Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2016

Perjalanan Memaafkan

Tidak semua fase kehidupan itu berada di area senang-senang. Ada sedih, ada marah, dan ada luka. Luka-luka yang disebabkan oleh orang-orang yang barangkali tidak sengaja melakukannya. Tapi bagaimana pun, hati sudah kepalang memar dan meninggalkan bekas luka. Meski sudah tidak berdarah-darah, ingatan akan luka tersebut tetap berdatangan.

Seorang spiritualis dari Meksimo bernama Miguel Angel Ruiz, berkata, "Kita menghukum orang lain ribuan kali untuk kesalahan yang sama. Setiap kesalahan tersebut datang pada ingatanmu, kamu menghakimi mereka lagi dan menghukum mereka lagi." Membaca hal ini, saya merasa dimengerti sekali. Meski kejadian telah lama berlalu, tapi setiap ingatan tersebut datang, saya kembali menghukum mereka di ingatan.

Kesalahan mereka sulit lepas dari ingatan. Ibaratnya seperti mobil di radio yang memainkan lagu yang jelek saat dalam perjalanan ke supermarket, kemudian kamu menyadari bahwa dirimu menyenandungkan lagu tersebut saat berjalan di antara rak keju, da…

Review Rumah Kopi Singa Tertawa

Membaca kumpulan cerpen adalah ide bagus saat keinginan baca buku sedang tidak tinggi-tingginya (baca: malas). Kumpulan cerpen itu lebih cepat kelar dan kita tidak perlu berkomitmen lama-lama untuk mendedikasikan waktu untuk mengikuti satu alur cerita di sebuah buku.

Teman saya punya buku kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom. Kebetulan, jadi saya pinjam saja. Yusi adalah penulis Raden Mandasia yang pernah saya review beberapa bulan lalu. Sebelum menerbitkan Raden Mandasia, dia menulis kumpulan cerpen ini. Sama seperti Raden Mandasia, buku ini mendapatkan apresiasi yang baik dari teman-teman saya. Hm, jadi penasaran.


Rumah Kopi Singa Tertawa terdiri dari 18 cerita pendek. Setiap cerita rata-rata hanya terdiri 6-7 halaman saja, jadi relatif cepat dibaca. Tema yang dikemukakan juga dekat dengan keseharian (kecuali cerita pewayangan) sehingga buku ini bisa ludes dibaca dalam satu hari saja.

Jujur saja, membaca cerpen-cerpen di buku ini tidak memberi kesan ya…

Luka-Luka Lama (Bagian 3)

Terbayang enggak jika sudah berencana ingin melakukan sesuatu di suatu hari kemudian rencana tersebut kandas total akibat suatu bencana? Jangankan rencana satu hari, barangkali rencana seumur hidup pun berubah. Di sebuah pagi di bulan Desember 2004, tsunami melanda Aceh dan menghancurkan semuanya. Bangunan, mimpi, rencana, dan harapan.

Dua belas tahun kemudian, tepatnya awal bulan Agustus lalu, saya dan Eka menyaksikan peninggalan-peninggalan yang tersisa dari tsunami. Pertama, kami berkunjung ke Museum Tsunami yang letaknya di pusat kota. Arsitektur museum dirancang oleh Ridwan Kamil, kini walikota Bandung, yang tampak sangat modern dibandingkan bangunan di sekitarnya.

Kami tidak perlu bayar untuk masuk museum alias gratis. Walah, kok gratis sih? Padahal bayar saja untuk memajukan ekonomi setempat. Kami masuk ke sebuah lorong yang gelap, basah karena di kedua sisi lorong terdapat air terjun, bergemuruh, dan berangin yang berasa dari kipas angin. Lorong tersebut merupakan simulasi dar…

Ujung Barat Indonesia (Bagian 2)

Kata Sabang melekat karena lagu wajib nasional Dari Sabang Sampai Merauke yang sering dinyanyikan saat sekolah dulu. Dahulu terbayangkan kedua tempat tersebut jauuh sekali dan tidak terbayangkan pernah datang ke wilayahnya. Kemudian, selama perjalanan hidup, nama Sabang menjadi akrab karena di Bandung ada SDN Sabang dan di Jakarta ada Jalan Sabang (atau Jalan Haji Agus Salim).

Niat utama perjalanan terakhir kemarin adalah memang ingin pergi ke Titik Nol Kilometer yang ada di Pulau Weh. Ternyata selama ini salah prasangka, titik nol tersebut bukan berada di kota Sabang karena titik nol berada di barat laut dan kota Sabang berada di timur laut.

