Skip to main content

Wregas: Berkarya dari Pengalaman Personal

Nama Wregas Bhanuteja tiba-tiba terdengar nyaring di media massa. Film arahan dia, Prenjak (2016), menang sebagai film pendek terbaik di Cannes Film Festival awal tahun lalu. Jadi penasaran dong ya film Prenjak ini kayak gimana. Nah, kemarin (23/7), ada pemutarannya di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saya dan teman-teman menyempatkan ke sana.

Ternyata ada lima film dia yang diputar yaitu Senyawa (2012), Lembusura (2014), Lemantun (2014), The Floating Chopin (2015), dan Prenjak (2016). Karena film indie itu sulit dicari, nih ya saya akan ceritain sinopsisnya.

Senyawa bercerita tentang seorang anak yang mengirimkan lagu kesukaan ibunya, Ave Maria, di surga melalui rekaman. Sayangnya dalam proses merekam itu, dia sering ketemu hambatan, misalnya tiba-tiba ada suara orang jualan susu kedelai, anak-anak main petasan, pasangan suami istri yang bertengkar suaminya suka main karambol, dan suara adzan. Anak ini ngeluh sama bapaknya kalau lingkungan rumahnya itu hanya sepi mau adzan aja. Bapaknya, yang sering mengaji di masjid, mengusulkan gimana kalau anaknya nyanyi Ave Maria di telepon dan bapaknya akan mengaji sambil mendengar anaknya nyanyi, jadi suara ngajinya sesuai dengan nada Ave Maria.

Kalau saya sih kurang suka dengan film pertama karena terkesan agak maksa mengawinkan lagu Ave Maria dengan mengaji. Tapi gak apa-apa ya, namanya juga selera. Hehe. Wregas, yang muncul setelah pemutaran film selesai, bilang kalau dia terinspirasi dari pengalamannya berada di perumahan padat yang selalu ramai dan menemukan sekelompok bapak-bapak bermain karambol sampai berhadiah motor.

Lembusura bercerita tentang orang-orang yang sedang membuat film saat lingkungan rumahnya terkena abu Gunung Kelud. Kejadiannya dan setting-nya nyata, tapi film dibuat lucu yaitu ada seorang laki-laki bertubuh gempal dan berpura-pura jadi raksasa. Wregas bilang bahwa ia ingin menunjukkan bahwa di tengah bencana orang juga bisa bersenang-senang.



Selanjutnya adalah Lemantun. Film ini bercerita seorang ibu yang mewariskan lemari kepada kelima anaknya. Setiap kelahiran anaknya, si ibu selalu membeli lemari. Oleh karena itu, lemarinya dikasih ke anak-anaknya jika ia meninggal nanti. Ibu ini memiliki lima anak yang sukses dan sudah tidak tinggal bersamanya, kecuali si bungsu. Anak-anak dikumpulkan di ruang tamu dan dikasih nomor lemari dengan sistem kocokan. Akhirnya, setelah dapat, mereka mencari lemarinya dan si ibu menyuruh anak-anaknya segera membawa lemari tersebut. Perlakuan anak-anak pada warisan yang "hanya" lemari inilah yang menjadi klimaks cerita ini.

Sementara film The Floating Chopin sama seperti Lembusura. Ini adalah film eksperimental hasil Wregas merespon yang ada di sekitarnya. Saat itu, Wregas pergi ke Paris dan datang ke kuburan setempat dan bertemu beberapa makam tokoh-tokoh ternama seperti Chopin.

Nah, terakhir ini yang ditunggu-tunggu yaitu pemutaran film Prenjak. Film ini bercerita tentang seorang wanita yang memohon untuk dipinjamkan uang ke temannya. Karena temannya pun tampak ogah-ogahan meminjamkannya, si wanita mengusulkan bahwa temannya bisa mengintip vaginanya dengan sebatang korek yang dikasih tarif. Kalau tidak salah Rp10.000 per korek.



Fenomena ini betul-betul ada di Alun-Alun Yogyakarta. Kata Wregas, ia diceritakan oleh temannya kalau dulu ada wanita tua yang menjajakan korek seharga Rp1.000 untuk orang-orang yang mau lihat vaginanya. Sayangnya (lho kok sayangnya) saat Wregas mau ngecek langsung, wanita tersebut sudah tidak ada.

Untuk pembuatan film ini, Wregas cerita bahwa sebenarnya kedua artis tersebut tidak tahu harus memamerkan penis dan vaginanya, karena ide itu muncul belakangan. "Film ini kan bercerita tentang menunjukkan alat kelamin. Kan aneh kalau tidak ditunjukkan," kata Wregas. Ia dan teman-temannya mencoba ke tempat prositusi dan meminta bantuan mucikari untuk shooting alat kelamin saja. Ternyata urusannya ribet. Akhirnya, Wregas meminta bantuan seorang model yang terbiasa foto telanjang. Dengan catatan, model tersebut tidak mau namanya ditaruh di credit film. Berani sekali.

Saya suka karya Wregas karena berani mengeksplor dan lucu. Saya paling suka sama Lembusura karena film indie Indonesia kan tidak harus melulu tentang kemiskinan dan dibawa serba sulit. Film Indonesia juga bisa dibuat lucu tanpa perlu slapstick ala OVJ atau Warkop DKI. Hehe. Cheers to that.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…