Skip to main content

Perjalanan Memaafkan

Tidak semua fase kehidupan itu berada di area senang-senang. Ada sedih, ada marah, dan ada luka. Luka-luka yang disebabkan oleh orang-orang yang barangkali tidak sengaja melakukannya. Tapi bagaimana pun, hati sudah kepalang memar dan meninggalkan bekas luka. Meski sudah tidak berdarah-darah, ingatan akan luka tersebut tetap berdatangan.

Seorang spiritualis dari Meksimo bernama Miguel Angel Ruiz, berkata, "Kita menghukum orang lain ribuan kali untuk kesalahan yang sama. Setiap kesalahan tersebut datang pada ingatanmu, kamu menghakimi mereka lagi dan menghukum mereka lagi." Membaca hal ini, saya merasa dimengerti sekali. Meski kejadian telah lama berlalu, tapi setiap ingatan tersebut datang, saya kembali menghukum mereka di ingatan.

Kesalahan mereka sulit lepas dari ingatan. Ibaratnya seperti mobil di radio yang memainkan lagu yang jelek saat dalam perjalanan ke supermarket, kemudian kamu menyadari bahwa dirimu menyenandungkan lagu tersebut saat berjalan di antara rak keju, dan kemudian masih teringat lagi saat kamu sampai di rumah dan menaruh keju di atas meja.

Beberapa tahun ke belakang, saya terus mengulang kata-kata dan tindakan orang lain yang menyakitkan di pikiran. Saya ingin memaafkan dan move on, tapi itu tidak mudah. Memaafkan tidak mudah, tapi hasilnya berharga sekali yaitu kebebasan. Kebebasan ini bukan kebebasan dari orang lain yang berbuat salah untuk lepas tanggung jawab, tapi kebebasan ini untuk diri sendiri yang bebas dari perasaan tersiksa. Kemarahan itu begitu memakan waktu dan melelahkan.



Socrates pernah bilang bahwa kunci dari perubahan adalah fokuskan semua energimu bukan untuk bertarung dengan hal-hal lama, tetapi bertarung untuk membuat hal baru. Agar tidak terobsesi dengan "musuh" tanpa nama itu, kita harus mengisi hari-hari kita dengan aktivitas yang bermakna, bekerja dengan memuaskan, dan bergaul dengan orang-orang yang penting bagi kehidupan kita. Kita harus membangun masa kini dan masa depan, bukan berkelahi dengan ingatan-ingatan di masa lalu.

Hal terpenting adalah kita harus berkomitmen untuk melakukan perjalanan memaafkan daripada menghakimi diri bahwa diri ini tidak siap untuk memaafkan. Selama kita secara tulus ingin mengembalikan keadaan mental yang damai (daripada melakukan aksi balas dendam), kita sudah berada di setengah perjalanan untuk memaafkan.

"Teman saya mengatakan bahwa memaafkan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Kita membuat keputusan untuk memaafkan. Tapi kita harus tetap memilih untuk memaafkan, terus menerus. Berlama-lama marah dan sedih bukan berarti bahwa kita tidak dalam proses untuk memaafkan, tapi itu bagian dari proses."

Amin.


Sumber: Psychology Today

Comments

Indras Tuti said…
Baru beberapa tahun terakhir, saya menyadari bahwa memaafkan bukan berarti melupakan. Saya masih bisa mengingat dan membicarakan kejadian yang dulu menyakitkan tanpa merasa marah atau terluka. pada titik itu sadar, saya sudah memaafkan. :)
Nia Janiar said…
Wiwww.. mbakikin, super sekali. Thanks for sharing! :) :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…