di depan mata terdapat gugusan batu karst yang membentuk sebuah laguna yang jerniiihh dan biruuu. Di tengah laguna juga ada kapal pesiar. Bagus! Kalau musim liburan, pasti untuk ke atas harus mengantri karena tempat untuk melihat pemandangan di puncak juga tidak terlalu besar.

This is Wayag!
Setelah lihat-lihat dan foto-foto, kami pergi ke Teluk Kabuy yang luaass. Di sini seharusnya kami bisa melihat lukisan pra-sejarah dan bahkan mengunjungi sebuah makam. Tapi Ferdi bilang kalau tempatnya sudah terlewat. Xad. Btw, Teluk Kabuy ngingetin sama Grand Canyon di Pangandaran. Warna lautnya hijau seperti cendol. Hihi. Karena air teluk relatif tenang, Ferdi bilang di sini banyak orang yang main jetski.

Teluk Kabuy
Terakhir, kami menyempatkan ke Pasir Timbul. Jadi ini tuh pasir pantai yang muncul di permukaan saat lautnya surut. Pasir Timbul ini cukup luas sehingga orang seolah-olah bisa jalan kaki di atas laut. Bahkan ada penduduk asli dari Waisai yang buka tenda dan minum wine di sana. Life is good banget deh, Tiba-tiba seorang ibu memperlihatkan kepada kami seekor anak hiu putih dengan noda hitam di siripnya. Tampaknya dia bangga sama hasil tangkapan anaknya dengan tangan. Sambil mengobrol, dia pegang terus. Kami sudah mengingatkan untuk disimpan di air aja. Eh, bener, kan.. pas mau dimasukkin lagi hiunya udah teler. Untung tidak mati.

Pasir Timbul. Karena kami kesorean, jadi yang timbul hanya sedikit.
Jujur, ini adalah perbuatan yang bodoh. Jangan ditiru ya, gengs!
Ngomong-ngomong masalah hiu, di Raja Ampat ada banyak lhoo. Bahkan di dermaga homestay tempat kami snorkeling puun ada hiu. Hiunya tidak terlalu besar dan kata Ferdi hiunya tidak gigit, kecuali kita berdarah. Walaupun sudah banyak baca kampanye tentang hiu tidak makan dan menyerang manusia dan sudah banyak nonton video GoPro tentang berenang bersama hiu, tetap saja tidak mengurangi ketakutan kami terhadap hiu. Mingkin karena tidak biasa renang dengan hiu dan sudah tertanam bahwa hiu makan orang. Tapi beberapa orang berenang di dermaga sama hiu tetap selamat saja tuh.

Selain hiu, beberapa kali kami melihat lumba-lumba saat island hopping. Selain itu, di sini juga ada paus dan ikan pari. Wah! Kaya banget keanekaragaman hayati Raja Ampat. Tunggu cerita selanjutnya di part 2 ya. Selain laut, saya mau bercerita tentang kehidupan yang ada di bukit-bukit Raja Ampat. :)

Comments

Popular Posts