Dari Banda Aceh, saya naik kapal Ekspress selama 45 menit ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh. Dari pelabuhan, saya dan Eka naik becak motor (bentor) seharga Rp80.000. Katanya ada kendaraan L3000 sih, tapi mata kami udah keburu ketutup sama orang-orang yang nawarin becak motor dan sewa motor. Oh ya, kalau mau sewa motor harganya Rp100.000 per hari.…

Harus Pakai Kerudung ke Banda Aceh? Tidak Juga (Bagian 1)

Satu tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2015, saya pergi ke titik paling timur Indonesia yaitu Merauke. I am a lucky bastard I know. Karena sudah pernah ke sana, saya jadi punya ambisi lain yaitu ke titik paling barat Indonesia yaitu titik 0 kilomenter di Pulau Weh. Saat itu masih berupa angan-angan entah kapan. Hingga di sebuah makan pagi bersama travelmate saya, Eka.

Saya ceritain dulu tentang Eka. Jadi kami memulai perjalanan kami itu ke Karimunjawa. Ternyata gaya jalan kami cocok yaitu mau susah-susahan. Setelah itu, kami banyak sekali jalan-jalan walau masih sebatas Lampung, Jawa, hingga Lombok. Kemudian saya sampai pada fase berhenti traveling karena mau fokus nabung. Eka tetap traveling, bahkan sampai jauh seperti Toraja, Bunaken, Padang. Dan dia pun berani pergi sendirian. Hebat!

Karena standar traveling Eka untuk jalan-jalan sudah naik (kayaknya doi udah agak sulit untuk dibawa ke sekitaran Jawa saja. Hahaa), saya enggak pernah ikutan. Pertemuan kami yang biasanya membahas renca…

Review Super Volcanic Pore Clay Mask

Korea terkenal sekali dengan cewek-cewek cantik dan cute-nya. Bukan hanya make up atau merawat kecantikan kulit dengan obat-obatan, mereka juga udah terbuka dengan operasi plastik. Nah, karena belum berani untuk operasi plastik, jadi saya baru tahap pada mencoba produk kecantikan dari korea yaitu Super Volcanic Pore Clay Mask. Wogh!

Namanya aja udah serem. Udah volcanic, super pulak. Apa enggak bruntusan tuh muka?

Masker ini saya dapat dari pacarnya teman saya yang sedang pergi ke Korea. Setelah baca volcanic, ekspektasi akan tercium bau belerang saat buka tempatnya. Ya, kirain gitu 'kan karena ada gunung berapinya. Ternyata enggak, malah cenderung tidak berbau. Warnanya ungu muda. Teksturnya agak kental tapi lembut seperti tanah liat.



Saya oles ke muka dan didiemin selama 10 menit. Dan masker ini enggak nyiptain efek kaku kayak kita pakai Saripohaci. Jadi selama maskeran, masih bisa ngobrol. Enggak pecah-pecah. Walau dia klaim ada cooling effect, enggak ada efek ademnya tuh di ku…

Terbang Bebas di Raja Ampat (Part 2)

Tanpa banyak cingcong, jadi ceritanya saya mau nerusin tulisan perjalanan saya ke Raja Ampat. Yea I know I'm such a lazy person. Ini mood buat nulis blog enggak datang-datang terus sih. #cambukdirisendiri

Di sebuah pagi di hari ketiga, saya dan kawan-kawan sudah bangun pagi. Karena memang sudah tugas dan bukan liburan leyeh-leyeh, kami bangun subuh hampir setiap hari. Sampai lelah dan bosaan diri ini bangun pagi. Hehe. Kali ini saya mau berburu mau cenderawasih di Desa Sawinggrai, sementara teman saya mau ke desa wisata di Desa Arborek. Burung cenderawasih kira-kira akan muncul pukul 6 hingga 7 pagi. Jadi, jangan sampai kesiangan.


Begitu sampai di dermaga Desa Sawinggrai, saya disambut Albert yang menjadi pemandu saya. Tanpa berlama-lama, kami langsung mendaki sebuah bukit kecil. Walaupun tidak jauh (hanya sekitar 30 menit perjalanan) dan medannya tidak curam, harus hati-hati karena medannya cukup licin. Bahkan sepatu gunung pun tidak membantu. Albert yang pakai sendal jepit tampa…