Skip to main content

Review Rumah Kopi Singa Tertawa

Membaca kumpulan cerpen adalah ide bagus saat keinginan baca buku sedang tidak tinggi-tingginya (baca: malas). Kumpulan cerpen itu lebih cepat kelar dan kita tidak perlu berkomitmen lama-lama untuk mendedikasikan waktu untuk mengikuti satu alur cerita di sebuah buku.

Teman saya punya buku kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom. Kebetulan, jadi saya pinjam saja. Yusi adalah penulis Raden Mandasia yang pernah saya review beberapa bulan lalu. Sebelum menerbitkan Raden Mandasia, dia menulis kumpulan cerpen ini. Sama seperti Raden Mandasia, buku ini mendapatkan apresiasi yang baik dari teman-teman saya. Hm, jadi penasaran.

Dok. Pribadi

Rumah Kopi Singa Tertawa terdiri dari 18 cerita pendek. Setiap cerita rata-rata hanya terdiri 6-7 halaman saja, jadi relatif cepat dibaca. Tema yang dikemukakan juga dekat dengan keseharian (kecuali cerita pewayangan) sehingga buku ini bisa ludes dibaca dalam satu hari saja.

Jujur saja, membaca cerpen-cerpen di buku ini tidak memberi kesan yang mendalam, seperti kesan yang berbekas sehabis membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis atau Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Eh, ketinggian enggak sih perbandingannya? :D But anywaay, membaca cerpen-cerpen Yusi hanya meninggalkan "oh" pendek, misalnya saat membaca cerpen berjudul Sengatan Gwen yang berkisah tentang seorang wanita cantik yang digandrungi oleh pria-pria di kantor. Wanita ini menemukan kenyamanan di Sam. Sam yang juga memendam perasaan merasa senang bahwa Gwen ada di sisinya. Hingga sampai pada saat Gwen main ke rumah, tidur di pangkuan Sam, dan Sam sudah tidak tahan untuk menahan hasratnya. Ia pun mencoba untuk mencium Sam. Tapi Gwen malah terkejut. Jadi, saya akan spoiler jadi sebaiknya berhenti baca di sini, di akhir cerita penulis menceritakan bahwa Sam adalah kependekan dari Samantha. Ah, bagi saya ini twist yang begitu klise alias biasa saja.

Salah satu cerita yang bikin saya diskusi dengan teman saya mungkin cerpen yang berjudul Kabut Suami. Cerpen ini berkisah tentang Rosamund yang merasa suaminya hilang. Namun anehnya, teman-temannya merasa bahwa sang suami berada di dekat Rosamund. Sang suami bernama Sulaiman, seorang koresponden berita asing dan aktivis biasa-biasa saja yang diceritakan begitu beruntung menikahi Rosamund--anak jendral yang pernah menang kontes kecantikan dengan bakat dan kecerdasan yang menonjol. Sulaiman ingin mengetes sejauh apa perasaan Rosamund dengan berubah sebagai kabut yang selalu bersamanya.

Ookay.

Berbeda dengan saya, teman saya ini tampaknya suka sekali. Hal-hal yang menurut saya "oh gitu saja?" justru berkesan dan emosinya mendalam. Misalnya untuk cerita Edelweiss Melayat ke Ciputat yang berkisah tentang mantan istri yang mengunjungi mantan suaminya karena istri barunya baru saja dibunuh. Setelah flashback mereka bercerai dan bisa ketemu dengan istri baru, lagi-lagi spoiler, mantan ini tidur dengan mantan suaminya. Menurut teman saya, cerita bahwa mereka tidur untuk terakhir kalinya itu menimbulkan kesan sedih sekali. Bagi saya, biasa saja karena saya tidak dapat emosinya.

Haduh maafkan, tampak banyak keluhan dan menjadi pembaca yang susah puas. Tapi ya kesan terhadap suatu karya setiap orang berbeda toh?

Tapi jangan salah sangka. Penceritaan Yusi tentunya tidak diragukan. Ia pandai sekali bercerita dan merangkai kata-kata sehingga enak dibaca. Penokohannya dan alurnya kuat. Kalau mau melihat karyanya, silakan baca Raden Mandasia karena ia memiliki ruang yang luas untuk eksplorasi. Walau tulisannya sederhana, terkadang ada kesan witty di tulisan-tulisannya sehingga menjadi ketertarikan tersendiri. Rumah Kopi Singa Tertawa adalah kumpulan cerita pendek yang tidak akan membuat menyesal untuk dibaca.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…