Skip to main content

Harus Pakai Kerudung ke Banda Aceh? Tidak Juga (Bagian 1)

Satu tahun lalu, tepatnya bulan Juni 2015, saya pergi ke titik paling timur Indonesia yaitu Merauke. I am a lucky bastard I know. Karena sudah pernah ke sana, saya jadi punya ambisi lain yaitu ke titik paling barat Indonesia yaitu titik 0 kilomenter di Pulau Weh. Saat itu masih berupa angan-angan entah kapan. Hingga di sebuah makan pagi bersama travelmate saya, Eka.

Saya ceritain dulu tentang Eka. Jadi kami memulai perjalanan kami itu ke Karimunjawa. Ternyata gaya jalan kami cocok yaitu mau susah-susahan. Setelah itu, kami banyak sekali jalan-jalan walau masih sebatas Lampung, Jawa, hingga Lombok. Kemudian saya sampai pada fase berhenti traveling karena mau fokus nabung. Eka tetap traveling, bahkan sampai jauh seperti Toraja, Bunaken, Padang. Dan dia pun berani pergi sendirian. Hebat!

Karena standar traveling Eka untuk jalan-jalan sudah naik (kayaknya doi udah agak sulit untuk dibawa ke sekitaran Jawa saja. Hahaa), saya enggak pernah ikutan. Pertemuan kami yang biasanya membahas rencana traveling selanjutnya, jadi dipenuhi agenda olahraga, makanan, dan bergosip. Haha. Sampai pada akhirnya saat saya sedang pesimis dengan rencana masa depan akibat satu kejadian yang pain in the ass sekali, Eka bilang dia mau pergi ke Aceh. What? Waw. Kok kebetulan sekali. Maka saya pun langsung mengiyakan (biasanya banyak mikir, terutama masalah duit). Bahkan kami langsung beli tiket pesawat. Oh, it is so good to become impulsive.

Kami janjian pagi dini hari di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Itu adalah kali pertama saya pergi ke terminal baru ini. Besar sekali, terlalu besar. Sampai capek jalannya. Kami berangkat pukul 06.00 naik pesawat Garuda dan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda sekitar pukul 09.00. Begitu sampai, awalnya kami mau ke pusat kota naik bus bandara Damri. Tapi ternyata tidak ada, ck. Katanya jadwal bus itu mengikuti Lion Air. Ya sudah, akhirnya kami naik taksi. Setelah ngobrol, kami memilih booking untuk jalan-jalan keliling kota sampai sore. Setelah negosiasi, kami dapat Rp300.000. Yasudahlah, jadi enggak usah mikir harus naik labi-labi (angkutan kota) dan rutenya kan. Dapat informasi dari supir yang bertindak sebagai pemandu pulak.

Pertama, kami dibawa ke kuburan masal Siron. Kata Sofyan, pemandu kami, ada 40.000 korban tsunami yang dikuburkan di sini. Saat saya datang, yang saya lihat hanya tanah lapang dengan rerumputan. Saya tanya mana kuburannya. Sofyan bilang, "Lho, semua lapangan rerumputan ini adalah kuburannya." Dang! Luas amat! Jadi tanah ini adalah tanah warga yang diwakafkan untuk kuburan karena terlalu banyak mayat di kota dan sudah sangat berbau. Dan saking banyaknya, mayat-mayat tersebut diturunkan dengan excavator. Ya ampun. :(

Di sebelah kiri mereka itu adalah kuburan masal.

Kemudian kami dibawa ke replika Rumoh Aceh yang biasa aja dan mengingatkan pada anjungan di Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin hal yang menarik adalah adanya lonceng dekat anjungan ini. Pada abad ke-15, Laksamana Ceng Ho memberikan Cakra Dosai (lonceng) kepada Sultan Pasai yang saat itu memerintah Aceh. Dan di sini juga ada nisan raja-raja Aceh keturunan Bugis.

Setelah puas, kami pergi ke Makam Sultan Iskandar Muda. Ini adalah salah satu wisata wajib kunjung saat berada di Banda Aceh. Sultan Iskandar Muda adalah sultan yang pernah memerintah Aceh saat sedang jaya-jayanya. Enggak heran namanya dijadikan nama bandara ya.

Makam Sultan Iskandar Muda yang penuh kaligrafi.
Sepertinya sultan ini adalah pemimpin yang konsisten dan dihargai oleh masyarakatnya. Ada sebuah fakta menarik. Jadi dia punya anak yang bernama Pocut Meurah yang tidak dikuburkan dekat dengannya. Ia dikuburkan terpisahdari bapaknya karena ia pernah dihukum karena ikutan taruhan pacuan kuda (yang mana ini bertentangan dengan aturan Islam). Pocut Meurah dikuburkan di Kerkhoff atau kuburan militer Belanda yang letaknya di sebelah Museum Tsunami.

Kuburan Belanda hampir ada di setiap wilayah di Indonesia, salah satunya Aceh. Kuburan ini juga kena dampak tsunami yaitu ada sekitar 50 salib yang hilang akibat tsunami. Sofyan bilang bahwa masih ada orang Belanda yang datang untuk melihat sanak saudaranya. Dan saya agak terkejut juga bahwa saya bebas masuk ke sini. Berbeda dengan kuburan Belanda yang ada di Bandung, kita harus mengantongi surat izin atau bukti silsilah keluarga untuk bisa masuk. Ckck.

