Luka-Luka Lama (Bagian 3)

Terbayang enggak jika sudah berencana ingin melakukan sesuatu di suatu hari kemudian rencana tersebut kandas total akibat suatu bencana? Jangankan rencana satu hari, barangkali rencana seumur hidup pun berubah. Di sebuah pagi di bulan Desember 2004, tsunami melanda Aceh dan menghancurkan semuanya. Bangunan, mimpi, rencana, dan harapan.

Dua belas tahun kemudian, tepatnya awal bulan Agustus lalu, saya dan Eka menyaksikan peninggalan-peninggalan yang tersisa dari tsunami. Pertama, kami berkunjung ke Museum Tsunami yang letaknya di pusat kota. Arsitektur museum dirancang oleh Ridwan Kamil, kini walikota Bandung, yang tampak sangat modern dibandingkan bangunan di sekitarnya.

Kami tidak perlu bayar untuk masuk museum alias gratis. Walah, kok gratis sih? Padahal bayar saja untuk memajukan ekonomi setempat. Kami masuk ke sebuah lorong yang gelap, basah karena di kedua sisi lorong terdapat air terjun, bergemuruh, dan berangin yang berasa dari kipas angin. Lorong tersebut merupakan simulasi dari peristiwa tsunami saat itu. Saat mau masuk, Eka sudah takut duluan. Ya kebayang sih, pasti akan menakutkan jika jalan sendirian.

Keluar dari lorong, kami berada di sebuah ruangan besar berwarna kelabu. Setiap sisinya terdapat kaca. Di tengah-tengah ruangan terdapat banyak monitor berisi foto-foto dokumentasi peristiwa tsunami. Setelah puas melihat-lihat, kami masuk ke Sumur Doa. Ini adalah sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang atasnya berbentuk kubah berwarna hitam. Tepat di bagian tengah kubah, terdapat nama Allah dalam bahasa Arab. Di sekeliling ruangan terdapat nama-nama korban tsunami. Ruangan pun diisi dengan suara orang sedang mengaji. Suasananya begitu magis sekaligus bikin sedih. :(

Bagian dalam sumur doa. Kenapa gitu dah posenya.



Museum ini begitu besar. Di lantai dua terdapat ruangan pameran barang-barang yang hancur akibat tsunami, penjelasan dan maket bagaimana tsunami bisa terjadi, serta profil negara-negara yang membantu Aceh pasca tsunami. Selain itu, terdapat ruang audiovisual yang menampilkan video dokumentasi dengan durasi 10 menit saat tsunami terjadi. Begitu nonton, seorang ibu di belakang saya terisak-isak.

Setelah dari museum tsunami, kami pergi ke PLTD Apung. Jadi, pembangkit listrik tenaga diesel yang beratnya 2.600 ton ini tergeser ombak tsunami sampai ke pemukiman warga. Wogh, kapal berat aja tergeser, gimana manusia? Anjrit, serem. Mulanya ia bersandar di dermaga, kemudian ia tergeser dua kali sampai ke tempatnya sekarang.

PLTD Apung
Di bagian dalam kapal ini tidak mengalami kerusakan. Bahkan katanya fungsinya sebagai pembangkit listrik pun tidak rusak. Tapi pemerintah memutuskan untuk menjadikan ini sebagai tempat wisata saja. Di bagian dalam jadi museum yang penuh dengan gambar dan video tentang tsunami dan bagaimana kapal ini bisa sampai di situ. Dan di sisi barat kapal terdapat puing rumah warga yang hancur akibat kena kapal.

Selain PLTD Apung, juga terdapat kapal nelayan yang ada di atas rumah di daerah Lampulo. Dulu ada sekitar 50 orang warga yang berada di dalam kapal saat tsunami berlangsung. Dan syukurnya semua selamat. Jadi ingat cerita Nabi Nuh yang bikin kapal saat terjadi banjir besar ya. Semua binatang jadi selamat. :)

Kapal di atas rumah.

Rumah warga memang sudah jadi puing, tapi diperbaiki untuk kepentingan wisata. Supir bentor yang kami sewa untuk mengantarkan kami memberi tahu bahwa yang punya rumah masih hidup dan justru dia yang menjaga tempat wisata ini. Di bagian dalam rumah, terdapat foto-foto saat tsunami terjadi. Di foto tersebut ada satu sungai yang penuh dengan mayat. Kami melewati sungai tersebut saat pulang. Ah, membayangkannya saja mengerikan.

Selama kami di Banda Aceh dan menggunakan jasa warga setempat, pasti orang tersebut menceritakan kejadian tsunami saat itu. Mereka adalah orang-orang yang selamat. Bahkan, Sofyan yang menjadi pemandu kami di hari pertama, rumahnya hanya berjarak satu kilometer dari lokasi kejadian. Kota Banda Aceh lumpuh selama berbulan-bulan, warga tidur di luar karena tidak ada listrik dan takut ada gempa susulan. Jadi bantuan dari negara asing benar-benar membantu Banda Aceh kembali berdiri lagi.


Sebelum ke bandara untuk pulang, kami menyempatkan diri untuk minum di warung kopi ala abang-abang di Aceh. Oh ya, saya lupa cerita, sepanjang perjalanan di Banda Aceh itu banyak buanget kedai kopi. Kebanyakan kedainya sederhana, tidak fancy. Dari kedainya kecil, sampai yang besar seperti kedai Chek Yukee yang kami datangi kemarin. Nama tempatnya Chek Yukee itu diambil dari nama UK (yuke). UK adalah singkatan dari Ulee Kareng yang merupakan nama kopi dari Banda Aceh.

Di sini banyak laki-laki yang hangout, jadi kami cewek-cewek saat masuk semacam dilihatin. Mereka bukan anak muda fancy kayak di Bandung atau Jakarta. Tipikal orang-orang yang biasa dateng ke warung kopi. Mereka duduk-duduk dan ngobrol, bahkan ada yang main laptop. Kopitiam di Jakarta biasanya ada menu makanan. Kalau di sini engga ada, hanya kopi hitam, kopi sanger (kopi susu), dan perintilan makanan di atas seperti roti sarikaya, gorengan, dan cake sarikaya.

Menunya ya begini saja.

Sore hari, kami tiba di bandara dengan agak sulit karena kami sempat menunggu bus Damri di depan Masjid Baiturrahman. Pada hari pertama, Sofyan bilang kami bisa ke bandara naik bus dari situ. Ternyata hari Minggu, bus tidak beroperasi, sehingga kami harus sewa bentor lagi seharga Rp60.000. Catet yaa, hari Minggu bus Damri ke Jakarta tidak beroperasi!

Jadi, sekian perjalanan saya dan Eka ke Banda Aceh. Kalau kamu punya waktu banyak, saya sarankan kamu pergi ke Takengon yang berupa dataran tinggi. Di sana kamu bisa menikmati danau sambil minum Aceh Gayo. Sayangnya saya dan Eka tidak ke sana karena waktunya tidak cukup. Tapi perjalanan ke Banda Aceh sendiri cukup memuaskan. Di sana kita bisa melihat sebuah hebatnya sebuah kejadian melalui cerita-cerita, melalui luka-luka yang masih tersisa.

Comments

Popular Posts