Menuju dinding Kerkhoff yang penuh dengan nama.
Karena kami datang di hari Jumat, jadinya kami didrop oleh Sofyan di pasar. Karena Banda Aceh terkenal dengan aturan Islamnya, jadi toko-toko di sini tutup saat shalat Jumat, berbeda dengan toko-toko yang ada di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Meski yang pria salat Jumat, toko-toko masih beroperasi. Dan kata Sofyan, di sini ada polisi syariah yang mencatat nama kita kalau tidak Jumatan. Jadi, ini bisa jadi catatan ya untuk kalian yang mau pergi ke Banda Aceh di hari Jumat karena kota akan sepi.

Sambil menunggu, kami makan mi caluk (dibaca dengan logat Aceh seperti "caluak") yang ditemukan di pinggir jalan dekat pasar. Makanan ini berupa mi kuning agak tebal, disiram bumbu pecel, dan dicampur dengan daun singkong. Yah, ngarep banget pakai daun ganja. Wakakak. Btw, mi ini rasanya enak. Seporsi murah saja yaitu Rp6.000.

Mi caluk khas Aceh.
Ibu penjual mi caluk yang senang dapat pengunjung dari Bandung.

Sofyan bilang ia akan jemput kami setelah Jumatan. Setelah kami janjian, rupanya ia parkir di dekat Masjid Baiturrahman. Wah, kebetulan, kami juga mau salat. Saat masih di parkiran, Sofyan bertanya apa saya bawa syal atau kerudung atau tidak. Untunya saya bawa dan dia meminta saya untuk menutupi kepala. Oh, ini dia, salah satu alasan orang merasa segan datang ke Aceh.

Aceh terkenal sebagai Serambi Mekah. Dulu, sebelum naik haji, orang-orang harus pergi ke Aceh dulu untuk melakukan manasik atau peragaan sebelum melakukan ibadah haji (yang kini dilakukan di Pondok Gede, Jakarta). Hingga kini, Aceh dikenal dengan provinsi yang menetapkan aturan Islam dalam keseharian. Oleh karena itu, hampir seluruh wanitanya yang ras Melayu mengenakan kerudung. Ini yang ditakutkan oleh teman-teman Melayu saya yang tidak berkerudung. Takut dipandang aneh atau dimarahi mungkin. Tapi saya melenggang kangkung di tempat-tempat wisata tanpa mengenakan kerudung, mereka sih tidak masalah. Tidak ada pandangan aneh. Yang penting sopan dan menghargai seperti tidak pakai baju tanpa lengan atau celana pendek.

Cuman, untuk pergi ke Masjid Baiturrahman, mengenakan kerudung adalah kewajiban. Bahkan kata pengemudi becak, kalau tidak berkerudung ya tidak boleh masuk. Wanita yang memakai celana panjang pun dilarang. Mereka harus memakai rok. Untuk turis seperti saya dan Eka yang saat itu mengenakan celana panjang, pihak masjid menyediakan bawahan mukena yang pos satpam untuk kami pakai. Sayangnya kain tersebut terbuat dari bahan parasut warna-warni yang tidak indah. Kalau Banda Aceh mau jadi kota tujuan wisata, sebaiknya pakai kain tradisional seperti batik yang umumnya ditemui kalau kita masuk ke pura.

Oke, setelah bebersih diri, akhirnya saya dan Eka masih ke dalam masjid. Wah, bagus sekali masjidnya. Penuh dengan pilar putih. Sayang sekali saat itu sedang ada renovasi di pelataran masjid sehingga kami tidak bisa foto karena suasananya tidak dapat. Saat tsunami menerjang tahun 2004 lalu, pelataran ini penuh dengan mayat dan sampah, tapi masjidnya berdiri kokoh.

Interior Masjid Baiturrahman, Banda Aceh.


Setelah salat, kami makan mi Aceh yang langsung di tempatnya. Kami pergi Mi Razali yang terkenal dan dekat dengan masjid. Saya pesan mi kuah cumi. Begitu dimakan, wah enaaak. Cuminya besar-besar, bukan hanya sekedar pelengkap. Kuahnya tampak kental, tapi dimakan tidak terlalu tebal, jadinya tidak bikin eneg. Sebenarnya di Jakarta ada beberapa mi Aceh yang juga enak seperti Mi Seulawah di Bendungan Hili dan Mi Aceh Bang Iwan di daerah Setiabudi.

Mantap kan cuminyaa?

Kalau orang berpikir tentang Aceh, biasanya mereka berpikir tentang ganja. Mana ganjanyaaa? Katanya ada indomie campur ganja, atau kopi ganja, atau kita bisa enggak makan ganja layaknya kita ngegado daun singkong? Well, guys, saya sudah tanya ke Sofyan, jadi penjelasan dia adalah di sini ganja sudah dicampur sebagai bumbu, jadi bentuknya sudah halus dan tinggal dicampur. Bukan sedaun-daunnya dimasukkin. Begitu. Maaf ye kecewa.

Sorenya, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyebrang ke Pulau Weh. Tampak susah ya untuk dibaca, padahal tinggal bilang Pelabuhan Ulele. Kami mengejar kapal pukul 16.00 dan naik kapal cepat selama 45 menit. Petualangan di Pulau Weh akan ditulis di-part selanjutnya. Tunggu yaaa..

Comments

Eka Handayani said…
Woooow... Kisahku diceritakaaan ihiyyyy.... Thanx nia.. selalu senang baca blogmu
Nia Janiar said…
Wekekeke... sama-samaa~

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…